MALANG POST – Suasana Kampung Ladu di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, mulai terasa lebih sibuk dari biasanya. Deretan rumah warga yang menjadi tempat produksi kue tradisional tampak dipenuhi aktivitas.
Tepung ketan diolah, adonan diuleni dan deretan ladu dijemur rapi di bawah terik matahari. Inilah Kampung Ladu, sentra pembuatan jajanan khas berbahan dasar beras ketan yang selalu kebanjiran pesanan menjelang Idul Fitri.
Salah satu perajin yang masih setia menjaga tradisi tersebut adalah Muhammad Mubin (52). Ia sudah hampir tiga dekade menekuni usaha pembuatan ladu secara rumahan. Usaha yang awalnya hanya melayani pasar kecil kini berkembang pesat hingga mampu menjangkau berbagai daerah.
“Sekarang pesanan datang dari Kediri, Jombang, Surabaya, sampai Jakarta. Bahkan ada juga yang masuk ke toko oleh-oleh di Malang Raya,” ujar Mubin, Kamis (5/3/2026).

PRODUKSI: Salah satu pengrajin makanan khas Kota Batu, Ladu tengah melakukan produksi, menjelang Idul Fitri jumlah pesanan mulai merangkak naik. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Menjelang Idul Fitri, Mubin mengaku permintaan ladu meningkat tajam. Jika pada hari biasa produksi hanya menyesuaikan kebutuhan pasar, pada musim Ramadan jumlah pesanan bisa melonjak berkali-kali lipat.
Dalam satu musim Ramadan hingga menjelang Lebaran, total pesanan yang ia terima dapat mencapai 5 kuintal hingga 1 ton. Kondisi tersebut membuat Mubin harus meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan.
“Kalau sudah Ramadan, kami produksi dari pagi, siang sampai malam. Yang penting pesanan bisa terpenuhi,” tuturnya.
Untuk memenuhi permintaan tersebut, setiap hari Mubin menghabiskan sekitar 30 kilogram beras ketan sebagai bahan baku utama. Proses produksi dilakukan bersama anggota keluarga, mulai dari istri hingga anak-anaknya.
Meski permintaan terus meningkat, proses pembuatan ladu di Gunungsari masih mempertahankan cara tradisional. Hal itu justru menjadi salah satu faktor yang membuat cita rasa ladu tetap khas.
Proses pembuatan diawali dengan menggiling beras ketan hingga menjadi tepung halus. Tepung tersebut kemudian dimasak dan dicampur dengan gula cair hingga membentuk adonan yang kenyal dan legit.
Setelah itu, adonan diuleni hingga merata sebelum dibentuk menjadi ukuran khas ladu. Tahapan berikutnya adalah penjemuran di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering sebelum masuk proses pengovenan.

Menurut Mubin, salah satu tantangan terbesar dalam produksi ladu adalah faktor cuaca. Proses pengeringan sangat bergantung pada panas matahari. Jika cuaca mendung atau hujan, waktu produksi otomatis menjadi lebih lama.
“Kendala utama memang cuaca. Ladu harus benar-benar kering sebelum dioven. Kalau belum kering, hasilnya bisa kurang bagus,” jelasnya.
Kampung Ladu di Desa Gunungsari sendiri telah lama dikenal sebagai sentra pembuatan ladu khas Kota Batu. Di kawasan ini terdapat sejumlah rumah produksi rumahan yang mempertahankan resep turun-temurun.
Selain menjadi sumber penghidupan bagi warga, keberadaan Kampung Ladu juga berpotensi menjadi daya tarik wisata kuliner. Pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan ladu secara tradisional, mulai dari pengolahan bahan hingga penjemuran.
Dengan permintaan yang terus meningkat setiap Ramadan, Kampung Ladu Gunungsari tak hanya mempertahankan tradisi kuliner lokal, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra produksi jajanan khas yang diminati hingga luar daerah. (Ananto Wibowo)




