MALANG POST – Kepala Kepolisian Resor (Polres) Malang, AKBP Muhammad Taat Resdi, membuat gebrakan lingkungan, dengan melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai dan mewajibkan penggunaan anyaman besek bambu tradisional, sebagai media pengemasan daging kurban Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah di Mapolres Malang, Kepanjen, Rabu (27/5/2026). Langkah ekologis yang dikawal langsung oleh jajaran Satreskrim dan Humas ini, diterapkan pada pembagian logistik daging dari total 22 ekor sapi dan 73 ekor kambing kurban. Guna mengedukasi masyarakat Bumi Kanjuruhan agar lebih peduli pada isu pengurangan timbunan sampah plastik yang sulit terurai.
Selama ini, Anda sudah sangat hafal dengan pemandangan klasik saban hari raya kurban. Usai sapi disembelih dan dagingnya dipotong-potong, ribuan lembar kantong plastik hitam atau kresek bening langsung dikeluarkan dari lipatannya. Praktis, memang. Tapi dampaknya mengerikan: esok harinya, gunungan sampah plastik baru langsung menghiasi tempat pembuangan akhir (TPA).
Di sinilah indahnya logika berpikir Kapolres Malang, AKBP Muhammad Taat Resdi. Pria dengan melati dua di pundak ini ingin ibadah kurban jajarannya, tidak hanya membersihkan jiwa, tapi juga ikut membersihkan lingkungan.
Rabu siang tadi, pemandangan di koridor Mako Polres Malang tampak sangat kontras dari biasanya. Tidak ada tumpukan plastik kresek yang berbau menyengat kimia.
Sebagai gantinya, ribuan anyaman besek bambu kotak berjejer rapi. Wanginya khas: aroma bambu alami pedesaan yang segar.

Daging sapi jumbo yang sejak subuh dipotong secara higienis di Rumah Potong Hewan (RPH) Kepanjen, langsung digeser ke mako. Di sana, para personel polisi dengan telaten menimbang daging, lalu memasukkannya ke dalam kotak-kotak besek bambu tersebut sebelum ditutup rapat.
“Momentum Iduladha kali ini kami manfaatkan sekaligus sebagai panggung edukasi nyata bagi masyarakat. Kita harus mulai berani mengerem penggunaan sampah plastik sekali pakai. Caranya ya dengan memberi contoh langsung: memakai besek bambu sebagai pengganti kantong plastik,” ujar AKBP Muhammad Taat Resdi taktis, Rabu (27/5/2026).
Membeli ribuan besek bambu ini, juga punya efek domino ekonomi yang dahsyat. Secara tidak langsung, Polres Malang sedang menghidupkan kembali dapur-dapur perajin anyaman bambu tradisional di pelosok desa Kabupaten Malang, yang belakangan ini megap-megap dihantam serbuan wadah plastik murah buatan pabrik besar.
Volume hewan kurban yang dikelola Polres Malang tahun ini memang cukup raksasa. Ada 22 ekor sapi dan 73 ekor kambing yang disebar.
Bisa Anda bayangkan, jika satu ekor sapi dan kambing itu menghasilkan ratusan paket gizi, berapa ribu lembar kantong plastik yang berhasil diselamatkan dari bumi Kepanjen dalam satu hari ini saja? Ribuan!
Alur pembagian besek hijau ini dibedah lebih dalam oleh Kasihumas Polres Malang, AKP Bambang Subinajar. Menurut Bambang, penggunaan besek bambu ini jauh lebih aman secara medis untuk membungkus bahan pangan segar seperti daging sapi dan kambing ketimbang kantong plastik hitam daur ulang yang mengandung zat karsinogen berbahaya.
“Besek bambu itu punya sirkulasi udara yang bagus, jadi daging di dalamnya tidak cepat busuk atau menghitam. Selain aman untuk makanan, anyaman bambu ini sangat ramah lingkungan karena mudah terurai kembali ke tanah dalam waktu singkat,” urai Bambang Subinajar.
Paket-paket kurban dalam kotak bambu estetik itu kemudian didistribusikan secara bergelombang oleh petugas. Sasarannya mulai dari warga kurang mampu di sekitar mako, pengurus musala, takmir masjid pinggiran, hingga belasan pondok pesantren yang tersebar di wilayah Kabupaten Malang.
Anda sudah tahu: jargon-jargon mencintai lingkungan itu sangat mudah diucapkan di atas panggung seminar. Namun sangat sulit dieksekusi di dunia nyata saat berhadapan dengan urusan kepraktisan massa.
Polres Malang hari ini sukses membuktikan bahwa iman dan kepedulian lingkungan, bisa berjalan beriringan di atas lembaran anyaman bambu.
Mereka tidak hanya sukses membagikan protein hewani untuk perut rakyat yang lapar, tetapi juga berhasil memberikan kuliah umum tanpa menggurui tentang bagaimana cara merawat bumi dengan bijak.
Ketika kotak besek bambu itu mendarat di meja makan warga, di situlah esensi berkah Iduladha mengalir dengan murni—suci bagi jiwa, aman bagi raga, dan selamat bagi alam semesta. Selamat Iduladha yang hijau! (HmsResma/Ra Indrata)




