MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang mengolah limbah organik Pengenalan Studi Mahasiswa Baru Gen 26 menjadi pakan maggot dan eco-enzyme di Malang, Jumat (11/9/2026), guna menerapkan gerakan Green and Clean serta membangun budaya kampus bebas sampah sejak awal perkuliahan.
Sampah dari rangkaian Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Gen 26 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak berhenti di tempat pembuangan. Limbah organik diolah menjadi pakan maggot dan eco-enzyme, sedangkan barang bekas disulap menjadi berbagai benda bernilai guna.
Gerakan tersebut menjadi bagian dari penerapan tema “Green and Clean: Tanpa Sampah, Kampus Indah, Lingkungan Terjaga” yang berlangsung pada 8–11 September 2026.
Semangat tersebut juga diterapkan melalui kebiasaan sederhana mahasiswa baru sejak awal memasuki lingkungan kampus. Mereka membawa tempat minum (tumbler) dan kotak makan sendiri untuk menekan penggunaan kemasan sekali pakai. Dalam sejumlah kegiatan, konsumsi makanan juga menggunakan alas daun sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., mengatakan bahwa gerakan Green and Clean dirancang agar kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti sebagai slogan semata. Pesmaba menjadi ruang awal untuk membangun kesadaran bahwa sampah yang dihasilkan setiap hari dapat dikelola dan dimanfaatkan kembali.
“Green and Clean bukan sekadar tema Pesmaba, melainkan kebiasaan yang ingin kami tanamkan sejak mahasiswa baru datang ke UMM. Hal sederhana seperti membawa tumbler, menggunakan kotak makan, memilah sampah, dan tidak menghasilkan sampah berlebihan merupakan bagian dari pembentukan karakter,” ujarnya, Jumat (11/9/2026).
Implementasi tersebut terlihat dari pengelolaan sampah organik yang dihasilkan selama Pesmaba. Limbah makanan dikumpulkan dan dimanfaatkan sebagai bahan budidaya maggot di Rumah Maggot UMM. Dengan cara tersebut, sampah organik tidak langsung berakhir sebagai limbah, melainkan masuk kembali ke dalam proses pemanfaatan.
Limbah organik tersebut digunakan sebagai pakan maggot hingga berkembang dan dapat dipanen. Maggot yang telah dibudidayakan kemudian dapat dikeringkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan ikan maupun ternak.
“Maggot yang sudah dikeringkan bisa digunakan untuk pakan ikan, pakan ternak, bahkan bisa juga dimanfaatkan sebagai pupuk. Jadi, sampah organik yang kita hasilkan selama Pesmaba masih bisa kita manfaatkan kembali,” jelasnya.

Selain maggot, pengolahan sampah organik menjadi eco-enzyme juga menjadi bagian dari gerakan Green and Clean. Mahasiswa baru dikenalkan pada konsep bahwa sampah organik tidak selalu harus dibuang, melainkan dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat lain.
Sementara itu, pendekatan berbeda diterapkan pada barang-barang yang sudah tidak digunakan. Mahasiswa baru diajak melihat kembali potensi material bekas melalui berbagai karya kreatif. Sejumlah kelompok mahasiswa baru mengubah barang bekas menjadi benda bernilai guna, mulai dari jam, bingkai foto (figura), cermin, pot dari galon bekas, hingga kolam ikan.
Berbagai aktivitas tersebut menunjukkan bahwa gerakan Green and Clean tidak hanya berbicara mengenai kebersihan lingkungan, melainkan juga perubahan cara pandang terhadap sampah. Mahasiswa diajak memahami bahwa pemilahan, pengolahan, dan penggunaan kembali dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Maharina menegaskan bahwa pembiasaan tersebut diharapkan tidak berhenti ketika rangkaian Pesmaba berakhir. Mahasiswa baru diharapkan tetap membawa kebiasaan mengurangi sampah, memilah, serta memanfaatkannya kembali dalam kehidupan kampus.
“Harapannya, setelah Pesmaba selesai, kebiasaan ini tidak ikut selesai. Mahasiswa tetap membawa semangat Green and Clean dalam aktivitas perkuliahan, organisasi, dan kehidupan sehari-hari. Dari kebiasaan kecil, kita membangun kampus yang nyaman sekaligus lingkungan yang lebih terjaga,” pungkasnya. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




