BERSHOLAWAT: Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Ilfi Nur Diana, Lora Ismail Kholili, bersama para wakil rektor dan pimpinan UIN Malang lainnya, di UIN Maliki Bersholawat. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Sekitar 4.000 mahasantri memadati Sport Center Kampus 1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam perhelatan UIN Maliki Bersholawat di Malang, Kamis (22/10/2026), memperingati Dies Natalis ke-65 sekaligus mendengarkan pesan ketangguhan moral dari Lora Ismail Kholili.
Gedung Sport Center (SC) Kampus 1 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang bergemuruh oleh lantunan selawat dari sekitar 4.000 mahasantri. Suasana religius berpadu dengan keceriaan ketika Lora Ismail Kholili, cicit Pahlawan Nasional Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, mengajak para santri meneladani perjuangan ulama sekaligus membangun ketangguhan diri untuk menghadapi tantangan zaman.
Kemeriahan semakin terasa ketika sesi kuis interaktif digelar. Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., Lora Ismail Kholili, dan jajaran pimpinan universitas turut memberikan pertanyaan kepada mahasantri. Berbagai hadiah, mulai dari dua unit sepeda gunung, kipas angin, setrika, hingga doorprize menarik lainnya, kian memantik antusiasme peserta.
Tawa, tepuk tangan, dan sorak bahagia mewarnai kegiatan yang memadukan spiritualitas, pendidikan karakter, dan kebersamaan tersebut. Pesan yang mengemuka sederhana, tetapi mendasar: santri harus kuat dalam prinsip, tangguh menghadapi kesulitan, dan tetap bahagia dalam menjalani proses perjuangan.
UIN Maliki Bersholawat merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang jatuh pada 28 Oktober 2026, Lustrum XIII, sekaligus peringatan Hari Santri Nasional (HSN). Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor, Dewan Kiai Ma’had, jajaran pimpinan universitas, dan ribuan mahasantri Kampus 1.
Dalam ceramahnya, Lora Ismail Kholili mengingatkan bahwa menjadi santri bukan sekadar menjalani pendidikan agama atau menguasai kitab-kitab keislaman. Santri juga memikul tanggung jawab moral untuk meneruskan perjuangan para ulama dan kiai yang telah mengabdikan ilmu, tenaga, dan kehidupannya bagi umat, bangsa, dan negara.
Menurutnya, generasi muda harus memiliki daya juang yang kuat, tidak gampang patah semangat ketika menghadapi hambatan, serta tidak kehilangan arah hanya karena perjalanan menuju sukses memerlukan waktu dan pengorbanan.
Pesan agar Generasi Z tidak lemah, tidak lekas menyerah, dan tidak kehilangan semangat menjadi pengingat bahwa masa depan tidak dibangun melalui kemudahan semata, melainkan melalui kesungguhan, kedisiplinan, dan kesediaan menjalani proses.
Lora Ismail juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, termasuk meningkatnya kecenderungan stres di tengah kehidupan modern. Kemudahan fasilitas, menurutnya, tidak otomatis membuat seseorang lebih kuat dalam menghadapi pernak-pernik persoalan hidup.
Persoalan itu menegaskan pentingnya pendidikan yang tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual (intellectual quotient), tetapi juga membentuk kematangan emosional, kekuatan spiritual, dan ketahanan mental (adversity quotient). Generasi muda perlu dibekali kemampuan mengelola diri, belajar dari kegagalan, serta bangkit ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan.
Bagi santri, ketangguhan bukan berarti tidak pernah mengalami kesulitan, melainkan kemampuan untuk tetap belajar ketika menghadapi kegagalan, menjaga prinsip dalam tekanan, dan terus berusaha tanpa kehilangan tujuan hidup.
Pesan tentang ketangguhan itu memiliki relevansi kuat dengan sistem pendidikan UIN Maliki Malang yang mengintegrasikan kehidupan perguruan tinggi dengan tradisi pesantren melalui program Ma’had Al-Jami’ah selama satu tahun bagi mahasiswa baru.
Selama menjalani kehidupan ma’had, mahasiswa tidak hanya memperoleh pembelajaran keislaman dan pembiasaan ibadah, tetapi juga pengalaman hidup yang membentuk kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, serta kemampuan beradaptasi dalam lingkungan kolektif.
Nilai-nilai itu tidak cukup diajarkan melalui teori. Mahasiswa perlu mengalaminya dalam rutinitas keseharian: mengatur waktu, menaati aturan, menghormati sesama, menjalani kewajiban, dan belajar menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Inilah salah satu kekhasan UIN Maliki Malang: pendidikan tinggi tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi berikhtiar membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kedalaman spiritual (agung dalam anggun, anggun dalam agung).
Dalam perspektif pendidikan, perpaduan perguruan tinggi dan pesantren merupakan pendekatan pembentukan karakter melalui integrasi pengetahuan, pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman hidup. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk meraih keberhasilan pribadi, tetapi juga untuk menjalankan tanggung jawab sosial.
Oleh karena itu, mahasantri diharapkan mampu membawa nilai-nilai pesantren ke dalam kehidupan profesional dan pengabdian di masyarakat. Mereka dapat berkontribusi di berbagai bidang sesuai keahlian masing-masing dengan tetap menjadikan integritas, tanggung jawab, dan kemaslahatan sebagai orientasi.
Sebelum ceramah Lora Ismail Kholili, Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., menyampaikan sambutan dan motivasi kepada para mahasantri. Rektor juga memberikan apresiasi kepada panitia dan seluruh pihak yang telah menyukseskan UIN Maliki Bersholawat.
Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan sivitas akademika sekaligus menghidupkan tradisi keislaman di lingkungan perguruan tinggi. Selawat menjadi ekspresi kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus pengingat akan pentingnya meneladani akhlak, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maliki Malang, Prof. Dr. M. Abdul Hamid, M.A., selaku penanggung jawab (person in charge/PIC) Dies Natalis ke-65, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kesuksesan UIN Maliki Bersholawat.
Ia memberikan apresiasi khusus kepada Dewan Kiai Ma’had, Mudir Ma’had Dr. Izzuddin, M.Pd.I., bersama tim, serta Ketua Panitia Dies Natalis, dr. Yossi Utomo dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), beserta seluruh panitia yang terlibat. (Eka Nurcahyo)




