MALANG POST – Ambisi Kota Batu menancapkan taringnya sebagai destinasi wisata berkelas dunia (go international), bukan lagi sekadar retorika di atas kertas. Perpaduan ciamik antara objek wisata alam, buatan, kuliner, hingga sport tourism kini mulai memikat ceruk pasar wisatawan mancanegara (wisman).
Data Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Batu mencatat, sepanjang Januari hingga Juni 2026, sebanyak 25.363 turis asing mendatangi Kota Batu. Dominasi turis disumbang oleh wisatawan asal Tiongkok, Malaysia, dan kawasan Asia Pasifik.
Sengkarut target kunjungan wisman, diplomasi promosi lintas negara, hingga tantangan SDM lokal dibedah tuntas dalam talk show Idjen Talk di Radio City Guide 911 FM pada Sabtu (1/8/2026) kemarin.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto, optimistis mematok target 50 ribu kunjungan wisman hingga penghujung tahun 2026 seiring rata-rata kedatangan turis yang menyentuh 3.000 hingga 4.800 orang per bulan. Wisata alam di kawasan Bumiaji dan Oro-Oro Ombo kini menjadi primadona baru melengkapi megahnya wisata buatan.
“Strategi promosi luar negeri kita masifkan lewat jaringan Tourism Promotion Organization (TPO) Asia Pasifik. Hasilnya nyata, profil pariwisata Kota Batu kini rutin mengudara di stasiun radio Busan, Korea Selatan. Tahun ini kami juga fokus mengembangkan gastronomic tourism (wisata kuliner berbasis budaya) hasil komitmen bersama Kemenpar,” beber Onny.
Tak sekadar memburu angka kuantitas kunjungan, Dispar mulai menyuntikkan konsep green tourism menuju zero waste di destinasi wisata serta membangun fasilitas pedestrian yang ramah bagi pejalan kaki.
Kunci Sukses: Sertifikasi SDM dan Pemberdayaan Warga
Menanggapi lompatan besar ini, Ketua Prodi D3 Perjalanan Wisata UNMER Malang, Aprilia Rachmadian, menilai branding internasional Kota Batu sudah berada di lintasan yang tepat (on the right track).
Namun, Aprilia memberi catatan kritis bahwa megahnya destinasi dan promosi digital tidak akan berdampak jangka panjang tanpa dibarengi kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) di tingkat akar rumput.
“Pelaku wisata lokal, khususnya pengelola desa wisata, wajib mengantongi sertifikasi kompetensi pemandu wisata agar standar pelayanannya sekelas standar internasional. Pengembangan pariwisata tidak boleh hanya menguntungkan segelintir pengusaha, tapi wajib memberdayakan warga sekitar agar roda ekonomi menetes ke bawah,” tegas Aprilia.
Panggung internasional telah terbuka lebar bagi Kota Batu. Sinergi antara promosi global Dispar, konsep pariwisata hijau berkelanjutan, serta penguatan kompetensi warga lokal menjadi modal utama agar Kota Batu tak sekadar jadi perlintasan, melainkan destinasi impian dunia. (Yolanda Oktaviani)




