DARI KIRI: Syahrul Trisna Fadillah, Muhammad Adi Satryo, Erlangga Setyo Dwi Saputra dan Gianluca Claudio Pandeynuwu. Empat kiper lokal rasa timnas yang bakal memperkuat Arema FC di Super League 2026/2027. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Manajemen Arema FC resmi mengakhiri era penggunaan penjaga gawang asing dan beralih mempercayakan penuh mistar gawang kepada kuartet kiper lokal murni, untuk mengarungi kompetisi Super League 2026/2027 di Malang, Minggu (28/6/2026). Langkah taktis merombak strategi pertahanan ini dipastikan, setelah General Manager Yusrinal Fitriandi merampungkan perekrutan Erlangga Setyo Dwi Saputra dan Syahrul Trisna Fadillah, guna melengkapi slot pertahanan yang sebelumnya diisi oleh barisan legiun impor.
Sepak bola itu dinamis. Strategi yang musim lalu dianggap paling jitu, musim ini bisa jadi sudah usang. Harus dibongkar total.
Arema FC baru saja melakukan putar haluan yang ekstrem di bawah mistar gawang. Tradisi mahal yang mereka rawat bertahun-tahun resmi diakhiri.
Selamat tinggal kiper asing. Selamat datang kuartet lokal berlabel Timnas.
Keputusan manajemen Singo Edan menyambut Super League 2026/2027 ini terhitung sangat menarik. Mengapa? Karena Arema sejatinya adalah klub yang menghidupkan kembali tren penggunaan kiper impor di era modern Liga 1. Tepatnya pada musim 2021/2022 lalu. Saat klub lain masih fanatik dengan kiper lokal, Arema berani mendatangkan Adilson Maringa asal Brasil. Maringa sukses dua musim.
Begitu Maringa pergi, Arema mendatangkan Julian Schwarzer. Kiper Filipina anak legenda Australia, Mark Schwarzer, itu berjasa menyelamatkan Arema dari lubang jarum degradasi musim 2023/2024. Estafet lalu berlanjut ke tangan Lucas Frigeri selama dua musim. Jauh sebelum itu, Arema juga pernah mencicipi jasa Srdjan Ostojic asal Serbia pada paruh musim 2018.

Sebenarnya, kiper asing bukan barang baru di Indonesia. Sejarah mencatat nama-nama beken seperti Daryl Sinerine, Mbeng Jean, Yoo Jae-hoon, Mariusz Mucharski, Sergio Vargas, Zheng Cheng, Kosin Hathairattanakool, Evgeny Khmaruk, hingga Denis Romanovs.
Namun kini, era komoditas impor di Malang resmi tamat. Kontrak Lucas Frigeri di Super League 2025/2026 menjadi penutup buku sejarah itu. Arema memilih kembali ke akar nasional.
Tidak tanggung-tanggung, slot penjaga gawang langsung dikunci dengan empat nama lokal yang mewah. Dua nama lama dipertahankan: Muhammad Adi Satryo dan Gianluca Claudio Pandeynuwu—kiper kokoh yang didatangkan dari Persis Solo tengah musim lalu.
Dua nama baru dicomot dari bursa transfer. Pertama, Syahrul Trisna Fadillah. Eks benteng Borneo FC yang merupakan kiper Timnas Indonesia di Piala AFF 2020. “Kami optimistis kehadirannya menambah kualitas serta daya saing,” kata General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi.
Kedua, yang menjadi peluncur pamungkas: Erlangga Setyo Dwi Saputra.
Kiper asal Jember berusia 23 tahun ini dikontrak selama dua musim ke depan. Erlangga bukan kiper biasa. Posturnya raksasa: 196 sentimeter. Tingginya bahkan melampaui dua kiper utama Timnas Indonesia saat ini, Emil Audero (192 cm) dan Maarten Paes (191 cm).
Pengalaman Erlangga sebagai benteng backup Timnas U-20 hingga U-23 menjadi garansi mutu. Musim lalu, ia matang saat dipinjamkan ke PSPS Pekanbaru. “Erlangga adalah proyek penguatan skuad untuk beberapa musim ke depan,” tambah Yusrinal.
Komposisi di bawah mistar kini sudah komplet. Mewah dan kompetitif. Arema punya kombinasi pas antara kematangan senior dan ledakan bakat muda berpostur Eropa.
Strategi baru sudah dipilih, investasi lokal berdurasi panjang sudah diteken, sekarang tinggal pembuktian di lapangan: sanggupkah kuartet lokal ini membuat Arema merindukan sentuhan kiper asing? Ataukah mereka justru tampil jauh lebih tangguh? Kita lihat saja di kompetisi yang panjang nanti. (Ra Indrata)




