Persiapan patroli menggunakan drone. (Foto: Dok: UB Forest)
MALANG POST – Pengelola UB Forest menerjunkan teknologi drone termal Matrice 30T, yang dikombinasikan dengan patroli lapangan di kawasan hutan UB Forest, Karangploso, Kabupaten Malang, Selasa (8/9/2026), guna mendeteksi titik panas dari udara dan memitigasi risiko kebakaran hutan selama musim kemarau.
Pengelola UB Forest memanfaatkan drone termal Matrice 30T dalam mitigasi kebakaran hutan. Drone termal Matrice 30T yang dikombinasikan dengan patroli lapangan dimanfaatkan untuk mendeteksi keberadaan titik panas (hotspot) dari udara di sekitar kawasan UB Forest.
Teknologi tersebut membantu petugas memperoleh informasi awal mengenai lokasi yang memiliki indikasi kebakaran sebelum dilakukan pengukuran secara langsung di lapangan.
Koordinator Bidang Perlindungan dan Pengawasan Kawasan Hutan UB Forest, Dr. Muhammad Yusuf, S.Si., M.Si., mengatakan bahwa kondisi musim kemarau yang lebih kering meningkatkan risiko terjadinya kebakaran sehingga pemantauan kawasan perlu dilakukan secara lebih intensif.
Yusuf menjelaskan, drone termal digunakan untuk memantau dan mengecek keberadaan titik panas di kawasan maupun wilayah yang berada di sekitar UB Forest. Ketika ditemukan indikasi titik panas, petugas lapangan dapat segera diarahkan menuju lokasi untuk memastikan kondisi sekaligus melakukan penanganan apabila ditemukan api.
“Jika ada titik panas, langsung kami datangi untuk diperiksa. Jika ada titik api, itu segera kami padamkan,” kata Yusuf.
Dari hasil patroli pemantauan menggunakan drone, ditemukan titik api di wilayah perbatasan barat UB Forest pada 25–27 Agustus 2026. Titik api tersebut berada di luar kawasan UB Forest, tepatnya di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Meskipun berada di luar kawasan, keberadaan titik api tetap menjadi perhatian pengelola karena berpotensi merembet ke kawasan UB Forest apabila tidak segera ditangani.
“Setelah titik tersebut terdeteksi, staf lapangan kami langsung menuju ke daerah tersebut. Ada titik api, langsung kami padamkan,” ujar Yusuf.

Pemadaman lahan setelah mengetahui titik api. (Foto: Dok UB Forest)
Titik api tersebut berhasil dikendalikan sehingga tidak menyebar ke area yang lebih luas. Setelah pemadaman dilakukan, pengelola kembali melakukan pemantauan untuk memastikan tidak terdapat titik api susulan. Berdasarkan pengecekan lanjutan, kondisi kawasan UB Forest dinyatakan aman.
Pemantauan kembali menggunakan drone dilakukan untuk memastikan tidak ada titik panas baru yang muncul di kawasan. “Alhamdulillah masih aman, tidak ditemukan titik api. Teman-teman juga melakukan pengecekan lagi dengan menggunakan drone, tidak ada penemuan titik api,” kata Yusuf.
Koordinator KJF Bidang Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan, Rifqi Rahmat Hidayatullah, S.Hut., M.Si., menjelaskan bahwa penggunaan drone termal menjadi salah satu upaya untuk memperluas jangkauan patroli dalam mendeteksi potensi kebakaran. Teknologi tersebut melengkapi patroli konvensional yang dilakukan petugas dengan berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan.
Drone termal mendeteksi titik panas pada koordinat 7,824301° LS dan 112,572614° BT, dengan ketinggian lokasi sekitar 1.247 meter di atas permukaan laut (mdpl). Informasi koordinat tersebut kemudian menjadi acuan bagi petugas untuk melakukan pengecekan langsung ke lokasi.
“Drone termal itu kami gunakan untuk patroli deteksi dini kebakaran. Jika secara konvensional melalui patroli jalan kaki atau menggunakan sepeda motor jangkauannya terbatas, kami menggunakan drone agar jangkauannya lebih luas, efektif, dan efisien,” ujar Rifqi.
Menurut Rifqi, drone termal Matrice 30T dilengkapi sensor yang mampu mendeteksi suhu permukaan. Ketika terdapat area dengan suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi sekitarnya, petugas dapat mengarahkan drone ke lokasi tersebut untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kamera pada drone juga memiliki kemampuan perbesaran (zoom) sehingga petugas dapat melihat kondisi lokasi secara lebih jelas dan memastikan apakah titik panas yang terdeteksi merupakan api atau sumber panas lainnya.
