PELAJARAN: Asisten Unit Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran (SP) dan Pengawasan SP-PUR Bank Indonesia Malang, Tri Riasari, saat memberikan materi dalam ToT Guru dan Pembekalan Kelas Duta PEKA, Jumat (31/7/2026). (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, menggelar Training of Trainers (ToT) Guru dan Duta PEKA di Malang Town Square pada Jumat (31/7/2026), guna memperkuat edukasi perlindungan konsumen digital, sekaligus membeberkan ekspansi layanan QRIS antarnegara yang kini sudah menjangkau enam negara dunia.
Di balik kemudahan dan kepraktisan dompet digital (e-wallet) serta transaksi nontunai, ada potensi risiko keuangan yang tak boleh diabaikan. Kecepatan teknologi yang kian memanjakan publik wajib diimbangi dengan kewaspadaan tingkat tinggi.
Pesan krusial itulah yang digaungkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang saat menggelar Training of Trainers (ToT) Guru dan Pembekalan Kelas Duta PEKA (Peduli, Kenali, Adukan) di Malang Town Square (Matos), Jumat (31/7/2026).
Acara yang diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian flagship event Sapta Rona Pesona 2026 tersebut menyasar para pendidik tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Malang serta para pemuda terpilih yang masuk dalam program Duta PEKA.
Asisten Unit Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran (SP) dan Pengawasan SP-PUR Bank Indonesia Malang, Tri Riasari, membeberkan bahwa edukasi ini bertujuan membentuk “benteng pertahanan” literasi di lingkungan sekolah dan masyarakat umum.
“Melalui ToT ini, titik berat kami ada pada perlindungan konsumen. Di era digital ini, kewaspadaan transaksi nontunai harus terus ditingkatkan. Jangan sampai masyarakat terlena oleh kemudahan,” tegas Tri Riasari di sela-sela kegiatan.
Sari—sapaan akrabnya—mengharapkan para guru dan Duta PEKA dapat menjadi perpanjangan tangan Bank Indonesia untuk menularkan pemahaman perlindungan konsumen kepada para siswa, keluarga, hingga lingkungan sekitar.
Dalam sesi diskusi, kekhawatiran terbesar para peserta tertuju pada keamanan menyimpan uang bernilai besar di platform dompet digital seperti GoPay, DANA, maupun ShopeePay.

SERIUS: Para pendidik tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Malang, yang mengikuti TOT Guru dan Pembekalan Kelas Duta PEKA, Jumat (31/7/2026). (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Sari menegaskan, menyimpan dana di aplikasi e-wallet pada dasarnya aman selama penyedia jasa dompet digital tersebut telah mengantongi izin resmi dari Bank Indonesia. Namun, aspek penentu utama tetap berada di tangan pengguna.
“Keamanan itu tergantung dari pemilik akun sendiri. Kuncinya jangan pernah membagikan atau membocorkan data rahasia seperti PIN, kode OTP, dan sandi kepada siapa pun. Selain itu, ada batasan saldo tertentu. Contohnya pada ShopeePay, batas maksimal saldo di akun e-wallet ditentukan hingga Rp20 juta,” jelas Sari.
Tak hanya menyoal perlindungan konsumen, forum ToT tersebut juga membedah peta perkembangan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang meroket di wilayah Malang Raya dan sekitarnya.
Menanggapi lonjakan volume transaksi QRIS yang sempat menembus angka 166 persen secara tahunan (year-on-year), Sari menjelaskan adanya perbedaan tren antara pertumbuhan pengguna baru (user) dan volume transaksi.
Secara umum, pertumbuhan jumlah pengguna baru QRIS di masyarakat kini memang mulai melandai. Hal itu wajar lantaran tingkat penetrasi pasar sudah sangat tinggi—sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini telah memiliki dan menggunakan aplikasi pembayaran QRIS.
Namun sebaliknya, grafik volume transaksi QRIS justru terus menunjukkan tren kenaikan yang sangat tajam. Masyarakat tidak cuma sekadar punya aplikasi, tetapi sudah menjadikan QRIS sebagai metode pembayaran utama dalam aktivitas sehari-hari.
“Pengguna barunya mungkin melandai karena memang mayoritas warga sudah pakai QRIS. Tapi untuk volume dan frekuensi transaksinya terus melonjak sangat tinggi. Setiap tahun Bank Indonesia menetapkan target berkelanjutan, baik untuk penambahan merchant, jumlah pengguna baru, maupun volume transaksi,” paparnya.
Daya jangkau QRIS pun tak lagi terkungkung di dalam negeri. Bank Indonesia secara agresif memperluas ekspansi QRIS Cross-Border (QRIS Antarnegara) hingga ke panggung internasional.
Hingga pertengahan 2026 ini, QRIS sudah resmi terkoneksi dan dapat digunakan secara langsung di enam negara. Thailand menjadi pelopor pertama, dilanjutkan oleh Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Jepang, dan yang paling gress adalah Tiongkok (China).
Langkah inovatif BI tak berhenti di situ. Saat ini bank sentral sedang mematangkan penjajakan kerja sama interkoneksi sistem pembayaran digital dengan dua negara strategis lainnya: India dan Uni Emirat Arab (UEA).
Kerja sama dengan Uni Emirat Arab menjadi salah satu terobosan yang paling dinantikan publik Indonesia.
“Rencana konektivitas QRIS dengan Uni Emirat Arab ini tujuannya sangat jelas, salah satunya untuk mempermudah jamaah umrah dan haji asal Indonesia saat bertransaksi di sana. Penggunaannya sangat tinggi, jadi ke depan transaksi di Tanah Suci bakal jauh lebih praktis dan aman,” pungkas Sari. (Ra Indrata)




