MALANG POST – Pemkot Batu mulai menata arah pembangunan 2027 dengan pendekatan yang lebih tajam dan terukur. Sebanyak 150 usulan strategis disaring dan dipetakan sesuai karakter tiap wilayah lewat Musrenbang RKPD 2027. Hasilnya, pembangunan tidak lagi seragam, melainkan spesifik menyasar kebutuhan riil di lapangan.
Kepala Bapelitbangda Kota Batu, Bangun Yulianto merinci komposisi usulan tersebut. Kecamatan Bumiaji mendominasi dengan 66 usulan, sementara Kecamatan Batu dan Junrejo masing-masing mengajukan 42 usulan. Seluruhnya kini dalam tahap sinkronisasi untuk disesuaikan dengan prioritas fiskal daerah.
“Setiap kecamatan punya kebutuhan berbeda, jadi pendekatannya juga tidak bisa sama,” ujar Bangun, Jumat (27/3/2026).
Kecamatan Batu, misalnya, akan difokuskan pada penataan kawasan perkotaan. Perbaikan drainase model u-ditch hingga peningkatan jalan permukiman menjadi prioritas untuk mengatasi persoalan genangan yang kerap muncul.
“Berbeda dengan itu, Kecamatan Bumiaji diarahkan sebagai pusat agrowisata sekaligus penguatan sumber daya manusia. Program sertifikasi bagi pelaku usaha hingga peningkatan kapasitas masyarakat menjadi bagian dari strategi tersebut,” papar Bangun.
Sementara itu, Kecamatan Junrejo diproyeksikan sebagai simpul konektivitas baru. Pembangunan jembatan penghubung dan jalan tembus disiapkan untuk mengurai kepadatan di jalur utama.

SAPA: Wali Kota Batu Nurochman saat menyapa para pegawai di lingkungan Pemkot Batu, di tahun 2027 ia akan menggenjot program yang langi berdampak pada masyarakat. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Di tengah keterbatasan fiskal akibat penyesuaian dana transfer pusat, Wali Kota Batu, Nurochman menegaskan, pemkot harus lebih selektif dalam menentukan program. Namun, ia memastikan komitmen terhadap kebutuhan masyarakat desa tetap terjaga.
Pemkot mengalokasikan maksimal dua usulan prioritas dari setiap desa yang akan dibiayai langsung melalui APBD. Skema ini di luar alokasi dana desa (ADD) yang sudah berjalan.
“Kita ingin hasil musrenbang tidak berhenti di atas kertas. Harus ada dampak nyata bagi masyarakat,” tegas Nurochman.
Ia menyebut, sisa kemampuan anggaran yang diproyeksikan sekitar Rp387,5 miliar akan difokuskan pada sektor strategis. Mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga penguatan ekonomi masyarakat.
Di sektor pendidikan, Program Seribu Sarjana dipastikan berlanjut dengan peningkatan kuota penerima manfaat. Menurutnya, investasi pada SDM menjadi kunci daya saing daerah ke depan.
“Ini investasi jangka panjang. SDM yang kuat akan menentukan masa depan Kota Batu,” ujarnya.
Sektor kesehatan juga tak luput dari perhatian. Pemerataan layanan dasar menjadi target, termasuk pembangunan fasilitas puskesmas dan pemenuhan sarana kesehatan di desa.
“Pelayanan kesehatan tidak boleh timpang. Semua warga harus punya akses yang sama,” imbuhnya.
Tak hanya itu, Pemkot Batu juga mendorong transformasi ekonomi melalui pembenahan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Peran BUMD diarahkan lebih konkret dalam menggerakkan UMKM, pertanian, hingga sektor pariwisata.
Untuk proyek besar seperti Mal UMKM dan Spiritual Botanical Garden, pemkot tidak sepenuhnya mengandalkan APBD. Skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) disiapkan sebagai alternatif pembiayaan.
“Kita harus adaptif. Yang penting program tetap jalan tanpa membebani keuangan daerah,” kata Nurochman.
Isu lingkungan turut menjadi perhatian. Percepatan pengelolaan sampah terpadu dan pembangunan infrastruktur ramah lingkungan masuk dalam agenda prioritas.
Dengan kombinasi pembangunan fisik dan penguatan ekonomi, Pemkot Batu berharap fondasi kemandirian daerah semakin kokoh pada 2027.
“Bukan soal banyaknya program, tapi seberapa besar dampaknya. Itu yang kita kejar,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)




