MALANG POST – Jangan bayangkan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kota Batu, hanya bisa mengurung diri di rumah. Atau hanya menumpuk di Sekolah Luar Biasa (SLB). Tidak. Sejak beberapa tahun terakhir, mereka sudah berani keluar. Mereka belajar bersama anak-anak reguler lainnya. Menatap papan tulis yang sama. Menghirup udara kelas yang sama.
Hingga Selasa (2/6/2026), Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batu, mencatat angka yang bikin dada terasa hangat: ada 406 siswa inklusi yang kini aktif bersekolah di sekolah umum.
Mereka tersebar di puluhan satuan pendidikan di seluruh penjuru kota dingin ini.
Mari kita bedah datanya. Angka 406 itu bukan sekadar statistik. Itu adalah nyawa. Generasi masa depan.
Sebanyak 47 anak saat ini sedang lucu-lucunya belajar di jenjang Kelompok Bermain (KB), tersebar di 24 lembaga. Lalu, ada 88 anak yang mulai belajar mandiri di 21 Taman Kanak-Kanak (TK).
Kelompok terbesar ada di tingkat Sekolah Dasar (SD). Jumlahnya mencapai 217 anak di 22 sekolah. Sementara yang sudah menginjak remaja, ada 54 siswa yang tersebar di delapan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat, tidak mau main-main dengan angka ini. Bagi Alfi, pendidikan inklusif bukan proyek pencitraan. Ini adalah urusan hak paling mendasar dari seorang anak manusia.
“Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas,” ujar Alfi, Selasa siang.
Alfi tahu benar penyakit lama sebagian sekolah: semangat saat menerima murid baru lewat jalur afirmasi, tapi abai setelah si anak masuk kelas.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Membuka pintu gerbang sekolah saat penerimaan murid baru itu mudah. Yang sulit—dan paling penting—adalah memastikan mereka aman, nyaman, dan tidak merasa terasing selama bertahun-tahun menuntut ilmu di sana.
Saat ini, sudah ada 75 sekolah penyelenggara pendidikan inklusi yang aktif melapor ke dinas. Jumlah ini masih bisa bertambah. Pendataan dan verifikasi jalan terus.
Alarm Bullying Saat Jam Istirahat
Tapi, ada satu musuh besar yang paling ditakuti oleh orang tua ABK ketika menyekolahkan anaknya di sekolah reguler. Namanya: perundungan. Atau bullying.
Anak berkebutuhan khusus adalah sasaran empuk bagi tangan-tangan jahil. Alfi Nurhidayat paham betul risiko itu. Maka, dia mengeluarkan instruksi keras ke seluruh kepala sekolah. Pengawasan harus dilipatgandakan.
Kapan waktu paling rawan? Saat jam istirahat dan jam pulang sekolah. Di waktu-waktu itulah, saat guru lengah, ruang-ruang gelap diskriminasi sering kali terjadi.
“Yang paling penting adalah memastikan mereka tidak mengalami diskriminasi maupun perundungan. Kehadiran siswa inklusi harus dibarengi dengan ekosistem belajar yang sehat,” tegas Alfi.
Sekolah tidak boleh hanya mengandalkan imbauan moral. Harus ada aturan antiperundungan yang hitam di atas putih. Tegas. Dan konsisten diterapkan.
Lalu, bagaimana mereka belajar? Di sinilah peran Guru Pendamping Khusus (GPK) menjadi dewa penyelamat. Mereka yang membantu anak-anak ini beradaptasi dengan kecepatan belajar teman-temannya.
Bukan cuma GPK. Guru kelas biasa pun dipaksa harus lebih kreatif. Mereka harus adaptif. Mulai dari mengatur posisi duduk si anak, mengubah pola komunikasi yang lebih lembut, hingga memilih media pembelajaran yang ramah bagi keterbatasan fisik maupun intelektual siswa.
Logika pendidikan di Batu kini diubah. Ketika anak-anak ABK ini merasa diterima, merasa dihargai, dan merasa aman, maka keajaiban akan terjadi. Otak mereka akan lebih rileks. Perkembangan akademik dan kemampuan sosial mereka akan melesat lebih optimal.
Pada akhirnya, sekolah inklusi ini bukan hanya ruang berkah bagi siswa ABK. Ini adalah laboratorium karakter bagi anak-anak normal lainnya.
Lewat interaksi setiap hari, anak-anak reguler dipaksa belajar satu hal penting yang mulai mahal di negeri ini: empati. Mereka belajar menghargai perbedaan sejak dini. Bahwa manusia diciptakan berbeda-beda, dan tidak ada satu pun yang layak untuk direndahkan.
Kota Batu sedang membuktikannya. Pendidikan yang setara bukan lagi slogan di atas baliho, melainkan sudah menjelma menjadi denyut nadi di ruang-ruang kelas. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




