dr. Millah Shofiah (tengah) berfoto bersama kedua orang tua, suami dan mertua. Foto: Tim media Pondok Sabilurrosyad)
MALANG POST– Malang Raya hampir dipastikan memasuki musim kemarau dan bediding. Kondisi ini menyebabkan suhu pada malam dan pagi hari terasa sangat dingin, sementara siang hari tergolong sejuk meski matahari bersinar terik.
Melansir laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Juanda, suhu udara mencapai 17 derajat Celsius pada akhir Mei lalu.
Di tengah perubahan cuaca ekstrem ini, penting bagi orang tua untuk memastikan anak-anak mendapatkan perlindungan kesehatan yang optimal, salah satunya melalui imunisasi.
Hal tersebut disampaikan dr. Millah Shofiah, M.Biomed., dokter umum di Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma Malang, dalam sebuah podcast.
Ia mengungkapkan bahwa cuaca dingin saat ini berpotensi memicu penurunan daya tahan tubuh jika tidak diantisipasi.
“Kalau soal imunitas anak-anak, sebenarnya bukan tidak sempurna. Allah menciptakan semuanya sempurna, tapi sesuai dengan tahap usianya,” ujarnya
“Sistem imun anak-anak lebih mengandalkan imunitas bawaan (innate), sementara orang dewasa sudah memiliki imunitas adaptif yang lebih matang karena sudah banyak mengenal virus,” jelas kembali.
Menurut anak ketiga KH. Drs. Marzuki Mustamar, M.Ag tersebut menjelaskan. Bahwa perbedaan sistem imun antara anak dan orang dewasa menjadikan imunisasi sebagai langkah preventif yang sangat penting.
Imunisasi seperti polio dan influenza terbukti efektif dalam membangun perlindungan tubuh anak dari berbagai ancaman penyakit yang lebih mudah berkembang di musim dingin.
“Sel T anak-anak itu sangat aktif. Makanya ketika mereka diberikan imunisasi, respons tubuhnya akan sangat baik. Ini cara kita memperkuat pertahanan mereka sejak dini,” ungkapnya.
Selain imunisasi, ia juga mendorong orang tua untuk tidak ragu memanfaatkan layanan kesehatan terdekat seperti puskesmas, posyandu dan klinik, yang menurutnya sudah cukup memadai untuk penanganan awal.
Namun, dr. Millah tetap menekankan pentingnya membawa anak langsung ke dokter apabila muncul gejala sakit.
“Kalau bisa, anak dibawa ke dokter ya. Bukan berarti tenaga kesehatan lain tidak mampu, tapi anak itu sangat rentan, termasuk dalam hal dosis obat. Jadi penanganan medis oleh dokter sangat disarankan,” ujarnya.
Kondisi cuaca ekstrem ini menjadi pengingat bagi para orang tua untuk bersikap lebih aktif dalam menjaga kesehatan buah hati.
“Mari jadi orang tua yang proaktif, bukan reaktif. Jangan tunggu anak sakit baru bertindak. Justru konsultasi lebih awal sangat penting agar kita tahu bagaimana menjaga anak tetap prima,” pesan Ning Sofie panggilan akrabnya.
Ia menambahkan, orang tua adalah sosok yang paling mengenal kondisi anak-anak mereka. Karena itu, keterlibatan aktif orang tua dalam menjaga kesehatan keluarga harus menjadi prioritas utama.
“Tidak perlu menunggu gejala berat. Kadang hal sederhana seperti kelelahan atau kurang tidur sudah cukup menurunkan daya tahan tubuh anak. Kita harus lebih peka dan tanggap,” pesannya.
Menutup penyampaiannya, dr. Millah berharap para orang tua semakin peduli dan waspada dalam menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu.
Imunisasi dan perhatian dini terhadap kesehatan anak bukan hanya langkah pencegahan, tetapi juga bentuk cinta dan tanggung jawab orang tua terhadap masa depan anak.
“Semoga apa yang saya sampaikan bisa menjadi tambahan wawasan kita semua, khususnya para orang tua. Mari jaga anak-anak kita agar tetap sehat dan kuat menghadapi cuaca ekstrem ini,” tutupnya. (M Abd Rachman Rozzi – Januar Triwahyudi)




