Kepala Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang, Dr. Anwar Sidarta, S.Si., M.Si. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Kepala BBPPMPV BOE Malang Dr. Anwar Sidarta menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi guru SMK, melalui penguatan pelatihan dan magang industri guna menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sekaligus memastikan lulusan vokasi kian terserap di dunia kerja nasional maupun internasional.
Kualitas lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ditentukan oleh siapa yang berdiri di depan kelas. Persentasenya tidak main-main. Guru memegang peran hingga lebih dari 60 persen dalam membentuk kompetensi dan kesiapan kerja para siswa.
Rumus itulah yang dipegang teguh oleh Kepala Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang, Dr. Anwar Sidarta, S.Si., M.Si.
Anwar optimistis, penyerapan tenaga kerja lulusan vokasi di Indonesia akan terus menunjukkan tren positif. Keyakinan itu bukan tanpa alasan. Data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk lulusan SMK tercatat terus menurun saban tahun. Dunia industri kian terbuka menerima karya anak-anak SMK.
“Sangat optimistis. Trennya semakin membaik. Penerimaan dunia kerja terhadap lulusan SMK dari hari ke hari semakin bagus,” kata Anwar usai membuka Forum Konsultasi Publik (FKP) di kampus BOE Malang.
Untuk menjaga tren positif tersebut, BOE Malang terus menggembleng para pendidik. Guru-guru SMK tidak hanya dilatih di dalam laboratorium kampus BOE, tetapi juga diterjunkan langsung untuk magang di lini produksi industri.
Tak berhenti di situ. Setelah pelatihan selesai, BOE Malang menerjunkan tim untuk melakukan pendampingan di sekolah masing-masing.
“Kami pastikan ilmu dan keahlian yang didapat dari industri benar-benar ditransfer kepada para siswa. Dengan begitu, kita melahirkan lulusan vokasi yang siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” tegas Anwar.
Sebagai Balai Besar di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, BOE Malang memikul tanggung jawab besar. Ada enam bidang keahlian utama yang dikembangkan: otomotif, elektronika, mesin, bangunan, teknologi informasi, hingga manajemen vokasi.
Sesuai nomenklatur, otomotif dan elektronika tetap menjadi menu utama. Namun, BOE Malang juga melakukan terobosan dengan melatih guru-guru mata pelajaran umum seperti Matematika, Bahasa Inggris, dan IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial).
Gaya pengajarannya diubah total. Matematika dan Bahasa Inggris tidak lagi diajarkan secara teoritis kaku, melainkan dikemas menjadi mata pelajaran terapan yang terintegrasi langsung dengan praktik kejuruan.
Bagi masyarakat umum, BOE Malang juga membuka ruang kolaborasi yang luas. Tersedia program pelatihan berbasis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di mana peserta bisa membiayai pelatihannya secara mandiri. Fasilitas kampus juga disewakan untuk publik dengan penetapan tarif resmi dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).
Mengingat wilayah kerja BOE Malang yang membentang sangat luas hingga mencakup 11 provinsi, ketersediaan kuota anggaran pemerintah kerap menjadi ganjalan. Tingginya minat guru yang ingin menimba ilmu di BOE Malang merangsang lahirnya inovasi baru.
BOE Malang akhirnya mengobati keterbatasan kuota itu dengan meluncurkan program pelatihan daring (online).
“Banyak guru yang ingin ikut pelatihan di BOE, tapi anggaran pemerintah terbatas. Maka kami buka pelatihan secara daring untuk materi-materi teoritis dan kompetensi ringan. Inovasi ini membuat jangkauan layanan kami makin luas,” ujar Anwar.
Hasilnya nyata. Berdasarkan survei kepuasan pelanggan yang digelar berkala setiap triwulan, BOE Malang mencatatkan rapor sangat baik dari seluruh pemangku kepentingan. (Ra Indrata)




