LEBARAN TELAH USAI. Suasana halal bihalal masih terasa di berbagai tempat mulai dari lingkungan keluarga, komunitas, hingga perkantoran. Namun, setelah kehangatan itu berlalu, kehidupan perlahan kembali ke ritme semula. Kita kembali bekerja, berusaha, dan mengais rezeki untuk melanjutkan kehidupan.
Bagi banyak orang, lebaran juga identik dengan pengeluaran besar. Gaji, THR, dan bonus seolah mengalir habis untuk memenuhi kebutuhan hari raya: membeli pakaian baru, mempercantik rumah, hingga berbagi kebahagiaan bersama keluarga. Semua itu menjadi bagian dari tradisi yang menghadirkan kebahagiaan tersendiri.
Di titik inilah, penting bagi kita untuk sejenak merenung: apa sebenarnya makna rezeki?
Sebagian orang masih memaknai rezeki sebatas pada materi mobil mewah, rumah besar, dan harta yang melimpah. Ukuran keberhasilan sering kali diukur dari apa yang tampak secara kasatmata. Padahal, rezeki tidak sesempit itu. Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, seorang ulama tafsir asal Mesir, menjelaskan bahwa rezeki mencakup segala hal yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia untuk menunjang kehidupan dan kebahagiaan.
Kesehatan, ketenangan hati, waktu luang, keluarga yang harmonis, hingga kesempatan untuk berbuat kebaikan merupakan bagian dari rezeki yang kerap luput dari perhatian. Tidak semua yang berlimpah harta merasakan ketenangan, dan tidak semua yang hidup sederhana kekurangan kebahagiaan.
Realitas di masyarakat menunjukkan bahwa jalan rezeki setiap orang tidaklah sama. Ada yang begitu lulus kuliah langsung mendapatkan pekerjaan. Namun, ada pula yang harus melalui proses panjang, menghadapi berbagai penolakan, bahkan merasa putus asa karena belum juga menemukan peluang. Hal serupa terjadi dalam dunia usaha: ada pedagang yang dagangannya ramai dan berkembang pesat, sementara yang lain harus berjuang keras menghadapi sepinya pembeli.
Perbedaan ini kerap memunculkan kegelisahan: apakah ini semata-mata soal usaha, atau sudah menjadi nasib?
Dalam ajaran Islam, manusia tidak diajarkan untuk menyerah pada keadaan. Kita diperintahkan untuk terus berikhtiar. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 11, bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka berusaha mengubah keadaan diri mereka sendiri.
Ikhtiar tidak hanya berbentuk usaha lahiriah, tetapi juga batiniah. Ikhtiar lahir adalah segala bentuk usaha nyata: bekerja dengan sungguh-sungguh, meningkatkan keterampilan, serta tidak mudah menyerah dalam menghadapi kegagalan.
Sementara itu, ikhtiar batin berkaitan dengan kedekatan kepada Allah SWT, seperti memperbaiki kualitas salat lima waktu, memperbanyak istighfar, melaksanakan qiyamullail (salat tahajud), bersedekah, menjaga silaturahmi, membaca Al-Qur’an, serta berbakti kepada kedua orang tua. Amalan-amalan ini sering kali menjadi pintu pembuka rezeki yang tidak disadari.
Kedua bentuk ikhtiar ini seharusnya berjalan beriringan. Usaha tanpa doa akan terasa hampa, sementara doa tanpa usaha tidak akan membawa perubahan nyata. Ketika keduanya dilakukan secara seimbang dan istiqamah, jalan menuju rezeki akan terbuka sering kali dengan cara yang tidak terduga.
Pada akhirnya, sukses bukan hanya tentang seberapa cepat atau seberapa banyak yang diperoleh. Sukses adalah tentang ketekunan dalam berusaha dan konsistensi dalam menjaga nilai-nilai kebaikan. Tidak jarang, keberhasilan datang kepada mereka yang bersedia melakukan hal-hal yang tidak dilakukan oleh kebanyakan orang baik dalam kerja keras maupun dalam menjaga hubungan dengan Tuhan.
Setelah lebaran ini, yang perlu kita perbarui bukan hanya semangat bekerja, tetapi juga cara pandang terhadap rezeki. Bahwa yang kita cari bukan sekadar yang banyak, melainkan yang berkah dan mampu menghadirkan ketenangan dalam hidup. (***)




