Mahasiswa reguler saat belajar bahasa isyarat. (Foto: Istimewa)
MALANG POST- Fakultas Ilmu Budaya dan Fakultas Ilmu Administrasi menggelar kegiatan Disability Awarness Session bertajuk Embracing Diversity, Empowering Inclusion di Aula FIB B Universitas Brawijaya pada Kamis (7/5/2026).
Ini upaya menumbuhkan kesadaran mahasiswa reguler terhadap teman-teman penyandang disabilitas, agar tercipta lingkungan belajar yang lebih inklusif dan suportif.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara mata kuliah Introduction to Inclusive Education Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Budaya dan mata kuliah Pendidikan Inklusi Program Studi S1 Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Administrasi.
Kolaborasi ini melibatkan para pengampu mata kuliah, yakni Dr. Ive Emaliana, M.Pd. dan Dr. Frida Unsiah, M.Pd. dari Fakultas Ilmu Budaya, serta Aulia Luqman Aziz, S.S., S.Pd., M.Pd. dan Dr. Khurotin Anggraeni, M.Pd.I dari Fakultas Ilmu Administrasi.
Kegiatan berlangsung pukul 08.00–10.00 WIB dengan menghadirkan dua mahasiswa penyandang disabilitas sebagai narasumber, didampingi Juru Bahasa Isyarat dari Pusat Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya, Cyndiarnis Cahyaning Putri, M.Kn.
Ketua Departemen Pendidikan Bahasa Fakultas Ilmu Budaya UB, Dr. Moh. Hasbullah Isnaini, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun kesadaran inklusi dalam kehidupan sehari-hari.
“Inklusi adalah tentang menghargai dan mencoba menjadikannya bagian dari kehidupan kita. Awareness harus kita tumbuhkan bersama. Saya bangga dengan kegiatan ini karena kita bisa melihat sisi lain kehidupan saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Dengan awareness, kita bisa bersanding dan hidup bersama,” ujarnya.
Ia juga mengajak mahasiswa memanfaatkan kegiatan tersebut dengan baik agar dapat belajar langsung dari pengalaman hidup para mahasiswa berkebutuhan khusus yang hadir sebagai narasumber.
Salah satu narasumber, Sania Khoridatur Rohmi, alumni S1 Akuntansi UB yang merupakan penyandang tuli sejak lahir, membagikan pengalamannya selama menjalani perkuliahan di kampus.
Ia menceritakan bagaimana masa perkuliahan saat pandemi COVID-19 yang banyak dilakukan melalui Zoom tetap memberikan tantangan tersendiri bagi mahasiswa tuli.
Menurut Sania, layanan pendampingan berupa Juru Bahasa Isyarat (JBI) di UB sangat membantu, meskipun pada masa itu jumlah pendamping dan pelatihan bahasa isyarat masih terbatas. Ia juga mengungkapkan bahwa penjelasan dosen maupun asisten dosen terkadang terlalu cepat sehingga menyulitkan proses memahami materi.
“Tuli bukan kata kasar. Tidak perlu merasa kasihan kepada kami, karena yang berbeda hanyalah cara komunikasinya,” jelas Sania di hadapan peserta.
Dalam sesinya, Sania juga memperkenalkan perbedaan budaya dengar dan budaya tuli, menjelaskan perbedaan BISINDO dan SIBI, serta membagikan etika berkomunikasi dengan penyandang tuli, seperti berbicara dengan jelas, menjaga kontak visual, menggunakan ekspresi dan gestur, hingga cara sederhana menarik perhatian seperti melambaikan tangan atau menepuk pundak secara sopan. Para peserta pun diajak belajar bahasa isyarat dasar secara langsung.
Narasumber lainnya, Johana Gabriela, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia angkatan 2021 yang merupakan penyandang tunanetra, turut membagikan perspektifnya mengenai kehidupan sehari-hari sebagai individu dengan hambatan penglihatan. Johana menjelaskan bahwa dirinya masih dapat melihat cahaya, namun tidak dapat melihat wajah orang dengan jelas.
“Saya biasanya mengenali orang dari gestur atau bahkan dari ciri khas wanginya,” ungkapnya sambil tersenyum.
Sementara itu, Aulia Luqman Aziz, S.S., S.Pd., M.Pd. menilai kolaborasi lintas kelas ini menjadi pengayaan pembelajaran yang penting bagi mahasiswa.
“Kegiatan kolaborasi kelas ini menjadi pengayaan materi bagi mahasiswa agar lebih mengenal siswa dengan disabilitas, tidak hanya secara teori, tetapi juga melalui pengalaman dan cerita langsung dari para narasumber,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami konsep pendidikan inklusif secara akademik, tetapi juga mampu menumbuhkan empati, kesadaran sosial, dan keterampilan berinteraksi secara lebih inklusif dalam kehidupan sehari-hari. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




