DI BANDUNG: Aremania saat mendampingi Arema FC bertanding di Piala Presiden 2026. Ketika itu, Arema bermain di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang. (Foto: Cak Taufiq/Arema FC)
MALANG POST – Keputusan RUPS I.League yang resmi mencabut larangan awayday bagi suporter, menyambut bergulirnya Super League 2026/2027, disambut positif oleh Presidium Aremania Utas dengan tetap mengedepankan tradisi kulonuwun ke markas lawan, Selasa (8/9/2026).
Kerinduan mendampingi klub kebanggaan bertanding di kandang lawan akhirnya terobati. Pintu bagi kehadiran suporter tamu resmi dibuka kembali setelah sekian lama terkunci rapat.
Namun di mata Aremania, kebebasan itu tidak bisa dirayakan secara kebablasan.
Keputusan krusial pencabutan larangan awayday tersebut, ditetaskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Liga Indonesia Baru (LIB) di Jakarta, Rabu (26/8/2026) lalu.
Kebijakan anyar ini disambut gembira oleh Presidium Aremania Utas.
Koordinator Presidium Aremania, Ali Rifki, menegaskan bahwa meski regulasi sudah membebaskan kehadiran suporter tamu, organisasinya tetap memegang teguh etika dan tradisi kulonuwun (meminta izin).
Setiap pergerakan tur Aremania mendampingi Arema FC di laga tandang wajib mengantongi restu dari pihak tuan rumah.
Komunikasi dijalin secara berjenjang. Mulai dari manajemen tim lawan, panitia pelaksana (Panpel) terkait alokasi ticketing, kelompok suporter tuan rumah, hingga jajaran kepolisian wilayah setempat.
Standard Operating Procedure (SOP) tidak tertulis ini sejatinya sudah dijalankan Aremania Utas sejak musim lalu.
Bahkan ketika Komite Disiplin (Komdis) PSSI masih menebar ancaman sanksi denda, beberapa kelompok Aremania secara mandiri tetap hadir di tribun tandang Super League 2025/2026.
“Alhamdulillah, sekarang diperbolehkan. Ketika kita ingin bertandang, kalau tuan rumahnya memperbolehkan dan tidak ada suara satu pun menolak, kita berangkat,” ujar Ali Rifki, Selasa (8/9/2026).
Ali menegaskan Aremania akan menghormati sepenuhnya jika ada penolakan dari daerah tujuan. Organisasi dipastikan melarang tur resmi jika ada elemen tuan rumah yang keberatan.
“Kalau ada bagian dari tuan rumah, ada beberapa elemen atau ada satu saja elemen yang tidak menghendaki kita datang, organisasi pasti melarang untuk hadir,” tegasnya.
Guna menertibkan jemaah suporter, Presidium Aremania Utas telah memagari anggotanya dengan sistem internal yang terstruktur.
Pengaturan tur tandang dikontrol lewat jalur komunikasi ketat dari level organisasi hingga grassroots, termasuk kewajiban kepemilikan Kartu Tanda Anggota (KTA).
Di sisi penyelenggara liga, Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, mengingatkan bahwa pencabutan larangan bertandang bukan berarti tanpa batas kontrol.
Kehadiran suporter tamu tetap mempertimbangkan eskalasi rivalitas dan faktor keamanan daerah.
“Suporter away sudah diizinkan dengan catatan. Yang paling signifikan, tanggung jawab sepenuhnya ada di suporter di bawah pengendalian klub itu sendiri,” jelas Ferry Paulus.
Ferry menyebut rujukan aturan mengacu pada statuta yang telah diratifikasi. Dengan demikian, jika meletus pelanggaran suporter, hal itu menjadi beban tanggung jawab penuh pihak klub.
Khusus derby atau laga bernuansa rivalitas tinggi, pihak kepolisian tetap mengantongi kewenangan penuh untuk melarang kehadiran suporter tamu demi mengantisipasi risiko bentrok.
Ferry membeberkan bahwa sinyal hijau dari FIFA dan PSSI ini tak lepas dari modal manis hubungan antarsuporter pada laga-laga sebelumnya.
Sikap dewasa ditunjukkan saat suporter Persebaya Surabaya melawat ke Jakarta, atau ketika The Jakmania bertandang ke Surabaya tanpa gesekan berarti.
Pada musim 2026/2027, I.League bakal mengevaluasi pelaksanaan awayday dari laga ke laga, sementara sanksi pelanggaran tetap menjadi ranah yudisial Komdis PSSI. (Ra Indrata)




