Malang Post – Terduga pelaku pembunuh seorang ibu berinisial L (33), warga di Desa Lebakharjo, Kecamatan Amplegading, ditemukan tewas gantung diri, pada Selasa (31/1) kemarin.
Terduga pelaku berinisial S ini, ditemukan gantung diri di area perkebunan yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.
S ini merupakan terduga pelaku pembunuh L, dihadapan anak korban di Desa Lebakharjo, Kecamatan Amplegading, Ahad (19/12/2022) silam.
Kepala Desa Lebakharjo Sumarno mengatakan, S ditemukan tewas gantung diri, dengan menggunakan tali biru yang diduga diambil dari salah satu jemuran warga, di perkebunan di belakang rumahnya.
“Lokasinya itu sekitar 70 meter di kebun belakang rumahnya, karena memang di belakang rumahnya hutan,” ucapnya, saat dihubungi awak media.
Menurut Sumarnoe, S ini merupakan buronan polisi dan berkali-kali gagal ditangkap karena kasus dugaan pembunuhan. S diduga bersembunyi di tengah hutan desa setempat.
“Beberapa kali S hampir tertangkap, tapi selalu lolos. Pernah hampir tertangkap di sekolahan, tapi lolos. Karena memang orang ngarit juga tahu, kalau dia berada di sana tapi saat mau digrebek lolos. Karena memang medannya terjal dan naik bukit,” tukasnya.
Sementara dalam kasus itu sendiri, hingga saat ini membuat anak-anak korban mengalami trauma. Apalagi terduga pelaku berinisial S (30) tersebut, melakukan aksi pembunuhan di depan anak-anak korban yang masih kecil.
“Jadi korban ini anaknya berjumlah tiga orang. Tapi yang ada di TKP dan melihat langsung peristiwa itu dua anak, yakni AL (1) berjenis kelamin perempuan dan DF (8) berjenis kelamin laki-laki,” ucap Kasatreskrim Polres Malang, Iptu Wahyu Rizki Saputro, Kamis (2/2/23).
Menurut Wahyu, saat peristiwa itu anak pertama korban berinisial GT (19) tidak ada di rumah dan sedang bekerja di Kabupaten Lumajang.
Akibat peristiwa itu, hingga saat ini anak korban berinisial DF sering merenung dan kerap merasa ketakutan.
“Tidak hanya anak-anaknya, suami sah korban, Ngadilan juga mengalami dampak psikologis, dan kerap menolak saat diajak berbicara,” jelasnya. Untuk itu, lanjut Wahyu, jajaran Polres Malang terus melakukan pendampingan psikologis secara rutin kepada keluarga, khususnya anak-anak korban.
“Alhamdulillah, saat ini mulai membaik. Tapi pendampingan psikologis ini akan terus kami lakukan sampai mereka pulih 100 persen,” jelasnya.
Selain itu, tambah Wahyu, pendampingan psikologis juga dilakukan kepada warga setempat sekaligus kepada siswa Sekolah Dasar yang pertama kali menemukan jenazah tersangka yang ditemukan gantung diri, Rabu (1/2/2023) kemarin.
“Kami juga melakukan pendampingan kepada warga setempat karena selama S melarikan diri di hutan setempat, warga juga mengalami ketakutan,” tegasnya. (Ra Indrata).




