MALANG POST – Upaya penguatan jati diri daerah melalui kesenian tradisional di Kota Batu, memasuki babak baru pasca-ditetapkannya Seni Sanduk sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, oleh Kementerian Kebudayaan RI.
Plt Wali Kota Batu, Heli Suyanto, secara khusus memberikan apresiasi tinggi kepada 15 sekolah dasar yang tergabung dalam komunitas “Sanduk Bocil”, atas dedikasi mereka melestarikan tradisi sejak dini.
Dalam kegiatan yang berlangsung di SDN Sumbergondo 02, pada Senin (11/5/2026), Heli menegaskan, keterlibatan generasi muda dalam seni tradisi adalah fondasi utama agar kearifan lokal Kota Batu, tetap eksis dan tidak tergerus oleh masifnya modernisasi di kota wisata tersebut.
Heli Suyanto yang hadir langsung, bahkan turut melebur dan menari bersama ratusan siswa. Ia didampingi oleh Bunda Sanduk Kota Batu, Katarina Dian Nefiningtyas, serta Bunda Sanduk Bocil Kota Batu sekaligus Kepala SDN Sumbergondo 02, Aina Asmarani.
“Pelestarian budaya melalui Sanduk Bocil ini bukan sekadar menjaga tradisi lama, tetapi membangun karakter dan jati diri anak-anak kita, agar mereka bangga dengan akar budayanya sendiri di tengah gempuran tren luar,” tegas Heli Suyanto kepada Malang Post, Senin (11/5/2026).

NARI BARENG: Plt Wali Kota Batu Heli Suyanto saat menari sanduk bersama para siswa SD se Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Buah Perjuangan Tujuh Tahun Penantian
Momentum kebangkitan Sanduk Bocil ini terasa kian istimewa, mengingat Seni Sanduk baru saja mendapat pengakuan resmi negara sebagai WBTb Indonesia.
Pencapaian ini merupakan hasil perjuangan panjang selama hampir tujuh tahun, yang melibatkan berbagai tahap. Mulai dari pengumpulan dokumentasi sejarah, kajian akademik mendalam, hingga proses verifikasi ketat di tingkat pusat.
Bagi para pegiat seni, pengakuan ini adalah legalitas sekaligus bentuk proteksi terhadap kekayaan intelektual komunal masyarakat Batu. Seni Sanduk kini resmi menjadi bagian dari peta budaya nasional yang wajib dilindungi dan dikembangkan.
Akulturasi Budaya yang Menjadi Ikon Wisata
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto, menyebutkan, Seni Sanduk adalah fenomena akulturasi yang unik. Meski memiliki akar kuat dari kultur Madura, kesenian ini telah bertransformasi secara total dan menyatu dengan napas kehidupan masyarakat Kota Batu.

“Sanduk telah menjadi ikon yang tak tergantikan. Hampir setiap acara besar di Kota Batu selalu menghadirkan Sanduk. Ini bukan lagi sekadar hiburan, tapi jati diri. Karena itu, regenerasi melalui Sanduk Bocil di sekolah-sekolah menjadi sangat krusial,” papar Onny.
Panggung Ekspresi di Sendratari Arjuna Wiwaha
Untuk mendukung ekosistem budaya ini, Pemerintah Kota Batu telah menyediakan fasilitas mumpuni. Disparta berkomitmen menjadikan kesenian tradisi, termasuk Sanduk, sebagai daya tarik unggulan dalam paket wisata budaya.
“Kami sudah siapkan Sendratari Arjuna Wiwaha sebagai ruang ekspresi yang representatif. Para pelaku seni, termasuk adik-adik dari Sanduk Bocil, butuh panggung untuk diapresiasi oleh wisatawan maupun masyarakat luas. Ini adalah bagian dari strategi besar kami memperkuat destinasi wisata berbasis budaya,” pungkas Onny. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




