MALANG POST – Berkurangnya dana transfer ke daerah (TKD) dari pemerintah pusat mulai menimbulkan efek domino ke berbagai sektor. Salah satunya dunia perhotelan di Kota Batu. Para pengusaha hotel kini dibuat waswas. Bukan tanpa alasan, sebab sektor yang selama ini bergantung pada kegiatan pemerintahan terancam makin lesu.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi mengungkapkan, bahwa segmen Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) masih menjadi tulang punggung utama pendapatan hotel di Kota Batu.
“Sekitar 60–65 persen kegiatan MICE di Kota Batu itu berasal dari agenda kedinasan,” ujar Sujud, Rabu (5/11/2025).
Menurutnya, sejak awal tahun kondisi perhotelan di Kota Batu memang belum pulih sepenuhnya. Okupansi hotel pada hari kerja (weekday) hanya berkisar 30 persen, sedangkan akhir pekan (weekend) masih bisa naik di kisaran 60–80 persen. Itu pun sangat bergantung pada momen liburan panjang atau event wisata.
“Biasanya, hari-hari biasa bisa tertolong karena banyak kegiatan pemerintahan seperti rapat, bimtek, atau diklat. Tapi sekarang nyaris tidak ada,” ujarnya.

Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Lesunya tingkat hunian itu juga diperparah oleh pergeseran perilaku wisatawan di tengah melemahnya daya beli masyarakat. Banyak wisatawan kini memilih berwisata tanpa menginap, atau memperpendek durasi tinggal di Kota Batu.
“Kalau dulu wisatawan bisa dua malam, sekarang cukup satu malam atau bahkan pulang hari,” kata Sujud.
Fenomena itu membuat banyak hotel harus melakukan langkah efisiensi. PHK memang dihindari, tapi sebagian besar hotel terpaksa mengurangi jam kerja karyawan.
“Misalnya yang dulu kerja enam hari, sekarang hanya empat hari seminggu. Gaji disesuaikan dengan jumlah hari kerja,” terangnya.
Dengan rencana pemangkasan TKD tahun anggaran 2026, pelaku perhotelan kian khawatir. Pasalnya, belanja perjalanan dinas dan kegiatan MICE pemerintah bakal terpangkas signifikan. Padahal, segmen inilah yang selama ini menjadi penyelamat hotel-hotel di Batu di tengah fluktuasi pasar wisata.
“Kalau agenda dinas makin berkurang, ya makin berat. Satu-satunya harapan hanya peningkatan kunjungan wisatawan umum,” tutur Sujud.
Ia berharap pemerintah daerah bisa mengalihkan fokus ke penguatan pasar nonpemerintah. Misalnya dengan menggandeng korporasi swasta, komunitas hobi, dan penyelenggara event independen.
“Kalau hanya mengandalkan tamu dinas, hotel-hotel di Kota Batu akan makin sulit bertahan,” imbuhnya.
Dari sisi pemerintah daerah, langkah penguatan sektor wisata terus dilakukan. Pemkot Batu melalui Dinas Pariwisata mulai mendorong event lokal berskala nasional untuk menutup celah berkurangnya kegiatan dinas. Tahun depan, sejumlah agenda besar seperti Batu Art Flower Carnival , Batu Street Carnival, hingga event olahraga dijadwalkan berlangsung rutin.
“Kota Batu punya potensi luar biasa. Kalau semua pihak, pemerintah dan pelaku usaha, bisa sinergi menggarap pasar nonpemerintah, sektor perhotelan pasti bisa bangkit lagi,” tutup Sujud. (Ananto Wibowo)




