MALANG POST — Komitmen Pemerintah Kota Batu dalam memerangi stunting mendapat acungan jempol dari pusat. Guna mempercepat penurunan stunting di Kota Batu hingga menembus target satu digit (9 persen), Plt Wali Kota Batu Heli Suyanto langsung menggelar audiensi strategis bersama Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur di Balai Kota Among Tani pada Jumat (29/5/2026). Sinergi ini memperkuat program ketahanan keluarga berbasis deteksi dini hingga tingkat rukun tetangga (RT).
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN melihat ada yang beda di Kota Batu. Koordinasinya hidup. Lintas dinasnya kompak.
“Koordinasi di Kota Batu sudah berjalan baik. Dukungan lintas sektor juga cukup solid,” puji Kepala Perwakilan BKKBN Jatim, Shodiqin, saat memimpin jalannya audiensi.
Namun, Shodiqin tidak ingin Pemkot Batu cepat berpuas diri. Dia langsung melempar tantangan baru: percepat pembentukan Tim Pembina Kampung KB (PCPK). Gunanya? Agar urusan keluarga berencana dan kependudukan benar-benar terintegrasi sampai ke dusun-dusun terpencil.
Pertemuan hari itu sejatinya tidak hanya bicara soal stunting lewat Program Genting. Bahasannya meluas. Menyeluruh.

AUDIENSI: Plt Wali Kota Batu Heli Suyanto saat menerima audiensi Perwakilan BKKBN Provinsi Jatim di Balai Kota Among Tani, Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Mulai dari urusan bapak-bapak lewat Gerakan Ayah Teladan Indonesia (Ganti), penyediaan daycare (tempat penitipan anak) ramah keluarga di kantor-kantor pemkot, sampai urusan mbah-mbah melalui Sekolah Lansia Tangguh (Selantang). Complete. Dari hulu ke hilir.
Plt Wali Kota Batu, Heli Suyanto, tersenyum mendapat suntikan semangat itu. Bagi Heli, kolaborasi ini adalah bahan bakar utama di lapangan.
“Kami berkomitmen mendukung program yang berdampak langsung bagi masyarakat. Khususnya dalam upaya penurunan stunting dan penguatan ketahanan keluarga,” tegas Heli.
Lalu, bagaimana taktik Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu di lapangan?
Ini yang menarik. Ada perubahan paradigma. Dinkes kini mewajibkan seluruh kader posyandu untuk tidak lagi sekadar menimbang berat badan anak. Mereka harus mulai jeli membaca grafik pertumbuhan.
Sebab, di sinilah letak jebakannya. Banyak orang tua merasa anaknya aman-aman saja hanya karena timbangannya naik. Padahal, kalau naiknya tidak sesuai standar usia, itu bahaya.
“Kalau berat badan naik tapi tidak mencapai target minimal kelompok umur, itu sudah menjadi lampu kuning menuju stunting,” ungkap pihak Dinkes memberikan peringatan.
Ada satu lagi musuh tersembunyi yang dibongkar Heli: cuaca ekstrem. Belakangan ini, balita di Batu rentan terserang batuk dan pilek secara berulang.
Jangan sepelekan batuk pilek. Saat anak sering sakit, energi dari makanan tidak akan menjadi daging atau tinggi badan.
Energinya habis dipakai tubuh untuk menyembuhkan penyakit. Akibatnya? Berat badan macet. Pertumbuhan anak kuntet.
“Orang tua harus lebih peka terhadap pemicu sakit pada anak, termasuk pola jajan yang tidak sehat,” tambah Heli.
Pintu masuk kasus baru kini dikunci rapat-rapat. Caranya dengan memaksimalkan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP).
Lewat posyandu model baru ini, skrining kesehatan balita di tingkat desa diperketat. Begitu ada balita berisiko, intervensi medis langsung masuk.
Tidak hanya itu, urusan perut juga dikontrol. Distribusi bantuan nutrisi seperti susu subsidi kini diawasi ketat lewat sistem digital agar tidak salah sasaran. Harus jatuh ke tangan keluarga yang benar-benar membutuhkan.
Targetnya memang tinggi. Turun ke angka 9 persen bukan perkara gampang. Tapi dengan kader posyandu yang jeli, posyandu digital yang siap, dan pasokan susu yang tepat sasaran, Heli optimistis target satu digit bukan sekadar impian di atas kertas. (Ananto Wibowo/Malang Post)




