MALANG POST – Harga cabai rawit di tingkat petani kawasan Lesti, Kota Batu, melonjak menembus Rp60 ribu per kilogram akibat menipisnya pasokan dan kekeringan pada lahan pertanian tadah hujan di puncak musim kemarau, Senin (5/10/2026), sementara harga di pasaran meroket hingga Rp67.500.
Harga komoditas cabai rawit di tingkat petani kawasan Kota Batu kembali meroket. Di sejumlah wilayah sentra produksi, komoditas holtikultura yang identik dengan sensasi pedas tersebut kini telah menyentuh angka Rp60 ribu per kilogram (kg).
Lonjakan harga tersebut dipicu oleh makin terbatasnya pasokan dari tingkat produsen. Sebagian besar lahan pertanian di wilayah setempat masih mengandalkan sistem irigasi tadah hujan. Memasuki puncak musim kemarau saat ini, sejumlah areal pertanaman mengalami kekeringan sehingga belum dapat ditanami kembali.
Kondisi tersebut secara langsung mendegradasi volume produksi cabai rawit. Ketersediaan stok di tingkat petani kian menipis, sementara tingkat permintaan pasar tetap tinggi. Sesuai hukum hukum penawaran dan permintaan (law of supply and demand), keterbatasan pasokan di tengah tingginya serapan pasar mendorong grafik harga bergerak naik.
Bagi kalangan petani yang masih mengolah lahan produktif, fluktuasi harga ini menjadi berkah tersendiri. Banderol di kisaran Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram dinilai cukup menguntungkan, terutama bagi tanaman yang tengah memasuki masa panen raya.
Sutiani, seorang petani cabai di wilayah Lesti, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, menjadi salah satu petani yang mengecap manisnya lonjakan harga tersebut. Tanaman cabai miliknya mulai memasuki masa petik sejak Agustus dan diproyeksikan berlangsung hingga Oktober.

MAKIN PEDAS: Harga cabai rawit di tingkatan petani saat ini sudah tembus sekitar Rp60 per kilogram imbas dari kemarau panjang. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Menurut Sutiani, patokan harga di atas Rp50 ribu per kilogram amat membantu petani mengover biaya operasional produksi, mulai dari pemeliharaan tanaman, pembelian pupuk dan pestisida, hingga upah tenaga kerja pemetik saat panen.
“Apabila harganya di atas Rp50 ribu per kilogram, tentu sangat menguntungkan. Hasilnya mampu menutup operasional perawatan sekaligus membayar upah buruh pemetik yang membantu saat panen,” tutur Sutiani, Senin (5/10/2026).
Meski demikian, melambungnya harga tidak lantas mencerminkan kondisi finansial seluruh petani sedang membaik. Pasalnya, tidak semua petani memiliki areal tanaman yang siap panen. Sebagian besar lahan warga belum dapat ditanami kembali akibat krisis pasokan air.
Keterbatasan pasokan dilaporkan tidak hanya dialami petani lokal. Distribusi cabai rawit dari luar daerah turut menyusut. Faktor cuaca ekstrem dan penyusutan luas tanam produktif menyebabkan ketersediaan komoditas tersebut kian langka di pasaran.
“Jika pasokan terus terhambat, kemungkinan harga masih berpeluang melonjak. Saat ini saja pasokan dari petani lokal maupun kiriman luar kota sudah mulai langka,” imbuh Sutiani.
Dinamika ini membuat harga cabai rawit bergerak fleksibel mengikuti ketersediaan barang di lapangan. Petani yang memiliki tanaman produktif berpeluang mengantongi pendapatan lebih memadai, sedangkan petani dengan lahan bera harus bersabar menunggu pasokan air kembali normal.
Di tingkat konsumen akhir, kenaikan harga ini menjadi beban tersendiri. Cabai rawit merupakan salah satu komoditas bahan pangan pokok yang pergerakan harganya sangat sensitif terhadap gejolak pasokan (supply shock).
Dengan sebagian besar lahan tadah hujan yang belum kembali produktif, pergerakan harga cabai rawit untuk sementara waktu masih bergantung pada dua faktor utama: kecepatan pemulihan produksi petani lokal serta volume pasokan kiriman dari daerah sentra produksi luar wilayah. Selama pasokan belum pulih, harga cabai rawit diprediksi bertahan di level tinggi.
Sementara itu, berdasarkan data resmi yang dihimpun dari Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur per Senin (5/10/2026), harga cabai rawit di tingkat pedagang eceran pasar tradisional mencapai Rp65.000 hingga Rp67.500 per kilogram. Adapun harga cabai merah besar dipatok Rp32.500 per kilogram dan cabai merah keriting berada di kisaran Rp42.500 per kilogram. (Ananto Wibowo)




