WAWANCARA: Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat didampingi Kalaksa BPBD, Heru Mulyono dan Kepala SMKN 7 Malang, Suprijana, saat menjawab pertanyaan awak media usai membuka sosialisasi dan simulasi bencana, Selasa (8/9/2026). (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
MALANG POST – Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, membuka secara resmi pembekalan dan simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), yang diikuti 1.080 siswa SMKN 7 Malang, guna membangun kesiapsiagaan serta kemampuan evakuasi mandiri di lingkungan sekolah, Selasa (8/9/2026).
Bencana alam tidak pernah mengirimkan surat pemberitahuan, sebelum datang menerjang. Gempa bumi, tanah longsor, atau kebakaran bisa meletus kapan saja, tanpa memandang tempat—termasuk di tengah riuk rendah aktivitas belajar mengajar di sekolah.
Kunci utama menyelamatkan nyawa di detik-detik gawat tersebut, terletak pada kepanikan yang terukur serta penguasaan teknik evakuasi dasar.
Prinsip keselamatan itulah yang ditanamkan secara masif oleh Pemerintah Kota Malang.
Sebanyak 1.080 siswa kelas 10, 11, dan 12 dari total 1.500 murid di SMKN 7 Malang, digembleng wawasan dan keterampilan praktis penanganan kebencanaan.
Gelar pembekalan tersebut diampu langsung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, di lapangan utama SMKN 7 Malang, Selasa (8/9/2026).
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, hadir membuka acara secara langsung.
Wahyu menegaskan, urusan keselamatan saat bencana, tidak bisa diselesaikan secara individual tanpa pengetahuan yang benar. Setiap orang wajib menguasai teknik dasar penyelamatan diri.
“Kemampuan diri tingkat dasar tentang kebencanaan, sangat dibutuhkan bagi setiap individu. Minimalnya bisa mengevakuasi dirinya sendiri terlebih dahulu,” tegas Wahyu Hidayat, Selasa (8/9/2026).

TANGGAP DARURAT: Total ada 1.080 siswa SMKN 7 Malang, yang mempraktikkan simulasi keluar sekaligus lari ke lapangan, ketika sirine bencana gempa berbunyi keras dari halaman sekolah. (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
Wahyu menambahkan, jika situasi memungkinkan, warga sekolah yang sudah terlatih bisa mengulurkan tangan membantu evakuasi korban lain di sekitarnya.
Proses penyelamatan dan penanganan dampak bencana, membutuhkan ilmu serta keahlian khusus. Kunci utamanya adalah mengendalikan rasa panik.
“Siswa-siswi maupun guru, setidaknya telah mengetahui langkah dasarnya. Bagaimana penanganan bencana, tahapannya apa saja, mereka kita bekali. Nantinya pengetahuan ini bisa getok tular ke keluarga atau teman-temannya,” sambung Wahyu.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Kota Malang, Heru Mulyono, menjelaskan, program SPAB di SMKN 7 Malang merupakan bagian dari agenda besar penanggulangan bencana di kawasan perkotaan.
Program ini menyasar 44 satuan pendidikan yang diusulkan secara berjenjang, melalui jalur Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kelurahan dan kecamatan.
“Kita galakkan sosialisasi dan edukasi simulasi aman bencana, mulai jenjang PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA/SMK. Kami edukasi bagaimana sekolah bisa aman dan mampu menanggulangi bencana,” jelas Heru.
Plt. Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Malang, Dwi Hermawan Purnomo, membeberkan, maraton sosialisasi SPAB digelar sejak 31 Agustus hingga 15 September 2026 mendatang.
Penetapan 44 sekolah sasaran, didasarkan pada peta kerawanan wilayah serta tingginya potensi risiko bencana sekitar.
Di SMKN 7 Malang, materi tidak sekadar disajikan dalam bentuk teori atau literasi di dalam kelas.
Petugas BPBD memandu langsung praktik simulasi menghadapi guncangan gempa bumi, pembentukan Tim Satgas Bencana Sekolah, penentuan jalur evakuasi, hingga pemasangan sirine tanda bahaya.
“Siswa diajarkan cara mengamankan diri, lindungi kepala, lalu keluar menuju titik kumpul aman dari reruntuhan bangunan,” urai Dwi Hermawan.
Langkah proaktif Pemkot Malang disambut hangat oleh Kepala SMKN 7 Malang, Suprijana, S.Pd., M.M.
Suprijana menyampaikan apresiasi tinggi, karena sekolahnya mendapat kehormatan menjadi pelopor SPAB dari BPBD.
Ia menyebut, sebanyak 1.080 siswanya antusias menyerap materi, sementara 500 siswa lainnya belum bisa bergabung karena sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di luar sekolah.
“Ini ilmu pengetahuan dan pengalaman yang sangat bermanfaat. Gempa bumi sulit diprediksi kedatangannya. Minimal siswa kami paham langkah awal, tidak gampang panik, dan langsung lari menuju titik kumpul aman,” pungkas Suprijana. (Iwan Kaconk/Ra Indrata)




