MALANG POST – Wali Kota Batu Nurochman memimpin aksi World Cleanup Day bersama aparatur sipil negara dan komunitas seniman di Pasar Induk Among Tani Batu, Jumat (25/9/2026), dengan memadukan kegiatan kebersihan lingkungan dan pembuatan galeri mural untuk memberantas sampah visual.
Peringatan Hari Kebersihan Sedunia atau World Cleanup Day (WCD) di Kota Batu, tidak sekadar diisi aksi bersih-bersih lingkungan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menggabungkan gerakan kebersihan lingkungan dengan kampanye penanganan sampah visual melalui karya seni mural.
Wali Kota Batu, Nurochman, bahkan turun langsung bergotong royong bersama aparatur sipil negara (ASN) dan komunitas seniman, Jumat (25/9/2026).
Rangkaian kegiatan diawali dengan apel bersama seluruh ASN di halaman Balai Kota Among Tani. Mengenakan kaus hitam, Nurochman kemudian mengajak jajaran Pemkot Batu bergerak menuju kawasan Pasar Induk Among Tani.
Pasar tersebut dipilih karena menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi utama masyarakat sekaligus wajah Kota Batu. Kebersihan kawasan pasar diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi pedagang maupun pengunjung.
Nurochman menjelaskan bahwa penggunaan kaus hitam menjadi simbol empati dan duka atas sejumlah bencana alam yang terjadi di Tanah Air, termasuk kebakaran hutan dan lahan, banjir bandang di Sumatra, serta gempa bumi di Flores.

WCD: Wali Kota Batu Nurochman saat bersih-bersih sampah di Pasar Induk Among Tani serta penyemprotan pertama untuk seni mural (foto bawah) dalam peringatan WCD 2026. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Namun, menurutnya, momentum WCD tidak boleh hanya dimaknai sebatas membersihkan lingkungan dalam satu hari semata. Gerakan tersebut harus mampu mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengurangi dan mengelola sampah secara berkelanjutan.
“World Cleanup Day bukan sekadar kegiatan bersih-bersih seremonial. Ini adalah momentum untuk mengubah kepedulian menjadi kebiasaan hidup sehari-hari,” tegas Cak Nur, sapaan akrab Nurochman.
Kebiasaan itu, lanjutnya, dimulai dari langkah sederhana: mengurangi timbulan sampah, memilah dari sumbernya, mendaur ulang barang yang masih bernilai guna, hingga tidak membuang sampah sembarangan.
Pemkot Batu mencatat capaian pengurangan sampah pada 2025 telah mencapai 64,50 persen. Gerakan Batu Greenation terus didorong agar pengelolaan sampah dimulai dari lingkungan rumah tangga.
“Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Pada Jumat dan Sabtu ini, lebih dari 10.000 relawan ikut bergerak. Ada kerja bakti, gotong royong, edukasi, kampanye, stasiun pengisian ulang (refill station), pembagian kompos gratis, dan berbagai aksi nyata lainnya,” jelasnya.
Ia berharap gerakan tersebut tidak hanya ramai saat peringatan WCD. ASN Pemkot Batu juga diminta menjadi teladan dalam menjaga kebersihan, mulai dari lingkungan kantor, rumah, hingga area publik.
“Jangan hanya ramai dalam satu hari, melainkan menjadi gerakan yang terus hidup setelah kegiatan ini selesai,” pintanya.
Usai membersihkan lingkungan pasar, kegiatan berlanjut dengan aksi kreatif bersama komunitas seniman mural. Cak Nur ikut melukis dan mewarnai tembok pagar Pasar Induk Among Tani yang disiapkan sebagai media ekspresi seni.
Pagar tersebut ke depan dirancang menjadi galeri seni terbuka yang menampilkan karya-karya bertema kelestarian lingkungan. Konsep ini sekaligus menjadi bagian dari langkah inovatif Pemkot Batu dalam mengentaskan persoalan sampah visual.
Cak Nur mengimbau masyarakat, terutama generasi muda, agar tidak menyalurkan jiwa seni dengan mencorat-coret fasilitas umum secara liar (vandalisme).

“Jangan sembarangan mencorat-coret tembok di tempat umum. Tuangkan kreativitas di ruang-ruang publik yang telah disiapkan oleh pemerintah,” imbaunya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni, menambahkan bahwa penataan ruang kreatif merupakan bagian dari strategi menertibkan sampah visual di Kota Batu, seperti baliho dan spanduk kedaluwarsa, atribut iklan yang tidak beraturan, hingga aksi vandalisme.
Pemkot Batu telah menetapkan delapan titik sebagai ruang kreatif, salah satunya Pasar Rindu Among Tani di kawasan Pasar Induk Among Tani yang difokuskan sebagai ruang karya seni bertema lingkungan hidup.
“Delapan ruang kreatif telah ditetapkan, termasuk Pasar Induk Among Tani yang akan menjadi pusat karya seni bertema lingkungan,” terang Dian.
Meski difungsikan sebagai ruang ekspresi bebas, pengelolaannya tetap berada dalam pengawasan Pemkot Batu karena memanfaatkan aset pemerintah daerah.
Dian menyampaikan bahwa setiap karya yang dibuat harus melalui koordinasi dan kolaborasi dengan Pemkot Batu, mulai dari penentuan tema hingga pemilihan lokasi.
“Pengawasan tetap dilakukan, terutama pada aset pemerintah. Kolaborasi diperlukan untuk menentukan keselarasan tema dan lokasi karya,” katanya.
Pemkot Batu juga memberikan stimulan bagi para seniman yang terlibat, berupa penyediaan cat, media berkarya, serta fasilitasi operasional selama proses pembuatan mural.
Seniman yang dilibatkan berasal dari ekosistem ekonomi kreatif, khususnya subsektor seni rupa dan desain. DLH bersama Komite Ekonomi Kreatif masih terus melakukan inventarisasi untuk menjaring lebih banyak komunitas kreatif di Kota Batu.
Melalui konsep terpadu ini, WCD di Kota Batu diharapkan tidak hanya menghasilkan lingkungan yang bersih dari sampah fisik, melainkan juga membebaskan kota dari sampah visual sekaligus menyediakan ruang ekspresi yang positif bagi masyarakat. (Ananto Wibowo)




