FULL TEAM: Rektor UIBU bersama personel Guyon Waton, yang sengaja didatangkan untuk mengisi wisudatainment Universitas IBU. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Universitas Insan Budi Utomo (UIBU) Malang, menegaskan posisinya sebagai pelopor pertama di Indonesia, yang mendobrak tradisi kaku wisuda melalui konsep Wisudatainment, yang kembali digelar megah pada wisuda ke-43 di Ballroom Hotel Ijen Suites di Kota Malang, Kamis (10/9/2026).
Acara wisuda di banyak perguruan tinggi, kerap diidentikkan dengan suasana kaku, menegangkan, dan meletihkan.
Duduk berjam-jam mendengarkan pidato panjang, sering kali membuat para wisudawan serta orang tua merasa jenuh.
Tradisi membosankan itulah yang didobrak pertama kali di Indonesia, oleh Universitas Insan Budi Utomo (UIBU) Malang.
UIBU menggelar wisuda ke-43 dengan konsep Wisudatainment yang megah dan meriah di Kota Malang, Kamis (10/9/2026).
Perayaan kelulusan ini melibatkan ribuan wisudawan, orang tua, serta sivitas akademika UIBU dari berbagai daerah.
Rektor UIBU, Dr. Nurcholis Sunuyeko, M.Si., menegaskan, UIBU adalah pemrakarsa awal gelombang Wisudatainment di tanah air.
Inovasi memadukan prosesi sakral akademik, dengan panggung hiburan berkualitas telah dirintis UIBU sejak tahun 2007, saat masih bernama IKIP Budi Utomo.

GUYON WATON: Sam Rektor saat duet bersama Bagol alias Faisal Bagus Ibrahim, vokalis Guyon Waton. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Nurcholis meluruskan klaim sejumlah perguruan tinggi lain, yang belakangan ini mengaku-ngaku sebagai pencetus pertama konsep wisuda terpadu hiburan.
“Jangan ada yang mengklaim bahwa mereka yang pertama kali menyelenggarakan Wisudatainment. Yang pertama kali di Indonesia, bahkan dunia, adalah IKIP Budi Utomo yang sekarang menjadi UIBU,” tegas Nurcholis, Kamis (10/9/2026).
Sejak tahun 2007 dan berkelanjutan pada 2012, UIBU secara konsisten mendatangkan deretan artis dan musisi papan atas nasional ke panggung wisuda.
Mulai dari penyanyi Titi DJ, grup musik populer, orkes dangdut legendaris, Denny Caknan, Heppy Asmara, Gilga, Fandy Kerispatih, hingga grup musik Guyon Waton diundang khusus menghibur warga kampus.
Mendobrak tradisi kaku, bukan berarti menghilangkan kesakralan prosesi akademik.
Reka susun acara UIBU, tetap menempatkan pengukuhan lulusan, prosesi pemindahan kuncir toga, dan penghormatan kepada orang tua sebagai inti kegiatan yang khidmat.
Hiburan hadir sebagai bentuk perayaan penuh kebahagiaan, setelah mahasiswa berhasil menuntaskan perjuangan akademik yang panjang dan melelahkan.
Desain toga wisuda UIBU, bahkan dirancang secara khusus dan modis oleh tim internal kampus, agar para lulusan tampil percaya diri dan keren.
“Tujuannya adalah membahagiakan semua orang. Jika hiburan ditaruh di akhir saat orang sudah lelah, kebahagiaannya berkurang. Acara ini ditujukan untuk menghibur orang tua, istri, suami, dan anak wisudawan,” urai Sam Rektor, panggilan akrab Nurcholis.

KERISPATIH: Fandy Kerispatih, menghampiri tempat duduk Sam Rektor. Mengajak duet lagu andalannya. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Pemilihan bintang tamu Guyon Waton pada wisuda 2026, diakui sangat pas dengan karakter mahasiswa generasi Z.
Grup musik asal Yogyakarta yang membawakan lagu-lagu hits berbahasa Jawa tersebut, sukses mengajak ribuan wisudawan dan orang tua bergoyang dan bernyanyi bersama.
Nurcholis menyambut baik jika saat ini banyak perguruan tinggi lain di Indonesia yang ikut meniru dan mengadopsi konsep Wisudatainment ala UIBU.
Menurutnya, hal tersebut menandakan adanya kesadaran bersama di kalangan akademisi, bahwa prosesi wisuda sudah sepatutnya dikemas ramah dan membahagiakan.
“Kalau sekarang banyak kampus menghadirkan konsep serupa, kami menyambut baik. UIBU sendiri sudah menjalani tradisi ini sejak 2007 dan akan terus berinovasi,” kata Nurcholis.
Selama hampir dua dekade, UIBU terbukti konsisten merawat identitas Wisudatainment.
UIBU berhasil membuktikan bahwa prosesi kelulusan tinggi bisa tetap sakral, berwibawa, sekaligus menyajikan kenangan indah yang membahagiakan bagi seluruh keluarga besar kampus. (Ra Indrata)




