SIMBOLIS: Wakil Bupati Malang mengalungkan tanda kepesertaan kepada perwakilan peserta Apel Gladi Lapang Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana Erupsi Gunung Kelud Kabupaten Malang Tahun 2026. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
MALANG POST – Wakil Bupati Malang, Hj. Lathifah Shohib, memimpin Apel Gladi Lapang Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana Erupsi Gunung Kelud Kabupaten Malang Tahun 2026, yang digelar di Lapangan Golf Bendungan Selorejo, Kecamatan Ngantang, pada Rabu (8/7/2026) pagi. Latihan taktis ini digelar oleh BPBD Kabupaten Malang bersama BNPB guna menguji kesiapan sistem komando, jalur evakuasi, dan mobilisasi logistik bagi masyarakat terdampak.
Urusan bencana alam itu tidak bisa ditebak kapan datangnya. Datangnya sering tiba-tiba. Maka, bersiap diri saat kondisi aman adalah jalan tunggal yang harus diambil. Menghadapi potensi amukan vulkanik, prinsipnya cuma satu: lebih baik mandi keringat di lapangan latihan daripada mandi air mata saat bencana benar-benar melanda.
Prinsip itu yang ditekankan oleh Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, Rabu (8/7/2026) pagi ini. Tokoh yang akrab disapa Bu Nyai Lathifah itu berdiri di Lapangan Golf Bendungan Selorejo, Kecamatan Ngantang. Dia bertindak sebagai Pembina Apel Gladi Lapang Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana Erupsi Gunung Kelud Kabupaten Malang Tahun 2026.
Bagi Lathifah, urusan kesiapsiagaan itu tidak ada gunanya kalau cuma indah di atas kertas dokumen perencanaan. Teori harus dipraktikkan. Mental bertanding harus diasah lewat latihan yang mendekati realitas di lapangan.
Dalam apel pagi itu, Lathifah menyematkan tanda peserta pelatihan secara simbolis. Paket bantuan logistik untuk lima desa juga diserahkan. Isinya mulai dari tenda keluarga, masker medis (medical facemask), hingga matras tidur.
Tidak sendirian, Lathifah ditemani oleh Plt. Deputi Bidang Pencegahan BNPB Pangarso Suryotomo, Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto, dan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang Purwoto. Bersama-sama, mereka berdiri di pinggir lapangan menyaksikan langsung demo simulasi penanganan darurat untuk warga terdampak erupsi.
“Apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada BPBD Kabupaten Malang beserta seluruh instansi yang telah mempersiapkan kegiatan ini dengan baik. Gladi lapang ini merupakan tindak lanjut dari Table Top Exercise (TTX) yang telah dilaksanakan sebelumnya,” kata Lathifah.
Kabupaten Malang ini memang daerah yang dikepung potensi bencana. Komplet. Mulai dari gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem. Belum lagi urusan perut bumi: aktivitas vulkanik Gunung Kelud yang sejarahnya kerap membuat repot.

DUKUNGAN: Wakil Bupati Lathifah, saat menyerahkan bantuan logistik untuk lima desa dari Pemkab Malang. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
Dari rentetan sejarah bencana itu, Lathifah mengambil satu pelajaran penting. Kunci keberhasilan penanganan darurat itu cuma ada tiga: kecepatan, ketepatan koordinasi, dan satu komando yang jelas. Tidak boleh ada banyak kapten dalam satu kapal yang sedang oleng.
Gladi lapang di Selorejo ini dirancang mutakhir. Bukan sekadar baris-berbaris atau rutinitas tahunan. Semua lini dibongkar dan diuji. Mulai dari bagaimana informasi awal diterima, cara mengambil keputusan cepat, koordinasi lintas sektor, mobilisasi pasukan dan alat, pengelolaan posko, hingga urusan evakuasi, dapur umum, komunikasi, dan pemulihan awal.
Lathifah meminta seluruh peserta—mulai dari relawan, aparat keamanan, hingga tenaga kesehatan—untuk serius. Anggap latihan ini sebagai kondisi riil. Jadi, kalau sewaktu-waktu Kelud bergejolak, semua orang sudah tahu harus lari ke mana dan berbuat apa. Prosedurnya sudah di luar kepala.
Lathifah juga melempar peringatan keras kepada ego sektoral yang sering menjangkiti instansi pemerintahan saat penanganan darurat.
“Jangan sampai ego sektoral menghambat proses penanganan darurat. Dalam situasi bencana, yang dibutuhkan adalah kerja sama, komunikasi yang efektif, serta keputusan yang cepat dan tepat,” tegas Bu Nyai Lathifah.
Penanggulangan bencana itu urusan kemanusiaan. Pemerintah tidak akan sanggup berjalan sendiri tanpa sokongan masyarakat dan para relawan di garis depan. Budaya sadar bencana harus masuk ke ruang-ruang keluarga.
Apel ditutup. Simulasi selesai. Namun, pekerjaan rumah yang sesungguhnya baru dimulai: bagaimana menjadikan latihan hari ini sebagai budaya kerja yang melekat di setiap instansi dan menjadi napas hidup masyarakat Kabupaten Malang. (PKP/Ra Indrata)




