Oleh: Dahlan Iskan
Dua sejoli sudah disepakati untuk berjanji sehidup semati. Kini mereka sedang berjuang untuk hidup; semoga tidak keburu mati: Two Countries Twin Parks.
Seperti itulah kondisi “iklim ekonomi” kita saat ini. Semangat membangun ekonomi kalah oleh gegap gempita politik.
Tahun pemilu masih jauh, tetapi persiapannya sudah menguras tenaga: ada yang korupsi untuk menghadapi pemilu, ada pula yang memberantas korupsi sekadar untuk menghadapi pemilu.
Pembangunan iklim ekonomi terabaikan, termasuk program Two Countries Twin Parks.
Sebenarnya ide itu bagus sekali. Kita tidak sekadar mengundang investor asing untuk membangun kawasan industri di Indonesia. Sudah banyak industrial park biasa di Indonesia, tetapi belum ada yang dibangun secara khusus berdasarkan “perkawinan kawasan industri”.
Maka, dua negara sepakat untuk memulainya: Tiongkok dan Indonesia. Lokasi kawasan industrinya juga sudah ditunjuk. Yang di Indonesia berlokasi di Batang, Jawa Tengah. Yang di Tiongkok berada di Provinsi Fujian, tepatnya dekat ibu kotanya, Fuzhou.
Kalau ide itu terlaksana, kedua kawasan industri itu sebenarnya dibuat “sepasang”. Setiap pabrik yang ada di sini memiliki hulu di sana. Setiap pabrik yang ada di sana memiliki hulu di sini—tergantung di mana bahan bakunya berada.
Seandainya bahan bakunya ada di Indonesia, proses pengolahan menjadi barang setengah jadi dilakukan di Batang, lalu dikirim ke pabrik “sejoli” yang ada di sana. Begitu pula sebaliknya.
Sudah dua tahun kelanjutan pembicaraan soal Two Countries Twin Parks ini mengalami slowdown. Tidak pernah terdengar lagi langkah majunya. Saling tunggu.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyampaikan closing statement dalam acara “The City of Blessings” China-Indonesia Economic and Trade Exchange dan Matchmaking Conference Two Countries Twin Parks, Rabu, 26 November 2025.(Foto: Ekon.go.id-Ekon.go.id)
Pihak kawasan industri tentu tidak bisa terus-menerus menunggu. Perusahaan apa pun, begitu investasi sudah dikucurkan, harus berpikir keras kapan mulai ada pemasukan. Terpaksalah kawasan industri mencari pengusaha yang mau membangun pabrik di lokasinya—tidak harus lagi yang sifatnya sejoli. Apa saja diterima. Yang tadinya ideal berubah menjadi pragmatis.
Memang banyak masalah yang masih harus dibicarakan di kedua belah pihak. Persoalan yang paling nyata adalah ketentuan bea masuk dan pajak ekspor. Two Countries Twin Parks tidak akan ada gunanya kalau tidak ada perlakuan khusus. Tidak cukup hanya dengan tax holiday dan kemudahan perizinan, melainkan harus sampai pada pembebasan bea masuk di kedua sisi.
Hal itu bukan hal yang mustahil, bahkan mudah. Tinggal menjadikan kawasan industri yang ditunjuk sebagai kawasan berikat (bonded zone atau 粘结区). Toh kita sudah memiliki kawasan seperti itu, bahkan sudah ada sembilan lokasi, mulai dari Medan, Karawang, hingga Morowali.
Rasanya sudah lama kita tidak membahas ide-ide pengembangan ekonomi. Perhatian kita terus terserap ke perebutan pengaruh, kekuatan, dan kekuasaan. Kalaupun masih ada yang seru dalam pembahasan ekonomi, itu adalah bahasan tentang Koperasi Desa Merah Putih dan pengaruh Makan Bergizi Gratis (MBG) pada ekonomi arus bawah.
Kita memang harus mengejar “uceng dalam jumlah yang amat banyak”, tetapi tidak boleh kehilangan “satu deleg”.
Waktu tumbuh besar di desa, saya suka mencari ikan. Namun, saya tidak pernah tahu ikan mana yang disebut “ikan uceng”. Saya juga tidak pernah tahu ikan wader mana yang lebih besar yang bernama “deleg”. Akan tetapi, Anda pun tahu maknanya: mengejar yang kecil hingga kehilangan yang besar.
Tentu yang dikejar Koperasi Desa Merah Putih adalah uceng. Namun, karena jumlahnya sangat banyak, nilainya bisa lebih bermakna dibanding satu deleg.
Meski begitu, kita tetap tidak boleh kehilangan deleg. Agar tidak deleg-deleg—Wilwa pasti tidak tahu makna deleg-deleg dalam bahasa Mandarin. (Dahlan Iskan)


