MALANG POST – Kesenian bantengan terus menunjukkan eksistensinya, sebagai salah satu identitas utama budaya Kota Batu. Tidak hanya menjadi ruang pelestarian tradisi, festival budaya ini terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat secara berkelanjutan, Rabu (29/7/2026) malam.
Kesenian bantengan terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu identitas budaya Kota Batu. Tidak hanya menjadi ruang pelestarian tradisi, festival bantengan juga terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
Hal itu disampaikan Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, saat menghadiri Awarding Night Bantengan Nuswantara 18th Trance Festival 2026 di Sanggar Batik Banteng Agung, Dusun Binangun, Desa Bumiaji, Rabu (29/7/2026) malam.
Kegiatan tersebut menjadi malam apresiasi bagi para pelaku seni, sesepuh, dan komunitas bantengan yang selama hampir dua dekade konsisten menjaga serta mengembangkan kesenian tradisional tersebut hingga tetap lestari di tengah arus modernisasi.
Dalam sambutannya, Heli menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh penggiat seni yang telah mengawal Festival Bantengan Nuswantara sejak pertama kali digelar pada 2008. Berkat konsistensi itu, festival ini kini tidak hanya dikenal di tingkat nasional, melainkan juga mulai menyedot perhatian peserta dari mancanegara.

PENGHARGAAN: Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto saat menerima penghargaan dalam event Awarding Night Bantengan Nuswantara 18th. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
“Bantengan Nuswantara bukan hanya menjaga warisan budaya, melainkan juga menyatukan masyarakat dan memberi manfaat nyata bagi perekonomian. Saya berharap semangat para penggiat seni terus terjaga agar budaya ini semakin berkembang dan menjadi kebanggaan Kota Batu,” ujarnya.
Menurut Heli, penyelenggaraan festival budaya memiliki dampak multiplier yang jauh lebih luas dibanding sekadar pertunjukan seni panggung. Setiap perhelatan mampu menciptakan perputaran ekonomi karena melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, galeri seni, hingga kelompok penyandang disabilitas yang turut berpartisipasi.
Oleh karena itu, Pemkot Batu berkomitmen untuk terus memberikan dukungan penuh terhadap berbagai kegiatan seni dan budaya sebagai bagian dari upaya menjaga warisan leluhur sekaligus memperkuat sektor pariwisata daerah.
Menuju Puncak Festival dan Pengakuan Warisan Budaya Takbenda
Awarding Night menjadi penutup rangkaian kegiatan sebelum puncak perhelatan Bantengan Nuswantara 18th Trance Festival 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 2 Agustus 2026, di pusat Kota Batu.
Puncak festival tersebut diproyeksikan melibatkan ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan diikuti oleh peserta dari luar negeri. Kehadiran mereka diharapkan tidak hanya memperkuat eksistensi bantengan sebagai warisan budaya, tetapi juga memberi dampak positif signifikan bagi industri pariwisata dan UMKM Kota Batu.

Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Heli menegaskan bahwa bantengan adalah warisan tradisi yang sudah lama mengakar kuat di tengah masyarakat. Bahkan, Bantengan Nuswantara telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) milik Kota Batu oleh kementerian terkait.
“Melalui event ini, kami ingin bantengan tidak hanya dikenal sebagai atraksi lokal, melainkan juga bertransformasi menjadi destinasi wisata budaya kelas dunia,” tuturnya.
Bahkan, kesenian ini sudah beberapa kali ditampilkan di panggung internasional, salah satunya di Osaka, Jepang. Pemkot Batu melalui Dinas Pariwisata (Disparta) juga aktif menjalin kerja sama lintas negara untuk mengenalkan seni bantengan secara lebih luas.
“Dengan cara ini, wisata budaya dapat tumbuh beriringan dengan wisata alam dan wisata buatan yang ada di Kota Batu,” tambahnya.
Festival Bantengan Nuswantara digelar rutin setiap bulan Agustus dan telah menjadi salah satu ikon pariwisata budaya utama Kota Batu.
“Kami ingin menjadikan Kota Batu sebagai Kota Wisata Budaya yang utuh. Event ini adalah salah satu penopang utamanya, apalagi antusiasme publik internasional dari tahun ke tahun semakin besar,” pungkasnya. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