Selain mendeteksi titik panas, perangkat tersebut dapat memberikan informasi koordinat lokasi secara langsung. Informasi tersebut membantu staf lapangan menentukan lokasi yang perlu segera didatangi untuk penanganan.
“Drone termal yang kami gunakan bisa mengetahui langsung koordinat lokasi jika terjadi kebakaran,” ujar Yulianto Muji Nugroho, S.Si., Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) UB Forest.
Dengan kemampuan tersebut, penggunaan drone memungkinkan petugas melakukan pemantauan area yang lebih luas dari udara. Dalam satu kali penerbangan, Matrice 30T dapat memantau area seluas sekitar 10 hektare hingga kisaran 60–80 hektare dengan jarak pemantauan maksimal 500 meter. Jangkauan tersebut membantu petugas memperoleh gambaran awal mengenai kondisi kawasan tanpa harus menyisir seluruh area secara manual.
Meskipun demikian, Yulianto mengatakan bahwa penggunaan drone termal tetap memiliki keterbatasan, terutama pada durasi penerbangan yang bergantung pada daya baterai.
“Drone termal ini memang membantu dalam proses deteksi, tetapi durasi penerbangannya terbatas. Sekali terbang paling sekitar 30 menit sehingga kalau ingin melakukan patroli dalam waktu yang lebih lama tentu membutuhkan baterai lebih banyak. Untuk pelaksanaannya, patroli dilakukan dua kali dalam seminggu. Selain itu, drone termal ini hanya membantu mendeteksi titik api dan tidak bisa langsung memadamkan api. Jadi, ketika ditemukan titik api, petugas tetap harus datang ke lokasi untuk melakukan pemadaman,” jelas Yulianto.
Keterbatasan tersebut membuat drone diposisikan sebagai alat pendukung dalam sistem deteksi dini, bukan sebagai pengganti patroli lapangan. Informasi dari udara menjadi dasar bagi petugas untuk menentukan lokasi yang perlu diprioritaskan.
Selain pemantauan menggunakan teknologi, pengelola UB Forest memperkuat upaya pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat dan petani yang beraktivitas di sekitar kawasan. Langkah tersebut penting karena aktivitas manusia, termasuk pembukaan dan pembersihan lahan dengan cara membakar, dapat meningkatkan risiko kebakaran ketika kondisi lingkungan sedang kering.
Rifqi mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai aktivitas yang berpotensi menimbulkan api. Menurutnya, api yang digunakan untuk membersihkan lahan tidak boleh ditinggalkan sebelum benar-benar padam karena bara yang tersisa dapat kembali memicu kebakaran dan menyebar ke vegetasi kering di sekitarnya.
“Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai aktivitas yang berpotensi menimbulkan api. Kami juga mengimbau agar pembakaran tidak dilakukan secara sembarangan dan api tidak ditinggalkan sebelum benar-benar padam. Bara yang masih tersisa dapat kembali memicu api dan menyebar ke vegetasi kering di sekitarnya,” ujar Rifqi.
Yusuf mengatakan bahwa pengelola juga melibatkan petani penggarap dalam menjaga kawasan hutan melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS). Keterlibatan tersebut diharapkan dapat memperkuat pengawasan karena petani dan masyarakat beraktivitas langsung di sekitar kawasan hutan.
“Jika ada insiden semacam titik api atau kebakaran, harapannya bisa saling membantu,” ujar Yusuf.
Menurut Rifqi, mitigasi kebakaran tidak dapat hanya mengandalkan teknologi. Kesadaran dan keterlibatan masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan tetap menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran sejak awal.
“Harapannya masyarakat, terutama petani yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan, semakin berhati-hati. Jika melakukan pembakaran untuk pembersihan lahan, jangan sampai ditinggalkan dan harus dipastikan apinya benar-benar padam karena kondisi musim kemarau seperti sekarang risikonya lebih besar untuk menyebar,” ujar Rifqi.
Dengan menggabungkan patroli lapangan, pemanfaatan drone termal, respons cepat terhadap titik panas, serta keterlibatan masyarakat dan petani, pengelola UB Forest berupaya memperkuat sistem deteksi dini dan pencegahan kebakaran. Langkah tersebut diharapkan dapat memastikan potensi kebakaran diketahui dan ditangani sedini mungkin sebelum berkembang dan mengancam kawasan hutan yang lebih luas. (*/M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




