SEKRETARIS Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang, Arif Subekti, S.Pd., MA. (Foto: Istimewa)
MALANG POST- Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel kerap dipahami publik sebagai pertentangan ideologi atau agama.
Namun menurut Arif Subekti, S. Pd., M.A., dosen sekaligus Sekretaris Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM), cara pandang tersebut terlalu menyederhanakan kenyataan.
Dalam perspektif sejarah, dinamika konflik justru jauh lebih komplek. Terkait perubahan pola perang, kepentingan negara, serta relasi historis yang terus bergerak.
“Sejarah melihat apa yang terjadi dari waktu ke waktu, proses yang terus bergerak. Kalau geopolitik itu (melihat realitas) seperti papan catur,” ujar Arif.
Arif menegaskan, sejarah tidak berhenti pada “apa yang terjadi”, tetapi menyoroti bagaimana peristiwa berkembang dari masa ke masa. Ia menyebut bahwa sejarah bekerja secara diakronik, yaitu melihat perubahan sekaligus keberlanjutan dalam rangkaian peristiwa.
Pendekatan semacam ini membantu memahami konflik yang tampak mendadak, padahal sejatinya memiliki akar peristiwa dan pola hubungan yang panjang.
Dalam konteks hubungan Iran–AS–Israel, Arif menyinggung adanya perjanjian internasional seperti Non-Proliferation Treaty (NPT) yang mengatur penggunaan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Meski kerangka aturan sudah ada, perbedaan persepsi terhadap implementasi perjanjian—serta cara menafsirkan kepatuhan—menjadi salah satu pemantik ketegangan.
Dengan kata lain, konflik tidak hanya muncul dari keberadaan aturan, tetapi juga dari bagaimana aktor-aktor negara memandang dan menerapkan aturan tersebut.
Meski sejarah berpengaruh, Arif menilai faktor masa lalu bukan satu-satunya penentu konflik kontemporer. Ia mengutip gagasan Bertrand Russell yang menyatakan bahwa peristiwa besar di masa lalu memang dapat menimbulkan bayangan jauh ke depan, tetapi tidak selalu menjadi faktor utama.
“Sejarah bisa menjadi latar, tetapi yang menentukan tetap kepentingan saat ini,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa konflik merupakan hasil interaksi antara warisan sejarah dan kebutuhan strategis pada masa sekarang. Dinamika politik global berubah, kepentingan bergeser, dan aktor negara merespons situasi terkini—meskipun jejak sejarah tetap terlihat.
Arif juga mengaitkan pembacaan sejarah dengan konteks Indonesia, terutama pentingnya sikap tegas dalam menjaga kedaulatan dan prinsip dalam hubungan internasional.
“Indonesia punya prinsip dan kewibawaan. Itu yang penting dalam melihat konflik global,” katanya.
Melalui perspektif sejarah, konflik Iran, AS, dan Israel tidak layak dipahami sebagai narasi hitam-putih. Ia adalah fenomena yang berlapis, dinamis, dan dipengaruhi berbagai faktor yang saling terkait.
Dalam pandangan Arif, pendekatan ini penting agar masyarakat dapat memahami isu global secara lebih utuh—tanpa terjebak pada penyederhanaan yang berpotensi menimbulkan bias. Memahami sejarah, baginya, berarti melihat proses, bukan sekadar mengambil kesimpulan instan. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




