MALANG POST – Manajemen Arema FC secara resmi, mengamankan kerangka tim lokal mereka menjelang bergulirnya kompetisi Super League 2026/2027 dengan memperpanjang kontrak tujuh pemain domestik, yang menjadi pilar penting sepanjang musim lalu. Langkah strategis yang dikonfirmasi langsung oleh General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, Rabu (17/6/2026), sengaja diambil guna menjaga keseimbangan antara kedalaman skuad, proses regenerasi, serta mempertahankan identitas lokal Arema yang melekat kuat pada diri Alfarizi, Dendi Santoso, Jayus Hariono, Bayu Setiawan, Dwiki Mardiyanto, Dimas Aryaguna, dan Achmad Maulana Syarif.
Membeli pemain asing bertarif miliaran rupiah itu perkara gampang bagi klub profesional. Asal agennya cocok, uangnya ada, barangnya datang. Tapi membeli karakter, merawat loyalitas, dan menjaga marwah daerah di dalam ruang ganti, itu tidak ada toko yang menjualnya.
Nilai-nilai tak berwujud itulah yang disebut identitas. Roh sebuah klub bernama Arema FC.
Sadar akan pentingnya menjaga kesaktian roh tersebut, manajemen Singo Edan mengambil langkah taktis pekan ini.
Setelah sukses mengunci kepastian bertahannya pilar-pilar asing, gerbong lokal langsung dipagari. Tidak tanggung-tanggung: tujuh pemain lokal sekaligus resmi dipertahankan untuk mengarungi musim baru Super League 2026/2027.
Siapa saja mereka? Daftarnya komplet. Ada Alfarizi, Dendi Santoso, Jayus Hariono, Bayu Setiawan, Dwiki Mardiyanto, Dimas Aryaguna, hingga bek muda Achmad Maulana Syarif.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, membeberkan cetak biru taktiknya. Manajemen emoh merombak total tim. Kerangka yang sudah solid musim lalu wajib dirawat.
“Kami ingin mempertahankan kerangka tim yang sudah ada. Mereka memiliki peran masing-masing. Selain kualitas di lapangan, mereka juga memahami kultur klub dan menjadi contoh bagi pemain-pemain muda,” tegas Yusrinal, Rabu (17/6/2026).
Mari sebut tiga nama pertama: Alfarizi, Dendi Santoso, dan Jayus Hariono. Mereka ini bukan sekadar pemain sepak bola biasa di Malang. Mereka adalah simbol loyalitas. Tiga anak kandung asli Malang yang sudah kenyang asam garam mengenakan jersi biru.
Dendi Santoso, misalnya. Statusnya mentereng: one man club. Hanya membela satu klub sepanjang kariernya. Pengalamannya sangat mahal untuk menenangkan ruang ganti yang bergemuruh.
Alfarizi, sang kapten senior, kepemimpinannya masih sangat dibutuhkan di sektor bek kiri. Sementara Jayus Hariono? Dia adalah gelandang perusak alur serangan musuh yang konsistensinya tidak perlu diragukan lagi. Kerja kerasnya luar biasa.
Di sisi lain, Arema juga tidak melupakan masa depan. Siasat regenerasi tetap berjalan merangkul darah muda.
Nama-nama seperti Bayu Setiawan, Dwiki Mardiyanto, hingga produk asli Akademi Arema, Dimas Aryaguna, tetap diberi tempat. Musim lalu grafik perkembangan mereka menunjukkan angka positif. Potensi mereka untuk meledak musim depan masih sangat terbuka lebar.
Lalu, ada satu nama yang sempat membuat Aremania ketar-ketir: Achmad Maulana Syarif.
Bek muda andalan ini sempat mengalami nasib sial musim lalu. Dia dihantam cedera parah yang memaksanya menepi dari lapangan hijau dalam waktu yang cukup lama.
Padahal, sebelum kakinya cedera, performa Achmad begitu memikat hingga namanya masuk dalam radar pantauan Timnas Indonesia.
Banyak klub biasanya langsung membuang pemain yang cedera panjang. Tapi Arema memilih jalan kemanusiaan yang logis.
Mereka tidak mau kehilangan kepercayaan pada bakat muda ini. Arema justru menggaransi satu tempat agar Achmad bisa fokus pulih total dan kembali mengamuk di lapangan.
“Achmad adalah aset penting bagi klub. Kualitasnya sudah terbukti. Kami percaya dia bisa kembali lebih kuat dan memberikan kontribusi besar untuk tim,” urai Yusrinal.
Racikan skuad Arema musim ini terlihat makin jelas arahnya. Pengalaman para sesepuh diletakkan sebagai jangkar pelindung, sementara gairah anak-anak muda disiapkan menjadi mesin penggerak masa depan.
Dari Malang, kita belajar bahwa tim yang hebat tidak dibangun dari sekadar kumpulan nama baru yang mentereng, melainkan dari rasa saling percaya yang dirawat bersama. Selamat berjuang kembali, jajaran lokal Singo Edan! (Ra Indrata)




