MALANG POST – Wali Kota Batu Nurochman meminta Pemerintah Desa Sidomulyo memasang kamera pengawas (CCTV) di area Jembatan Prambatan, usai aksi gerakan Sabers Pungli ke-191 menemukan tumpukan limbah popok bayi bekas pakai di aliran Sungai Brantas, Kota Batu, Senin (5/10/2026).
Aksi resik-resik aliran Sungai Brantas di kawasan Jembatan Prambatan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu, mengungkap persoalan pencemaran lingkungan yang serius. Di tengah tumpukan sampah domestik yang berhasil dievakuasi para relawan, ditemukan limbah popok bayi (pampers) bekas pakai dalam volume yang sangat signifikan.
Temuan tersebut langsung dilaporkan kepada Wali Kota Batu, Nurochman, yang ikut mengarungi aliran Sungai Brantas bersama ratusan peserta aksi. Cak Nur, sapaan akrab Wali Kota, menginstruksikan Pemerintah Desa (Pemdes) Sidomulyo untuk segera memasang kamera pengawas (CCTV) di sekitar kawasan Jembatan Prambatan–Sukorembug.
Langkah preventif itu dinilai krusial guna mengidentifikasi oknum warga yang sengaja membuang sampah ke aliran sungai. Terlebih, popok bekas pakai tergolong kategori sampah residu berbahaya yang sulit terurai naturally serta berpotensi mencemari ekosistem perairan.
“Telah ditemukan pembuangan sampah popok bekas dalam jumlah yang banyak di Sungai Brantas. Saya berharap Pemdes Sidomulyo segera memasang CCTV di sekitar Jembatan Prambatan–Sukorembug agar pelaku pembuang sampah dapat teridentifikasi,” ujar Nurochman, Senin (5/10/2026).
Sebelumnya, bersama jajaran relawan, Cak Nur turun langsung menyusuri sungai di sisi timur jembatan untuk memunguti sampah plastik dan limbah rumah tangga. Setelah itu, ia memantau kegiatan pembersihan secara simultan di sejumlah titik sepanjang bantaran Brantas.
Temuan sampah popok tersebut menjadi catatan kritis tersendiri dalam gerakan Sapu Bersih Nyampah Nyemplung Kali (Sabers Pungli) yang telah memasuki tahun kesembilan perjalanannya. Persoalan kebersihan sungai dinilai bukan sekadar urusan estetika aliran air, melainkan cerminan budaya dan perilaku masyarakat di daratan.

NYEMPLUNG KALI: Wali Kota Batu Nurochman saat nyemplung kali bersama ratusan relawan untuk membersihkan sampah di aliran Sungai Brantas Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Sejak diinisiasi pada 2017, Sabers Pungli telah mencatatkan 191 aksi nyata di lapangan. Gerakan berbasis komunitas ini kini tidak hanya berfokus pada aksi fisik mengangkat sampah dari sungai, melainkan mulai memperkuat edukasi perubahan perilaku serta pengurangan sampah sejak dari sumbernya (waste at source).
“Sembilan tahun dan 191 aksi menunjukkan satu hal fundamental, bahwa menjaga kelestarian lingkungan membutuhkan konsistensi,” tegas Cak Nur.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah akhir. Kebiasaan memilah dan mengolah sampah dari lingkup rumah tangga dinilai sebagai langkah sederhana yang berdampak luas bagi kelestarian daya dukung lingkungan.
“Mari bersama-sama menjaga sungai, tidak membuang sampah sembarangan, dan mulai memilah sampah dari rumah. Dengan begitu, sungai tetap bersih dan alirannya terjaga lancar,” imbuhnya.
Kepala Desa Sidomulyo, Subandri, menyambut positif instruksi Wali Kota tersebut. Pihaknya berkomitmen untuk segera menindaklanjuti pengadaan dan penempatan unit CCTV di titik-titik rawan pembuangan sampah liar di kawasan jembatan.
Subandri berharap keberadaan kamera pemantau dapat memberikan efek jera (deterrent effect). Apabila di kemudian hari terbukti ada oknum warga yang sengaja membuang limbah popok, pihak desa siap mengambil tindakan tegas sesuai norma yang berlaku.
“Jika CCTV sudah terpasang dan ditemukan oknum yang membuang sampah popok ke Sungai Brantas, akan kami tindak lanjuti dan kami viralkan di media sosial agar pelakunya jera,” imbau Subandri.
Aksi pembersihan hulu Sungai Brantas ini melibatkan kolaborasi lintas elemen. Di antaranya 100 personel dari Politeknik Angkatan Darat (Poltekad), 150 mahasiswa dan dosen Universitas Negeri Malang (UM), 50 perwakilan Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri), 50 Anggota Tim Penggerak PKK Kota Batu, serta 100 personel gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), jajaran kepolisian, dan masyarakat lokal.

Selain pembersihan sungai, perhelatan dimeriahkan dengan jalan sehat lingkungan (Trash Walk), penebaran bibit ikan air tawar, ritual adat Slametan Banyu, serta forum dialog Njagong Kali Brantas.
Dalam kesempatan tersebut, Pemkot Batu memberikan apresiasi atas konsistensi Sabers Pungli dalam mendokumentasikan data basis lingkungan. Salah satu kontribusi nyata adalah pemetaan 273 titik sumber mata air di Kota Batu yang kini dijadikan rujukan penyusunan kebijakan lingkungan daerah.
Inisiator Sabers Pungli, Doddy Eko Wahyudi, menekankan bahwa temuan sampah di perairan sejatinya hanyalah cerminan dari muara persoalan tata kelola sampah di daratan. Oleh karena itu, gerakan Sabers Pungli ke depan akan lebih menitikberatkan pada intervensi pencegahan dari hulu.
“Sembilan tahun perjalanan memberi kami refleksi mendalam bahwa sampah di sungai hanyalah muara dari persoalan yang jauh lebih panjang, mulai dari pola konsumsi, kebiasaan membuang, hingga jarak spiritual manusia dengan sumber air kehidupan,” papar Doddy.
Menurut Doddy, Sabers Pungli akan memperkuat kampanye pemilahan sampah mandiri dari rumah, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, perpanjangan usia guna barang melalui program Ruang Guna, serta edukasi ekologis di tingkat keluarga.
“Sungai tidak hanya membutuhkan tangan yang memungut sampah, tetapi manusia yang bersedia mengubah gaya hidupnya,” imbaunya.
Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur yang juga Wali Kota Batu periode 2017–2022, Dewanti Rumpoko, menggarisbawahi pentingnya edukasi lingkungan yang ditanamkan sejak usia dini. “Menjaga kebersihan sungai dan lingkungan merupakan tanggung jawab kolektif agar Kota Batu tetap bersih, indah, dan lestari,” pukas Dewanti. (Ananto Wibowo)




