CERIA: Gabriel Silva mencetak dua gol kemenangan Arema atas Persis Solo. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Menjadi tuan rumah, bukan berarti harus menyerang habis-habisan. Agar bisa secepatnya mencetak gol dan memenangkan pertandingan. Tetapi dengan bermain cerdas dan pragmatis, terpenting bisa mempertahankan tiga poin kandang.
Itulah yang dilakoni Arema FC, ketika menjamu Persis Solo. Di pekan ke-28 Super League 2025/2026, di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang. Sabtu (18/4/2026) kemarin.
Pelatih Arema FC, Marcos Santos, tampaknya tahu betul, tim yang dihadapi adalah skuad yang sedang on top performance. Terbukti, delapan laga terakhir tidak pernah kalah.
Itulah sebabnya, pelatih asal Brasil itu, memilih menyiapkan jebakan-jebakan maut, untuk bisa membingungkan Milomir Seslija, sang arsitek Persis Solo yang pernah memoles Arema FC.
Utamanya saat Marcos Santos, memilih membangkucadangkan Dalberto Luan Belo dan memasang Joel Vinicus. Duet Gabriel ‘Gabi’ Silva dan Gustavo Franca, berada di belakang striker tunggal.
Pola permainan juga dibuah. Tidak seperti saat dipasang untuk mengalahkan Persita Tangerang, di pekan ke-27. Marcos memilih memakai pola 4-3-2-1 yang bisa diubah menjadi 5-2-3, tergantung bagaimana gempuran Persita.
Bukan itu saja, Marcos Santos juga lebih suka mempertebal pertahanan, dengan banyak menumpuk pemain di sektor belakang. Baru kemudian akan muncul memanfaatkan counter attack.
Perubahan itulah yang tidak disadari oleh Persis Solo. Karena tim berjuluk Laskar Sambernyawa ini, justru mempersiapkan tim untuk menghadapi Arema, seperti saat Singo Edan bermain di Banten International Stadium, untuk mengalahkan Persita.
“Kami menjalani laga yang tidak mudah. Ini mungkin merupakan game terburuk yang pernah kami jalani di liga.”
“Arema juga bermain sangat bagus. Mereka benar-benar berbeda. Tidak seperti saat lawan Persita. Kami benar-benar tidak menduga,” kata Milo, sebutan akrab pelatih Persis, dalam jumpa pers parcalaga.
Kekalahan Persis, memang terjadi karena mereka tidak siap dengan counter attack yang diterapkan Singo Edan. Dua gol yang tercipta ke gawang Muhamad Riyandi, semuanya lewat skema serangan balik.
Penciptanya memang hanya satu pemain. Gabriel Silva. Tetapi prosesnya dilakukan oleh pemain yang berbeda.
Seperti gol pertama di menit ke-17. Diawali dengan umpan terobosan Matheus Blade, yang mampu dikejar oleh Joel Vinicius. Melihat Gabi mulai merangsek naik, Joel memberikan umpan cutback. Dikontrol dengan dana dan dalam kondisi bola setengah voli, Gabi menendang si kulit bundar yang tak bisa dibendung Riyandi.
Gol kedua di menit ke-53, dihasilkan lewat skenario cerdas dari pemain Arema FC lainnya. Kali ini Rio Fahmi dengan Gustavo Franca yang bermain satu-dua sentuhan, memberikan ruang bagi Rio Fahmi untuk mengirimkan bola lambung ke arah kanan gawang Persis.
Pemain-pemain Persis di belakang, justru terpancing pergerakan Joel Vinicius yang sudah menunggu di mulut gawang. Tanpa melihat posisi Gabi yang terbebas.
Tak heran winger asal Brasil itu cukup mudah mengontrol bola. Menata bola di posisi yang pas, sebelum melakukan tendangan placing ke pojok kiri gawang, yang juga tidak bisa diselematkan kiper Persis.
“Kami sudah tahu laga melawan Arema tidak akan mudah. Tapi ini mungkin salah satu penampilan terburuk kami musim ini. Hasil ini bisa dibilang pantas,” ujar Milo.
Pihaknya juga menyoroti banyaknya kesalahan yang dilakukan para pemain, terutama di babak kedua. Menurutnya, meski tim sempat menguasai bola, tidak ada ancaman berarti yang bisa diciptakan ke gawang lawan.
“Kami banyak melakukan sentuhan, tapi tidak ada tembakan yang benar-benar mengarah ke gawang. Itu jadi masalah utama kami,” sebutnya dengan nada kecewa. (Ra Indrata)




