CEO Arema FC, Iwan Budianto. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – CEO Arema FC Iwan Budianto meminta publik dan suporter untuk tidak terburu-buru menghakimi performa Singo Edan, di ajang pramusim Piala Presiden 2026, lantaran turnamen ini diposisikan sebagai wadah penyelarasan chemistry dan kebugaran fisik pemain sebelum terjun ke kompetisi resmi.
Laga perdana Arema FC di ajang pramusim Piala Presiden 2026, belum bisa dijadikan cermin utuh. Performanya belum bisa menggambarkan kekuatan asli Singo Edan yang sesungguhnya.
Waktu persiapan kelewat mepet. Bensin kencang belum terisi penuh. Kebugaran fisik masih bervariasi, ditambah urusan chemistry antar-pemain yang masih dalam tahap disetel.
CEO Arema FC, Iwan Budianto, angkat bicara. Pria yang akrab disapa IB itu menegaskan, Piala Presiden sejak awal memang diposisikan sebagai wadah penyelarasan tim, sebelum melangkah ke kompetisi resmi yang sesungguhnya.
“Ini bukan awal musim, tetapi masih pre-season. Jadi jangan berekspektasi terlalu berlebihan. Sejak awal sudah saya sampaikan, turnamen ini bagian dari program penyelarasan. Seperti kata Pak Inal (General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi), juara tentu jadi bonus, tapi yang utama membentuk tim yang siap,” ujar IB.
Soal kondisi fisik, IB membeberkan fakta lapangan. Masa istirahat liburan dan waktu mulai latihan yang berbeda-beda, membuat tingkat ketersediaan fisik pemain tak merata.
“Hampir sebagian besar pemain belum berada pada level fitness yang optimal. Ada yang baru 40 sampai 50 persen, ada yang 60, 70, atau 80 persen. Kondisi itu pasti memengaruhi performa tim di lapangan,” paparnya.
Faktor adaptasi pemain baru juga menjadi perhatian. Pelatih Marcos Santos sengaja memutar otak dengan memberikan menit bermain secara bertahap, demi menemukan formula dan perpaduan yang pas.
“Kenapa pemain baru dicoba di babak kedua? Karena memang chemistry-nya belum terbentuk optimal. Mereka masih dalam tahap saling memahami. Understanding each other itu vital dalam sepak bola. Tunggu saja, Insya Allah segera membaik,” tambah IB.
Bagi manajemen, Piala Presiden adalah laboratorium evaluasi. Belajar dari musim lalu, bongkar pasang amunisi sangat mungkin kembali terjadi jika ditemukan celah di beberapa posisi.
“Kalau melihat musim lalu, setelah Piala Presiden kita evaluasi lalu merekrut Betinho. Artinya, pre-season dibuat untuk melihat apakah masih perlu mengubah struktur tim atau menambah kebutuhan lain,” terangnya.
Lantas, bagaimana dengan nasib pelatih Marcos Santos? IB menepis tegas isu liar. Menurutnya, sangat kekanak-kanakan menilai nasib pelatih hanya berdasarkan hasil di turnamen pemanasan.
“Evaluasi pasti ada, tapi menyeluruh, bukan personal. Tidak secepat itu. Masa hanya gara-gara turnamen pramusim langsung mengevaluasi, apalagi sampai memberhentikan pelatih,” tegas IB.
Lagipula, materi pemain baru berkumpul penuh hitungan hari. Pemain lokal baru latihan dua pekan, sementara legiun asing baru mendarat sepekan sebelum peluit pertama dibunyikan.
“Mereka baru kumpul sebentar, lalu langsung dimainkan sebagai tim dan dihakimi. Tentu itu tidak adil,” tuturnya.
Apalagi, lawan yang dihadapi di laga pertama bukanlah tim sembarangan. Mereka berlaga di kandang musuh yang berstatus jawara kompetisi tiga kali beruntun.
“Lawan kita juara tiga kali berturut-turut, main di kandangnya sendiri, di depan pendukungnya. Bukan hal mudah. Jadi mari lebih sabar menunggu racikan pelatih,” pungkas IB. (Ra Indrata)




