BADMINTON: Alfi Nurhidayat (kiri) dan M Nur Adhim (kanan) saat bermain badminton bersama, kini dua nama tersebut jadi kandidat terkuat calon sekda definitif Pemkot Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Perebutan kursi tertinggi aparatur sipil negara (ASN) di Pemerintah Kota Batu memasuki fase paling krusial menjelang pengumuman tiga besar kandidat terbaik oleh tim panitia seleksi (pansel) pada Jumat (5/6/2026) besok. Dari enam pejabat internal Pemkot Batu yang bertarung dalam seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) Sekretaris Daerah (Sekda) ini, pengamat kebijakan publik menilai peta persaingan kini mengerucut ketat pada dua figur terkuat: M Nur Adhim dan Alfi Nurhidayat.
Siapa yang akan jadi panglima ASN di Kota Batu?
Jawabannya mulai benderang besok, Jumat (5/6/2026). Tim panitia seleksi akan mengumumkan tiga nama terbaik. Dari sana, satu nama akan dipilih untuk duduk di kursi panas: Sekretaris Daerah Kota Batu.
Awalnya ada enam orang yang bertarung. Semuanya orang dalam Pemkot Batu. Mereka adalah M Nur Adhim, Alfi Nurhidayat, Bangun Yulianto, Arief As Siddiq, Endro Wahjudi, dan Akhmad Dahlan.
Semua punya kelas. Semua punya barisan pendukung.
Namun, di tikungan akhir ini, bisik-bisik di balai kota mulai mengerucut. Peta persaingan disebut-sebut tinggal menyisakan dua kuda pacu utama dengan karakter yang bertolak belakang. Mereka adalah M Nur Adhim dan Alfi Nurhidayat.
Mengapa mereka berdua?
Pakar Kebijakan Publik Universitas Brawijaya (UB), Andhyka Muttaqin, punya analisisnya. Menjadi sekda itu bukan cuma soal pintar bikin laporan teknis. Lebih dari itu. Sekda adalah dirigen. Dia harus bisa memimpin orkestra birokrasi yang rumit, sekaligus lihai berkomunikasi ke luar.
Ada tiga faktor penentu utama menurut Andhyka.
Pertama, dan ini yang paling mutlak: tingkat kepercayaan kepala daerah. “Sekda adalah instrumen pengendali mesin birokrasi. Faktor trust dari pimpinan menjadi yang paling absolut,” ujar Andhyka, kemarin.
Sederhananya: kalau wali kota tidak sreg, sepintar apa pun Anda, lupakan saja kursi sekda.
Faktor kedua adalah kemampuan manajerial untuk menyatukan puluhan kepala dinas yang isinya kepala batu semua. Faktor ketiga: kemampuan komunikasi politik agar kebijakan pemkot tidak digembosi di jalan.
Kalau melihat peta itu, mari kita bedah satu per satu kekuatannya.
Bangun Yulianto, misalnya. Dia orang perencanaan. Otaknya kuat dalam menyusun strategi pembangunan makro. Tapi, tantangan terbesarnya adalah urusan lapangan—bagaimana berkoordinasi lintas dinas yang punya ego sektoral tinggi.
Lalu ada Arief As Siddiq. Jam terbangnya di urusan teknis dan pelayanan publik sudah karatan. Mantap di lapangan. Tapi, kemampuannya merangkul seluruh perangkat daerah masih harus diuji di level yang lebih tinggi.
Bagaimana dengan Endro Wahjudi? Dia orang pengawasan. Mantan Inspektorat. Jaminan mutu untuk urusan akuntabilitas dan kebersihan anggaran. Kelemahannya satu: gaya pengawasan yang ketat kadang bikin dinas lain sungkan dan jaga jarak. Perlu seni komunikasi yang lebih cair.
Sementara Akhmad Dahlan kuat di jembatan politik. Pengalamannya di Kesbangpol membuat dia paham peta konflik lokal. Stabilitas kota pasti terjaga. Tapi, jabatan sekda juga menuntut ketelitian mengurus dapur administrasi sehari-hari.
Nah, di antara semua itu, mengapa Adhim dan Alfi dianggap paling komplet?
Alfi Nurhidayat dikenal sebagai jenderal lintas sektor. Kariernya matang di urusan infrastruktur (pekerjaan umum) hingga pembangunan manusia (pendidikan). Dia tahu bagaimana membangun jalan sekaligus membangun otak masyarakat.
Sebaliknya, M Nur Adhim adalah ahlinya isi dompet daerah. Dia paham luar dalam soal tata kelola keuangan dan pendapatan asli daerah (PAD). Di zaman ketika efisiensi anggaran jadi harga mati, kemampuan fiskal seperti milik Adhim ini laksana emas murni.
Lalu, siapa yang bakal dipilih?
Andhyka mengingatkan, nilai di atas kertas sering kali kalah oleh faktor “X”. “Kedekatan personal dengan kepala daerah, rekam jejak mengawal agenda strategis, hingga posisi dalam jejaring birokrasi dan politik sering kali menjadi variabel yang turut diperhitungkan,” jelasnya.
Artinya? Ini bukan sekadar ujian masuk pegawai. Ini adalah seni memilih tangan kanan.
Pansel akan menyodorkan tiga nama besok. Siapa pun yang dipilih wali kota nanti, beban di pundaknya sudah menanti: membawa birokrasi Kota Batu berlari lebih cepat, bukan malah jalan di tempat. (Ananto Wibowo/Malang Post)




