MALANG POST – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian ekosistem pesisir. Kali ini melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Kelompok Masyarakat Pesisir dalam Rehabilitasi Mangrove Berkelanjutan di Kawasan Mangrove Pancer Cengkrong, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.”
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan melalui pendekatan partisipatif yang mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi.
Kegiatan dipimpin oleh Agus Dwi Sulistyono, S.Si., M.Si., bersama tim dosen FPIK UB yang terdiri atas Prof. Dr. Ir. Edi Susilo, M.S., Wahyu Handayani, S.Pi., MBA., M.P., Dr. Ir. Anthon Efani, M.P., Dr. Zainal Abidin, S.Pi., MBA., M.P., Mariyana Sari, S.Pi., M.P., Wildan Al Farizi, S.E., M.Ling., dan Lina Asmara Wati, S.Pi., M.P., M.B.A. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa Universitas Brawijaya sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Dekan I FPIK UB, Riski Agung Lestariadi, S.Pi., M.P., Ph.D., serta Ketua Departemen Sosial Ekonomi Perikanan dan Kelautan (SEPK), Dr. Tiwi Nurjannati Utami, S.Pi., M.M. Kehadiran pimpinan fakultas dan departemen menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat pesisir serta pengelolaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Riski Agung Lestariadi, S.Pi., M.P., Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Ke depannya, diharapkan sinergi antara Universitas Brawijaya, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat terus terjalin secara berkelanjutan.
“Universitas tidak hanya berperan menghasilkan ilmu pengetahuan, tetapi juga berkewajiban memastikan bahwa ilmu tersebut dapat diterapkan untuk menjawab berbagai permasalahan di masyarakat. Melalui kegiatan pengabdian ini, kami berharap terjadi transfer pengetahuan dan teknologi yang mampu memperkuat kapasitas masyarakat dalam menjaga ekosistem mangrove sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujar Riski.
Sementara itu, Dr. Tiwi Nurjannati Utami, S.Pi., M.M., menekankan bahwa keberhasilan konservasi mangrove tidak hanya ditentukan oleh aspek ekologis, tetapi juga oleh keterlibatan masyarakat dan penguatan kelembagaan lokal.
“Keberlanjutan pengelolaan mangrove sangat bergantung pada pemberdayaan masyarakat sebagai aktor utama. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini menjadi sangat penting karena mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam satu pendekatan yang komprehensif. Kami berharap masyarakat semakin percaya diri dalam mengelola kawasan mangrove sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi sekarang maupun yang akan datang,” ungkap Tiwi.

Dalam kegiatan ini, FPIK UB memberikan penyuluhan mengenai pentingnya ekosistem mangrove, pelatihan teknik rehabilitasi mangrove berbasis kesesuaian lahan, praktik lapangan, serta pendampingan penyusunan mekanisme monitoring rehabilitasi yang dapat dilaksanakan secara mandiri oleh masyarakat.
Ketua Tim Pengabdian, Agus Dwi Sulistyono, S.Si., M.Si., menyampaikan bahwa keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya ditentukan oleh banyaknya bibit yang ditanam, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam mengelola dan menjaga keberlanjutan ekosistem tersebut. Perguruan tinggi hadir untuk berbagi ilmu pengetahuan sekaligus mendampingi masyarakat agar upaya konservasi ini dapat terus berlanjut.
“Mangrove merupakan benteng alami kawasan pesisir yang memberikan manfaat besar bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, rehabilitasi mangrove harus dilakukan secara tepat dan berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas masyarakat sebagai pelaku utama pengelolaan kawasan,” jelas Agus.
Selama kegiatan berlangsung, peserta memperoleh materi mengenai fungsi ekologis mangrove sebagai pelindung pantai dari abrasi, habitat berbagai biota perairan, penyerap karbon biru (blue carbon), serta penunjang produktivitas perikanan. Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti demonstrasi teknik penanaman mangrove yang sesuai dengan kondisi biofisik kawasan pesisir, diskusi kelompok, serta praktik rehabilitasi secara langsung di lapangan.
Ketua Pokmaswas Kejung Samudra, Imam Syaifuddin, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan pengabdian yang dinilai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir di Desa Karanggandu.
“Kami mengucapkan terima kasih karena telah berbagi pengetahuan dan mendampingi masyarakat kami. Kegiatan seperti ini sangat penting karena tidak hanya menambah wawasan mengenai rehabilitasi mangrove yang benar, tetapi juga memperkuat semangat masyarakat untuk terus menjaga kawasan Mangrove Pancer Cengkrong sebagai aset lingkungan sekaligus sumber penghidupan masyarakat,” tutur Imam Syaifuddin.
Ia berharap kerja sama antara Universitas Brawijaya, Pemerintah Desa Karanggandu, dan Pokmaswas Kejung Samudra dapat terus berlanjut melalui berbagai program pendampingan, penelitian, dan pengabdian yang mendukung konservasi pesisir serta pengembangan ekonomi masyarakat berbasis mangrove.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik dalam melaksanakan rehabilitasi mangrove sehingga pengelolaan kawasan tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi berkembang menjadi gerakan konservasi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat ekologis, sosial, maupun ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat diharapkan dapat membuat Kawasan Mangrove Pancer Cengkrong terus berkembang sebagai kawasan konservasi yang tangguh, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi contoh praktik baik pengelolaan ekosistem mangrove berbasis masyarakat di wilayah pesisir Jawa Timur. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




