MALANG POST – Jalan tembus yang dirancang untuk memperlancar akses, justru memicu perbedaan sikap di lingkungan warga. Polemik penutupan jalan di sisi timur Perumahan Griya Shanta, Kota Malang, masih berlanjut. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, kini mendorong penyelesaian melalui dialog agar konflik tidak semakin meruncing.
Penutupan jalan tersebut, merupakan bentuk protes warga terkait rencana pembangunan jalan tembus menuju Jalan Simpang Candi Panggung. Perbedaan sikap antara warga yang mendukung dan menolak penutupan, membuat persoalan di lingkungan RW 12 itu belum menemukan titik temu.
Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra mengatakan, pertemuan dengan warga telah menghasilkan perkembangan positif. Salah satu Ketua RW, disebut bersedia membuka ruang diskusi untuk membahas penyelesaian persoalan tersebut.
“Saat pertemuan dengan warga akhirnya menghasilkan perkembangan positif. Kami sudah menjelaskan bahwa Pemkot Malang yang mempunyai wacana untuk membuat jalan tembus menuju Jalan Simpang Candi Panggung itu, bertujuan untuk kepentingan masyarakat secara umum.”
“Dengan demikian, salah satu Ketua RW bersedia membuka ruang diskusi untuk mencari jalan keluar,” kata Widjaja, Jumat (9/10/2026).
Menurutnya, komunikasi menjadi langkah penting untuk mempertemukan kepentingan warga yang berbeda. Penyelesaian persoalan itu juga melibatkan unsur kewilayahan, mulai dari ketua RW, lurah, hingga camat.
Dishub Sebut Penutupan Bertentangan dengan Aturan
Widjaja menegaskan, penanganan polemik tetap perlu mengacu pada ketentuan yang berlaku. Ia menyebut tindakan penutupan jalan tersebut, bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
“Kalau kami luruskan sesuai ketentuan, tindakan itu sudah melanggar. Melanggar! Sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” tegasnya.
Meski demikian, Dishub tidak ingin terburu-buru mengambil langkah, tanpa membuka ruang komunikasi. Pemerintah Kota Malang masih mendorong dialog, untuk mencari solusi yang dapat diterima pihak-pihak terkait.
“Yang terpenting adalah sesuatu hal itu harus ada jalan keluarnya. Jangan sampai ditutup maksud saya, kalaupun ada suatu yang tidak cocok, mari kita diskusikan dan semuanya itu butuh proses,” ujarnya.
Widjaja berharap perbedaan pandangan, tidak membuat hubungan antarwarga semakin renggang. Menurutnya, persoalan yang belum menemukan kesepakatan perlu dibicarakan bersama agar penyelesaian tidak berhenti di tengah jalan.
Solusi Masih Menunggu Koordinasi
Hingga kini, Dishub belum merinci bentuk penyelesaian yang akan ditempuh untuk mengakhiri polemik penutupan jalan tersebut. Widjaja menyerahkan komunikasi lanjutan kepada Ketua RW dengan pendampingan pihak kelurahan dan kecamatan.
Ia juga belum menjelaskan secara terperinci, alasan warga yang menolak penutupan jalan. Menurutnya, pertemuan sebelumnya belum membahas persoalan tersebut secara mendalam.
Untuk agenda berikutnya, Dishub masih menunggu koordinasi dari Ketua RW 12 dan pihak kelurahan. Pertemuan lanjutan diharapkan dapat memperjelas perbedaan kepentingan sekaligus membuka jalan menuju penyelesaian.
Dengan belum adanya kesepakatan final, polemik penutupan jalan di sisi timur Griya Shanta masih menjadi pekerjaan rumah bagi pihak-pihak terkait. Dialog berikutnya akan menentukan arah penyelesaian persoalan yang menyangkut akses jalan dan kepentingan warga tersebut. (Nino Wiwantara/Ra Indrata)




