MALANG POST – Kepala Kepolisian Resor (Polres) Malang, AKBP Muhammad Taat Resdi, bersama jajaran pejabat utama (PJU), menggelar ibadah Salat Iduladha 1447 Hijriah secara berjamaah, di Lapangan Apel Mapolres Malang, Kepanjen, Rabu (27/5/2026) pagi. Kegiatan ibadah yang berlangsung khidmat di bawah panduan Imam sekaligus Khatib Dr. K.H. Soqiulah, M.Si. ini, diikuti oleh sedikitnya 800 warga sekitar markas komando (mako), guna memperkuat jalinan silaturahmi, kebersamaan, serta kemitraan strategis berbasis kultural keagamaan antara institusi Polri dan elemen masyarakat sipil.
Kantor polisi itu biasanya dipersepsikan dengan suasana formal. Kaku. Tempat urusan laporan perkara atau pemeriksaan hukum yang menegangkan.
Namun, tepat di hari raya kurban Rabu pagi ini, sekat birokrasi yang membatasi korps baju cokelat dengan rakyat itu runtuh seketika. Dilebur oleh kumandang takbir yang mengangkasa, dari pengeras suara Lapangan Apel Mapolres Malang di Kepanjen.
Sejak matahari belum meninggi, gerbang mako dibuka lebar-lebar. Karpet panjang digelar di atas aspal lapangan.
Lebih dari 800 warga dari berbagai penjuru luar mako, berbondong-bondong melangkah masuk. Mereka tidak membawa berkas perkara, melainkan sajadah di pundak.
Menariknya, Kapolres Malang yang baru, AKBP Muhammad Taat Resdi, memilih menanggalkan protokoler ketatnya. Dia langsung duduk bersila di barisan saf depan, berimpitan pundak dengan warga biasa.
“Salat Iduladha bersama ini merupakan bagian dari ikhtiar memperkuat kebersamaan. Ini adalah sarana kultural yang sangat efektif, untuk mempererat hubungan batin antara Polres Malang dengan masyarakat luas,” ujar Kasihumas Polres Malang, AKP Bambang Subinajar, Rabu (27/5/2026).

Suasana semakin hening saat Dr. K.H. Soqiulah, M.Si., naik ke atas mimbar khotbah. Sang kiai membawa pesan rohani yang mendalam, langsung menghujam ke sanubari ratusan jamaah.
Soqiulah membedah makna hakiki dari ritual kurban, yang tidak boleh sekadar dimaknai sebagai urusan memotong hewan ternak. Itu adalah pembuktian level ketaatan tertinggi seorang hamba kepada Sang Pencipta, sebagaimana perintah tegas yang termaktub di dalam Al-Qur’an, Surat Al-Kautsar ayat 2.
“Esensi utama dari Iduladha adalah keikhlasan, rasa syukur, dan meneladani keteguhan batin Nabi Ibrahim Alaihissalam. Syukur atas nikmat hidup itu tidak boleh berhenti di lisan, tapi wajib mewujud dalam hati dan amal perbuatan nyata membantu sesama manusia,” urai K.H. Soqiulah filosofis.
Bagi korps Bhayangkara, pesan khotbah dari atas mimbar itu rasanya seperti sentilan sekaligus vitamin rohani.
AKP Bambang Subinajar menambahkan, nilai-nilai pengorbanan dan keikhlasan yang diajarkan dalam sejarah Iduladha, sebenarnya tegak lurus dengan napas pengabdian institusi Polri. Menjadi polisi di zaman sekarang tidak bisa hanya bersandar pada hukum formal yang kaku.
“Momentum Iduladha mengajarkan kepedulian sosial yang konkret. Nilai-nilai spiritual ini menjadi pengingat bagi seluruh personel Polres Malang untuk terus hadir di tengah masyarakat, melayani dan mengayomi mereka dengan ketulusan hati,” jelas Bambang.
Anda sudah tahu: merajut kepercayaan publik (public trust) terhadap institusi kepolisian itu, tidak bisa dilakukan secara instan lewat baliho atau kampanye media sosial.
Kedekatan yang tulus justru lahir dari momen-momen sederhana seperti duduk bersanding di atas saf yang sama, mendengarkan khotbah yang sama, dan menundukkan kepala dalam doa yang sama.
Ibadah kelar, ratusan warga saling bersalaman dengan Kapolres dan para kasat. Lapangan apel yang biasanya dipakai untuk upacara disiplin kedinasan pagi ini sukses disulap menjadi altar silaturahmi yang sejuk.
Melalui untaian doa dan jabat tangan erat di hari kurban, Polres Malang telah melunasi tugasnya untuk tidak hanya hadir sebagai penegak hukum yang ditakuti, tetapi menjelma menjadi sahabat rakyat yang humanis dan berhati lembut. (HmsResma/Ra Indrata)




