MALANG POST – Kejuaraan paralayang internasional IPAC 3rd Series, dalam rangkaian Batu International Sport Tourism Festival (BISTF) 2026, resmi dibuka di Landing Zone Songgomaruto Kota Batu pada Jumat (31/7/2026), menghimpun rekor terbanyak 75 atlet dari Indonesia dan Malaysia guna memacu sektor pariwisata serta ekonomi daerah.
Kota Batu kembali menegaskan hegemoninya sebagai magnet utama sport tourism di Tanah Air. Pesona alam Gunung Banyak dan keramahan kotanya terbukti ampuh menyedot antusiasme para pilot paralayang dari dalam maupun luar negeri.
Hal itu terlihat jelas dalam perhelatan Batu International Sport Tourism Festival (BISTF) 2026 Paragliding Accuracy League yang dirangkai dengan International Paragliding Accuracy Championship (IPAC) 3rd Series.
Kejuaraan dunia nomor ketepatan mendarat itu resmi dibuka, Jumat (31/7/2026), di Landing Zone Paralayang Songgomaruto, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu. Sejak pagi, langit berhias atraksi akrobatik para atlet dunia yang menyuguhkan aksi memukau sebelum genderang kompetisi dimulai.
Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Onny Ardianto, membeberkan fakta menarik. Penyelenggaraan seri ketiga di Kota Batu mencatatkan rekor peserta terbanyak dibanding dua seri pendahulunya.
Pada IPAC Series 1 di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, tercatat diikuti 44 atlet. Sementara Series 2 di Kotabaru, Kalimantan Selatan, hanya diikuti 30 atlet. Adapun di Kota Batu jumlah peserta melonjak hingga 75 atlet.
“Alhamdulillah, responsnya sangat luar biasa. Seri di Kota Batu menjadi yang paling banyak pesertanya dibandingkan daerah lain,” ujar Onny penuh syukur.

ADU SKIL: Sebanyak 75 atlet paralayang lonal dan internasional akan beradu skil dalan event BISTF 2026 Paragliding Accuracy League. (Ananto Wibowo/Malang Post)
Dari total 75 pilot yang berlaga, 64 atlet berasal dari berbagai penjuru Indonesia—mulai dari Sulawesi, Kalimantan, Jawa Barat, Lombok, hingga tuan rumah Kota Batu yang menerjunkan 16 atlet terbaiknya. Sementara 11 pilot lainnya merupakan kontingen asal Malaysia.
Tak sekadar menang jumlah, kasta kompetisi di Kota Batu tergolong sangat tinggi. Ketua Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Jatim, Arif Eko Wahyudi, menjelaskan bahwa dari 20 pilot paralayang terbaik dunia saat ini, lima di antaranya turun gunung di IPAC Series 3. Salah satunya adalah atlet kebanggaan Kota Batu yang sudah mendunia, Jafor Megawanto.
Tingginya level kompetisi ini sejalan dengan prestasi mentereng Indonesia di kancah internasional. Berdasarkan pemeringkatan dunia periode Januari hingga Juli 2026, Indonesia berada di peringkat ketiga dunia untuk nomor ketepatan mendarat, persis di bawah Tiongkok dan Kosovo.
Arif juga menyoroti pergeseran demografi atlet yang sangat menarik. Sektor olahraga ekstrem ini ternyata tak lagi didominasi wajah-wajah lama.
“Sebanyak 62 persen peserta merupakan anak-anak Generasi Z. Disusul generasi milenial 28 persen dan Gen X sekitar 9,3 persen. Ini bukti paralayang makin digandrungi anak muda. Bahkan peserta termuda berusia 14 tahun dari Malaysia, dan yang tertua 59 tahun, juga dari Malaysia,” paparnya.
Mengingat tingginya tingkat risiko olahraga udara ini, Komandan Lanud Abdulrachman Saleh sekaligus Ketua FASI Daerah Jawa Timur, Marsma TNI Reza R.R. Sastranegara, memberikan wejangan keras terkait aspek keselamatan (safety).
“Paralayang ini olahraga dengan risiko tinggi. Saya selalu ingatkan agar keselamatan menjadi prioritas utama yang tak bisa ditawar. Di samping itu, junjung tinggi sportivitas dan kebersamaan,” tegas Danlanud.
Sementara itu, Wali Kota Batu, Nurochman, menilai event BISTF 2026 bukan sekadar ajang adu tangkas mendarat di udara, melainkan etalase diplomasi pariwisata Kota Batu di mata internasional.
Pria yang akrab disapa Cak Nur ini optimistis kehadiran puluhan atlet, juri, ofisial, hingga keluarga dan wisatawan pendukung bakal membawa multiplier effect nyata bagi perekonomian lokal. Okupansi hotel, usaha kuliner, hingga perajin UMKM di Kota Batu dipastikan memetik berkahnya.
“Melalui event ini adalah cara kami memperkenalkan Kota Batu kepada dunia. Kita ingin orang datang ke Kota Batu bukan hanya karena wisata alamnya, kami ingin olahraga menjadi pintu masuk untuk mengenalkan budaya, keramahan masyarakat, serta potensi ekonomi lokal yang kita miliki,” pungkas Cak Nur. (adv/Ananto Wibowo)




