Prof. Dr. Ir. Sugiono, S.T., M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. (Foto: Sukana Humas UB)
MALANG POST – Peneliti Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan bilik toilet modular berbahan dasar sampah plastik sebagai bagian dari upaya mendukung program Green Campus dan pengelolaan limbah ramah lingkungan.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Prof. Sugiono, S.T., M.T., Ph.D., Ketua Departemen Teknik Industri Program Studi Sarjana Teknik Industri UB, bersama tim peneliti dan mahasiswa.
Toilet modular ini memanfaatkan cacahan sampah plastik sebagai salah satu bahan baku utama dalam pembuatan bodi. Sampah plastik yang telah dicacah kemudian dicampur dengan resin dan dicetak menjadi struktur toilet yang kuat serta dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan fasilitas umum.
Prof. Sugiono menjelaskan bahwa konsep toilet modular dipilih karena lebih fleksibel dan mudah dipindahkan sesuai kebutuhan. Toilet tersebut dirancang agar dapat digunakan pada berbagai kegiatan publik seperti event olahraga, kawasan wisata, hingga fasilitas sementara di ruang terbuka.
“Toilet modular itu artinya bisa dipisah-pisah sebenarnya. Jadi lebih fleksibel dan bisa digunakan sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar Prof. Sugiono.
Ia mengatakan bahwa dalam satu unit toilet modular, sekitar 40 kg cacahan sampah plastik dimanfaatkan sebagai bahan campuran pada bagian bodi toilet. Inovasi tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan nilai guna limbah plastik yang selama ini hanya berakhir sebagai sampah.
Selain memanfaatkan bahan daur ulang, toilet modular tersebut juga dirancang menggunakan konsep ramah lingkungan dengan dukungan energi terbarukan. Pada area prototipe, UB memanfaatkan solar cell sebagai sumber energi untuk lampu penerangan di sekitar toilet dan kawasan taman.
“Karena kita ingin men-support UB Green Campus, jadi energinya juga memanfaatkan solar cell untuk penerangan di kawasan itu,” jelasnya.

PORTABLE: Tahapan pembagunan bilik toilet berbahan olahan daur ulang plastik di laboraturium Ngijo/Techno Park II (Foto: Sukana Humas UB)
Saat ini, prototipe toilet modular tengah dipasang di kawasan sains dan technopark UB di Ngijo sebagai bagian dari tahap pengujian dan evaluasi produk. Menurut Prof. Sugiono, tahap prototipe sangat penting untuk mengetahui berbagai kekurangan produk sebelum nantinya digunakan secara lebih luas oleh masyarakat maupun mitra industri.
Ia mengungkapkan bahwa proses pengembangan toilet modular masih terus dilakukan, termasuk penyempurnaan pada desain, struktur, hingga kualitas hasil cetakan. Tim peneliti juga melakukan evaluasi terhadap aspek kenyamanan dan keamanan produk agar memenuhi standar penggunaan fasilitas umum.
“Prototype pasti ada evaluasinya. Misalnya corner-nya kurang halus atau ada bagian yang perlu diperbaiki, itu terus kita evaluasi sebelum diproduksi lebih luas,” katanya.
Selain itu, UB juga masih melakukan pengujian terkait aspek kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 untuk memastikan material hasil daur ulang aman digunakan masyarakat. Pengujian tersebut meliputi kemungkinan bau, tingkat keamanan bahan, hingga kualitas material setelah dicampur resin dan digunakan dalam jangka panjang.
Menurut Prof. Sugiono, pengembangan toilet modular berbahan sampah plastik tidak hanya berorientasi pada inovasi teknologi semata, tetapi juga bagaimana hasil riset kampus dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ia menilai fasilitas sanitasi merupakan kebutuhan penting yang selalu dibutuhkan dalam berbagai kegiatan publik.
“Produk yang kita kembangkan memang harus benar-benar dibutuhkan masyarakat. Toilet ini salah satunya karena bisa digunakan untuk event, kawasan wisata, maupun fasilitas umum lainnya,” ujarnya.
Dari sisi biaya produksi, toilet modular berbahan sampah plastik tersebut juga dinilai lebih kompetitif dibanding produk serupa di pasaran. Jika produk existing memiliki harga yang cukup tinggi, UB mencoba menghadirkan alternatif yang lebih terjangkau tanpa mengurangi kualitas produk.
Prof. Sugiono menambahkan bahwa inovasi tersebut diharapkan tidak berhenti hanya sebagai produk riset atau pameran kampus semata, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan secara luas sebagai solusi pengelolaan sampah plastik sekaligus penyediaan fasilitas sanitasi ramah lingkungan.
“Yang paling penting adalah bagaimana inovasi ini tidak berhenti sebagai pajangan atau pameran saja, tetapi benar-benar bisa digunakan masyarakat dan memberikan manfaat nyata,” kata Prof. Sugiono.
Ke depan, UB berharap pengembangan toilet modular berbahan sampah plastik tersebut dapat menjadi salah satu contoh implementasi konsep circular economy di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Melalui inovasi tersebut, UB ingin menunjukkan bahwa limbah plastik yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk yang fungsional, bernilai ekonomi, dan mendukung keberlanjutan lingkungan. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




