DUET: Pelatih Arema, Marcos Santos dan asisten pelatih Andre Caldas, saat berada di ruang ganti Stadion Sultan Agung, Bantul. Nasib keduanya, akan ditentukan di pekan ke-34. Saat Arema menjamu PSIM Yogyakarta. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Manajemen Arema FC menegaskan, bakal menggelar evaluasi total secara menyeluruh, terhadap performa skuad Singo Edan segera setelah menuntaskan laga pamungkas kompetisi Super League 2025/2026 kontra PSIM Yogyakarta, yang dijadwalkan berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang.
Partai penutup musim yang sangat krusial ini, akan tersaji pada Jumat (22/5/2026). Sekaligus akan menjadi hakim garis akhir bagi nasib masa bakti Pelatih Kepala asal Brasil, Marcos Vinicius dos Santos Goncalves, sebelum manajemen mengetok palu keputusan untuk musim depan.
Kompetisi hampir habis. Ketegangan justru memuncak di kantor manajemen Arema FC. Di atas kertas, Singo Edan sebenarnya sudah aman. Mereka sudah resmi terlepas dari jerat hantu degradasi yang menakutkan itu.
Namun, bagi klub sebesar Arema, sekadar bertahan di kasta tertinggi bukanlah prestasi. Itu adalah kewajiban minimal. Maka, begitu musim akan ditutup, genderang evaluasi langsung ditabuh.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, bersikap sangat dingin. Pria yang akrab disapa Inal ini menegaskan, manajemen tidak mau membeli kucing dalam karung. Rapor tim pelatih sudah diperiksa.
“Evaluasi sudah berjalan sebulan terakhir. Kami akan melihat posisi finis Arema FC di klasemen sebelum mengambil keputusan final terkait tim pelatih,” tegas Yusrinal Fitriandi, Minggu (17/5/2026) lalu.
Dosa Derbi Jawa Timur yang Belum Termaafkan
Manajemen tampaknya masih memendam luka lama. Ada riak ketidakpuasan yang mendalam. Penyebabnya benderang: performa Arema dinilai gagal memenuhi target tinggi yang dicanangkan di awal musim.
Secara khusus, mata manajemen tertuju pada dua laga paling sakral musim ini: Derbi Jawa Timur. Arema dipaksa menelan pil super pahit. Mereka dihajar musuh bebuyutan Persebaya Surabaya dengan skor telak 0-4. Belum sembuh luka itu, mereka kembali keok 2-3 di tangan Persik Kediri.
Bagi Aremania, kalah dalam derbi adalah kecelakaan sejarah. Bagi manajemen, itu adalah raport merah yang menjadi sorotan utama dalam draf evaluasi.
Saat ini, Arema FC berada di peringkat ke-9 klasemen sementara dengan koleksi 45 poin dari 33 laga. Rekornya sangat seimbang, cenderung medioker untuk tim bermental juara: 12 kali menang, 9 kali imbang, dan 12 kali menelan kekalahan. Grafik fluktuatif inilah yang membuat posisi Marcos Santos belum aman untuk musim depan.
Sikap Tegak Marcos Santos
Bagaimana respons sang pelatih? Marcos Santos tidak mau tunduk pada tekanan luar lapangan. Khas pria Brasil, ia tetap tenang namun tegas.
Meskipun jadwal pertandingan sempat memicu sedikit perbedaan data—antara rilis resmi internal jumat malam atau sabtu malam—satu hal yang pasti: laga kandang pamungkas di Stadion Kanjuruhan ini wajib dimenangkan.
Gengsi di depan publik sendiri taruhannya. Modal mereka bagus, pekan lalu Singo Edan baru saja mengamuk dengan melumat PSBS Biak 5-2 di Stadion Sultan Agung, Bantul.
“Kami ingin memberikan yang terbaik dan hal positif bagi suporter Arema,” ujar Marcos Santos, seperti dikutip dari portal Ileague.
Bagi Marcos, laga melawan PSIM bukan laga formalitas pengisi kalender. Ini soal mentalitas. Ia emoh anak asuhnya menurunkan standar permainan hanya karena target kompetisi sudah selesai. Posisi finis di klasemen harus diperbaiki semaksimal mungkin.
“Kami harus berusaha memberi performa terbaik untuk menutup kompetisi dengan baik, serta mencoba naik posisi di klasemen,” tambahnya.
Memori Pahit Pertemuan Pertama
Melawan PSIM Yogyakarta jelas bukan perkara mudah. Laskar Mataram punya potensi mengejutkan. Tengok saja memori pertemuan pertama kedua tim pada 16 Agustus 2025 tahun lalu di Stadion Sultan Agung.
Kala itu, Arema sudah unggul lebih dulu lewat eksekusi penalti dingin Dalberto Luan Belo di menit ke-41. Kemenangan sudah di depan mata.
Namun, petaka datang di menit ke-88. Konsentrasi buyar. Bek asing Roberto Pimenta Vinagre Filho melakukan gol bunuh diri yang apes. Skor berakhir imbang 1-1. Dua poin melayang di menit-menit akhir.
Marcos Santos tentu tidak ingin drama serupa berulang di Kanjuruhan. Laga pamungkas ini adalah panggung pembuktian terakhirnya.
Jika ia berhasil membawa Arema menang indah dan finis di posisi terbaik, manajemen tentu punya alasan kuat untuk menyodorkan kontrak baru.
Namun jika gagal, ruang ganti Arema dipastikan akan mengalami perombakan besar-besaran demi menyambut fajar baru musim depan. Kita tunggu saja detak takdirnya di Kanjuruhan. (Ra Indrata)




