MALANG POST – Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Lingkungan Hidup menertibkan sampah visual di sejumlah protokol kota sekaligus menyediakan delapan ruang kreatif resmi di Batu, Jumat (25/9/2026), untuk memfasilitasi ekspresi seniman mural dan memberantas aksi corat-coret liar.
Permasalahan sampah di Kota Batu tidak melulu berupa limbah fisik yang berserakan di jalanan. Baliho dan spanduk (banner) usang, tata letak iklan yang semrawut, hingga corat-coret liar (vandalisme) di tembok fasilitas umum menjadi persoalan yang merusak estetika wajah kota.
Pemerintah Kota (Pemkot) Batu kini menangani persoalan tersebut secara berimbang dari dua sisi. Selain menertibkan sampah visual, pemerintah menyiapkan ruang resmi bagi para seniman untuk menuangkan kreativitas secara positif. Sebanyak delapan titik telah ditetapkan sebagai ruang kreatif yang dapat dimanfaatkan oleh para pelaku seni, termasuk seniman mural.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni, mengatakan bahwa penataan tersebut menjadi bagian dari momentum Hari Kebersihan Sedunia (World Cleanup Day/WCD) di Kota Batu. Gerakan kebersihan tidak hanya menyasar sampah fisik, melainkan juga sampah visual yang selama ini masih marak ditemui di jalan-jalan protokol.
“Selain bersih-bersih sampah fisik, kami juga menyasar sampah visual dan sampah periklanan (advertising). Kadang ada spanduk yang sudah lapuk masih menempel. Kemudian, sampah visual juga mencakup aksi vandalisme yang sering kita temui di beberapa titik jalan protokol,” ujar Dian, Jumat (25/9/2026).

SAMPAH VISUAL: Aksi vandalisme di halte bus Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Salah satu ruang kreatif yang mulai diwujudkan berada di kawasan Pasar Induk Among Tani. Tembok pagar pasar disiapkan sebagai media melukis mural bertema kelestarian lingkungan.
Menurut Dian, seni mural sangat berbeda dengan aksi vandalisme. Mural merupakan karya seni terstruktur yang memiliki konsep dan pesan moral, sedangkan vandalisme sekadar merusak fasilitas publik dan estetika kota.
“Di sini nanti temanya berkaitan dengan lingkungan. Ini sekaligus menjadi penanda bahwa Pasar Induk Among Tani menjadi ruang kreatif yang menggandeng kawan-kawan pemilik potensi di industri kreatif seni rupa,” jelasnya.
Pemilihan tema lingkungan juga diselaraskan dengan momentum Hari Jadi ke-25 Kota Batu. Pesan yang diusung adalah pentingnya menjaga kelestarian alam sekaligus memperkuat visi Kota Batu sebagai kota ekologis dan berkelanjutan.
Delapan titik yang telah ditetapkan sebagai ruang kreatif publik meliputi Hutan Kota Bondas, Alun-Alun Kota Batu, Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM, Pasar Induk Among Tani, Galeri Raos, Panggung Sendratari Arjuno Wiwaha, Batu Tourism Center (BTC), serta Lippo Plaza Batu.
Namun, keberadaan ruang kreatif tersebut bukan berarti bebas digunakan tanpa aturan baku. Dian menegaskan bahwa pemerintah tetap melakukan pengawasan ketat, terutama karena sebagian besar lokasi tersebut merupakan aset milik Pemkot Batu.
Seniman yang hendak berkarya diwajibkan berkoordinasi dan berkomunikasi terlebih dahulu dengan pemerintah daerah. Pembahasan mencakup keselarasan tema, konsep karya, hingga titik lokasi spesifik yang akan digunakan.
“Seperti di Pasar Rindu Among Tani, itu merupakan aset Pemerintah Kota Batu. Tentunya kami harus melakukan pengamanan aset. Kami memberikan ruang, tetapi para seniman harus berkomunikasi terlebih dahulu mengenai tema dan lokasinya,” katanya.
Ruang kreatif yang disiapkan juga tidak seluruhnya diperuntukkan bagi seni mural. Setiap lokasi memiliki peruntukan karakter seni yang berbeda. Salah satunya Panggung Sendratari Arjuno Wiwaha yang khusus diarahkan sebagai wadah pertunjukkan seni dan budaya.
Untuk mendukung para seniman, Pemkot Batu memberikan stimulan berupa penyediaan cat, media berkarya, serta fasilitasi operasional selama kegiatan berlangsung. Skema ini bersifat bantuan stimulan, bukan pembayaran jasa pembuatan mural berdasarkan luasan area.
“Ini bentuk stimulan dari pemerintah. Kami mendorong kegiatan ini dengan menyediakan cat, media berkarya, serta biaya operasional selama pelaksanaan,” terang Dian.
Sementara itu, para seniman yang dilibatkan diprioritaskan berasal dari ekosistem ekonomi kreatif, khususnya subsektor desain komunikasi visual dan seni rupa. Kendati demikian, DLH Kota Batu masih terus mendata kelompok-kelompok kreatif di wilayah setempat.
Dian menyampaikan bahwa pihaknya akan berkoordinasi erat dengan Komite Ekonomi Kreatif Kota Batu untuk menginventarisasi komunitas dan pelaku seni yang dapat dilibatkan secara berkelanjutan.
“Teman-teman yang bergabung dalam ekosistem ekonomi kreatif, salah satunya subsektor desain visual, terus kita rangkul. Kami berkoordinasi dengan Komite Ekonomi Kreatif untuk pendataan lebih lanjut,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)




