MALANG POST – UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, menggelar wisuda sarjana dan pascasarjana Periode III 2026 bagi 1.600 mahasiswa di Malang, Sabtu (5/9/2026), sekaligus memperluas kerja sama dengan perusahaan multinasional dan internasional, demi membuka akses magang serta rekrutmen kerja bagi para alumni.
Demi memudahkan alumni dalam mengarungi dunia kerja setelah lulus, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang terus menggalang kerja sama dengan perusahaan-perusahaan, baik tingkat nasional maupun internasional. Setiap dosen yang mendapatkan riset diharapkan dapat memanfaatkan penelitiannya untuk perusahaan, sedangkan perusahaan wajib memberikan umpan balik (feedback) bagi kampus sebagai tempat magang dan kerja para alumni.
Hal itu ditegaskan oleh Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, S.Ag., M.Si., kepada para wartawan seusai wisuda sarjana dan pascasarjana Periode III 2026, Sabtu (5/9/2026). Sebanyak 1.600 mahasiswa dari berbagai fakultas diwisuda dalam dua tahap, yakni Sabtu dan Minggu (5–6/9/2026).
“Jadi, bukan sekadar kerja sama untuk KKN (Kuliah Kerja Nyata) atau PKM (Program Kreativitas Mahasiswa), melainkan juga tempat mereka magang,” jelas Ilfi.
Menurutnya, beberapa waktu lalu UIN telah menjalin kerja sama dengan perusahaan di Jepang, bahkan sudah memasuki tahap rekrutmen dan seleksi. Mengenai hasil akhirnya, Ilfi mengaku belum mengakses data terbaru. “Namun, yang jelas hal itu sudah terlaksana,” ungkapnya.

PROSESI: Suasana prosesi wisuda sarjana dan pascasarjana UIN Maliki Malang periode III 2026, Sabtu (5/9/2026). (Foto: Eka Nurcahyo/Malang Post)
Terbaru, ada dosen UIN Malang yang mendapatkan pendanaan riset dari LPDP yang diarahkan ke sektor industri. “Untuk penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kerja sama perusahaan tersebut dengan kampus, insyaallah dilaksanakan pada Senin (7/9/2026),” kata Prof. Ilfi.
Menurut Ilfi, sebenarnya sudah banyak perusahaan yang bekerja sama dengan kampus sebagai lokasi riset. Namun, kerja sama terbaru ini lebih difokuskan untuk tempat magang dan penyerapan tenaga kerja. Terkait dengan peluang kerja di luar negeri bagi alumni, Ilfi menyebut peminatnya cukup tinggi. “Tahap pertama ini dari Jepang dan banyak peminatnya. Tahap selanjutnya mungkin dari negara-negara lain,” jelasnya.
Oleh karena itu, Prof. Ilfi dalam prosesi wisuda tersebut menekankan pentingnya penguatan iman dan mental bagi para wisudawan. Penekanan ini dinilai krusial karena akhir-akhir ini banyak generasi muda yang terlepas dari koridor keagamaan. Tanpa iman dan mental yang kuat, seunggul apa pun tingkat pendidikannya, seseorang akan menjadi rapuh jika tidak dibentengi dengan nilai keagamaan dan spiritualitas.
Pesan kedua dari Prof. Ilfi adalah para wisudawan harus segera bertindak (action), tidak boleh bermalas-malasan (mager), serta tidak lagi bergantung kepada orang tua maupun dosen, melainkan harus mengandalkan kemampuan diri sendiri.
Mereka harus menjadi pelaku sejarah bagi masa depan mereka sendiri. Hal ini ditekankan oleh Prof. Ilfi mengingat tingginya angka pengangguran saat ini. Oleh sebab itu, para lulusan didorong untuk mencetak sejarah kariernya secara mandiri.
“Itu yang kami tekankan. Kampus telah menyediakan fasilitas, pembelajaran berkualitas, sertifikasi, hingga penguasaan bahasa sebagai modal. Sekarang kami menyerahkan bekal tersebut kepada para alumni dan orang tua agar mereka segera bertindak,” papar Ilfi.
Mengenai bekal untuk bersaing di dunia kerja, Prof. Ilfi menyebutkan bahwa kunci utamanya adalah penguasaan bahasa asing, pengetahuan, serta keterampilan (skill). “Keterampilan itu sangat penting, seperti keterampilan berkomunikasi. Makanya kami menyarankan kepada mahasiswa baru untuk aktif berorganisasi sebagai sarana aktualisasi diri,” jelasnya.
Selain itu, guna meningkatkan kualitas dan jumlah mahasiswa yang memiliki keahlian teruji, UIN Malang berupaya mendirikan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Belum lama ini, sebanyak 130 mahasiswa telah mendaftar program sertifikasi profesi gratis tersebut, yang sebagian besar berasal dari program studi Teknologi Informasi (TI). Langkah ini diambil untuk meningkatkan daya saing di dunia kerja melalui sertifikasi kompetensi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Banyak lulusan TI, tetapi jika tidak bersertifikasi, tentu yang dijadikan pertimbangan utama adalah yang memiliki sertifikat kompetensi. Program sertifikasi ini akan kami perbanyak lagi sesuai dengan kebutuhan seluruh fakultas,” pungkas Prof. Ilfi. (Eka Nurcahyo)




