MALANG POST— Suhu dingin ekstrem beberapa hari terakhir mulai melanda bagian selatan Indonesia, yaitu Pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Fenomena tahunan yang biasa terjadi pada bulan Juni hingga September ini, populer dengan sebutan bediding.
Di Malang Raya sendiri, pantauan Redaksi Malang Post menunjukkan bahwa selama hampir tiga hari terakhir, suhu pada malam hari mencapai 20°C, tengah malam 18°C, dini hari 17°C dan saat matahari terbit baru mencapai 19°C. Di daerah dataran tinggi, suhunya lebih dingin lagi, termasuk di Bromo yang tembus hingga angka 11°C.
Sebenarnya sudah lumrah hawa bediding di bulan-bulan ini dikaitkan dengan istilah welcome para mahasiswa baru (maba) di Malang Raya.
Ini bukan hanya fenomena kebetulan. Tapi ada kaitannya dengan kondisi cuaca nasional yang sedang di puncak musim kemarau. Serta letak geografis Malang Raya yang berada di dataran tinggi.
Kondisi geografis Kota Malang semakin memperkuat efek ini. Lantaran terletak di dataran tinggi dengan ketinggian lebih dari 400 meter di atas permukaan laut dan diapit oleh pegunungan.
Kota ini secara alami memiliki suhu yang lebih rendah dibanding daerah pantai. Ketika angin musim kemarau bertiup, udara yang dibawanya pun semakin menambah rasa dingin, bahkan di siang hari.
Sensasinya mirip dengan berada di puncak gunung. Meskipun matahari bersinar terik, namun suhu tetap menusuk tulang karena angin dingin yang terus bertiup.
Di satu sisi, suhu yang sangat dingin menjadi tantangan tersendiri untuk memulai aktivitas di pagi hari.
Keinginan untuk bangun pagi sering kali terkalahkan oleh rasa dingin. Sehingga lebih memilih untuk tetap berselimut dari kepala hingga ujung jari kaki, hanya menyisakan celah di hidung untuk bernapas.
Bagi para ibu rumah tangga, anak sekolah, pekerja kantoran, atau pekerja yang harus bangun pagi, dingin ekstrem harus tetap dilawan. Untungnya, akhir pekan ini banyak tanggal merah.
Musim dingin ini dapat dihadapi dengan aktivitas fisik di pagi hari. Warga di perkotaan biasanya joging, lari pagi, atau senam sejenak hingga tubuh terasa panas dan berkeringat. Melakukan aktivitas fisik seperti ini dapat menghangatkan tubuh di pagi yang dingin.
Berolahraga dengan intensitas tinggi akan meningkatkan suhu tubuh karena otot menghasilkan energi untuk aktivitas tersebut. Sebanyak 80 persen dari total energi diubah menjadi panas dan didistribusikan ke seluruh tubuh.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena bediding dipengaruhi oleh menguatnya angin Monsun Australia. Angin ini membawa massa udara yang bersifat lebih dingin dan kering dari wilayah Australia menuju Indonesia.
Masuknya massa udara tersebut menyebabkan kelembapan udara berkurang dan suhu pada malam hari menjadi lebih rendah. Dampaknya, sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Jawa Timur, merasakan udara yang lebih sejuk hingga dingin pada dini hari dan pagi hari.
Selain membuat tubuh menggigil saat pagi hari, udara yang dingin dan kering juga bisa mempengaruhi kondisi kesehatan.
Beberapa dampak yang sering dirasakan antara lain seperti kulit menjadi lebih kering, bibir mudah pecah-pecah, gejala alergi dapat lebih mudah muncul, dan gangguan pernapasan bisa terasa lebih berat bagi sebagian orang.
Karena itu, penting untuk menjaga kondisi tubuh tetap hangat, memperbanyak minum air putih, dan menggunakan pelembab apabila diperlukan.
Fenomena ini diperkirakan akan berlangsung selama musim kemarau. Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung mulai Mei hingga Oktober mendatang.
Masyarakat diimbau untuk menjaga kondisi kesehatan, terutama saat beraktivitas pada malam dan pagi hari, mengingat perubahan suhu yang cukup terasa dapat memengaruhi daya tahan tubuh.
Selain itu, menggunakan pakaian hangat dan menjaga asupan cairan menjadi langkah sederhana untuk mengurangi dampak udara dingin selama fenomena bediding berlangsung. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




