MALANG POST – Hamsah (22), anak buruh sawit di Sabah Malaysia, meraih predikat Wisudawan Terbaik D-3 Teknik Listrik ITN Malang di Kota Malang, Minggu (13/9/2026), setelah sukses menciptakan alat Pembangkit Listrik Tenaga Surya hybrid guna membantu krisis energi di pelosok perkebunan.
Keterbatasan ekonomi tidak pernah memadamkan semangat Hamsah untuk meraih pendidikan tinggi.
Putra dari pasangan buruh sawit, Hasan dan Nurmiati (seorang ibu rumah tangga), ini berhasil menobatkan dirinya sebagai Wisudawan Terbaik Teknik Listrik D-III pada Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang).
Pria kelahiran Polewali Mandar, Sulawesi Barat, ini meraih IPK 3,65. Capaian tersebut lahir dari ketekunan panjang seorang anak yang sejak usia empat tahun diboyong orang tuanya merantau ke Sabah, Malaysia.
Dari empat bersaudara, Hamsah menjadi satu-satunya yang berkesempatan mengecap bangku kuliah. Ia menamatkan sekolahnya di SMK Brantas Karangkates berkat beasiswa dari Yayasan BJ Habibie.

“Di keluarga, yang sekolah sampai tinggi hanya saya. Kakak-kakak tidak lanjut karena sekolah di sana sangat jauh. Saya bersyukur bisa dapat beasiswa ke Malang,” ujar Hamsah mengenang perjalanan studinya.
Sebagai bagian dari syarat kelulusannya di perguruan tinggi, ia menyusun tugas akhir berjudul “Rancang Bangun PLTS untuk Aplikasi Hybrid sebagai Media Praktik Laboratorium” di bawah bimbingan Ir. Eko Nurcahyo, M.T., dan Bima Romadhon Parada Dian Palevi, S.T., M.T.
Inovasi ini berawal dari realitas di tempat tinggal orang tuanya di pelosok perkebunan kelapa sawit Sabah, Malaysia. Wilayah tersebut belum tersentuh listrik negara sehingga warga terpaksa bergantung pada nyala generator set (genset) yang terbatas dari pukul 18.00 hingga 22.00 waktu setempat.
Hamsah merancang purwarupa (prototype) Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hibrida berkapasitas daya 200 Wp (dua panel polikristalin 100 Wp) yang dipadukan dengan Solar Charge Controller (SCC) MPPT 30A, inverter hibrida 24V 600W, serta penyimpanan energi baterai Lithium Iron Phosphate (LiFePO4) 24V 60Ah.
Sistem hibrida ini bekerja secara otomatis memindahkan pasokan listrik ke PLN jika batas aman baterai tercapai, begitu pula sebaliknya jika listrik PLN padam.
Menurutnya, dalam pengujian laboratorium, alat ini mampu menyuplai berbagai beban rumah tangga hingga 200 Watt, seperti lampu LED, kipas angin, hingga pengeras suara (speaker).
Meskipun sempat mengalami kendala teknis akibat metode uji coba (trial and error) yang menyebabkan baterai rusak hingga empat kali dan menelan biaya pengembangan kelompok sebesar Rp9.000.000, sistem ini akhirnya berhasil beroperasi secara stabil.
”Saya tidak menyangka bisa menjadi wisudawan terbaik. Saya hanya berusaha aktif dan fokus kuliah karena orang tua sudah berjuang keras bekerja di Malaysia,” tutur lulusan yang diwisuda pada 19 September 2026 ini.
Setelah diwisuda, Hamsah yang aktif di UKM Bola Voli dan Himpunan Mahasiswa Teknik Listrik D-3 ini berencana mencari pengalaman kerja di Indonesia.
Ia juga berencana mengaplikasikan keahliannya untuk membangun PLTS mandiri skala rumah tangga di Polewali Mandar saat keluarganya kembali ke Indonesia. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




