MALANG POST- Di tengah maraknya jeratan pinjaman online (pinjol) yang kini merambah kalangan mahasiswa, kesadaran akan pentingnya literasi keuangan justru masih memprihatinkan. Fenomena inilah yang melatarbelakangi digelarnya Talkshow Gerakan Nasional Edukasi dan Literasi bertema “Optimalisasi Generasi Emas Indonesia Melalui Literasi: Perbankan dan Asuransi” di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya (UB), Malang, pada Rabu (7/5/2026).
Acara yang diinisiasi Disway bersama Dahlan Iskan serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini menghadirkan ratusan mahasiswa, akademisi, pelaku UMKM, dan masyarakat umum dalam satu ruang edukasi yang interaktif.
Acara dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan UB, Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan yang diyakini membawa manfaat besar bagi para mahasiswa.
“Saya yakin dan percaya acara ini akan membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi saudara-saudara, utamanya para mahasiswa,” ujar Dr. Setiawan dalam pembukaan acara.
Direktur Eksekutif Klaim, Resolusi, dan Pengaturan Asuransi LPS, Hermawan Setyo Wibowo, memaparkan bahwa penetrasi asuransi di Indonesia masih tergolong rendah. Salah satu penyebab utamanya adalah ketiadaan sistem penjaminan polis yang kredibel. Ke depan, LPS akan hadir mengisi kekosongan tersebut.
Menanggapi pemaparan tersebut, Dahlan Iskan yang sekaligus bertindak sebagai moderator mengingatkan para mahasiswa agar berhati-hati dalam memilih produk asuransi.
“Jadi mahasiswa di sini harus paham, kalau mau pilih asuransi nanti, lihat apakah mereka masuk dalam penjaminan atau tidak. Jangan hanya tergiur bunga tinggi atau janji-janji manis di depan,” tegas Dahlan Iskan di hadapan para peserta.

Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D., Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. (Foto: Istimewa)
Sesi sharing berikutnya mengupas fakta mengkhawatirkan tentang satu dari lima mahasiswa mengalami masalah keuangan, termasuk terjerat pinjaman online (pinjol).
“Pinjol itu ternyata bukan karena kebutuhan, tapi karena lifestyle, keinginan, gaya hidup. Kok si kawan kita itu tiba-tiba ganti handphone? Nggak mau kalah karena circle. Nah, ini yang membuat satu dari lima itu ternyata terlilit pinjol,” ungkap Waskito Vergino S.T., MBA, M.Sc. Area Manager Bank Syariah Indonesia Area Malang.
Melalui sesi tersebut, mahasiswa juga dikenalkan pada pentingnya membangun kebiasaan menabung sejak dini. Peserta diajarkan untuk menyisihkan setidaknya 10% dari setiap pendapatan untuk ditabung secara rutin dan disiplin, dengan menekankan bahwa menabung adalah menyisihkan, bukan sekadar menyimpan sisa.
Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D., Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB, memberikan perspektif akademis yang menarik. Alih-alih membacakan materi, ia merespons langsung dinamika diskusi yang berkembang di ruangan.
“Kalau kita tarik ke konsep dari ekonomi, ada namanya Intertemporal Consumption Theory. Perilaku kita dalam menerima pendapatan sebenarnya hanya dipengaruhi oleh dua hal, digunakan untuk konsumsi ataukah menabung,” jelas Prof. Setyo.
Ia menambahkan, menabung bukan berarti seseorang tidak melakukan konsumsi, melainkan menunda konsumsi untuk kebutuhan masa depan.
“Saving itu bukan berarti kita tidak konsumsi, cuma kita tunda. Bukan hari ini, bisa besok, bisa lusa,” ujarnya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan UB, Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H. (Foto: Istimewa)
Prof. Setyo juga mengapresiasi mahasiswa yang mulai memiliki kesadaran untuk menabung dan berinvestasi, termasuk dalam bentuk emas. Menurutnya, kesadaran tersebut penting karena nilai uang terus berubah dari waktu ke waktu.
Salah satu mahasiswa Data Science Universitas Brawijaya semester empat, Antony, menyampaikan pengalamannya mengenai kebiasaan menabung emas sejak kecil.
“Emas itu bisa mempertahankan nilai uangnya. Bisa menahan inflasi dan pasti nilainya itu naik, meskipun stabil naiknya. Jadi ketika kita sudah besar, sudah mau kerja atau sudah mau beli rumah, itu bisa dijadikan sebagai penggantinya dari emas ke rupiah,” tutur Antony.
Selain sesi talkshow dan sharing, acara juga dimeriahkan dengan games berhadiah yang semakin meningkatkan antusiasme peserta. Kehadiran Waskito Vergino S.T., MBA, M.Sc., Area Manager Bank Syariah Indonesia Area Malang, turut memperkaya diskusi dari sisi praktik perbankan syariah.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan semakin memahami pentingnya literasi keuangan, mulai dari mengatur pengeluaran, membangun kebiasaan menabung, memahami produk perbankan dan asuransi, hingga menghindari pinjol yang berisiko merugikan.
Dengan kemampuan finansial yang lebih baik, mahasiswa dapat menjadi generasi muda yang lebih mandiri, kritis, dan siap menghadapi tantangan ekonomi masa depan. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




