Peserta dan pemateri foto bersam usai kegiatan Pencegahan Kekerasan pada Anak melalui Comprehensive Sexuality Education (CSE). (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur menggelar edukasi Comprehensive Sexuality Education di SMAN 1 Singosari, Kabupaten Malang, Kamis (10/9/2026), guna membekali siswa dengan pengetahuan pencegahan kekerasan anak serta kemampuan melindungi diri.
Upaya pencegahan kekerasan terhadap anak terus diperkuat dengan membekali anak pengetahuan, keberanian, serta kemampuan untuk melindungi diri.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Pencegahan Kekerasan pada Anak melalui Comprehensive Sexuality Education (CSE) yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur di SMA Negeri 1 Singosari (Smanesi), Kabupaten Malang, Kamis (10/9/2026).
Kegiatan berlangsung dengan suasana dinamis, interaktif, dan partisipatif, diikuti oleh para siswa SMAN 1 Singosari. Sebelum kegiatan dimulai, tim disambut oleh pihak sekolah yang menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas terselenggaranya edukasi yang dinilai relevan dengan kebutuhan perlindungan serta tumbuh kembang remaja.
Acara dibuka oleh Hari Chandra Noviyanto, S.H., M.Si., selaku Kepala Bidang, bersama Galih Pambuko, S.H., sebagai Analis Kebijakan Ahli Muda yang juga bagian dari tim Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) DP3AK Provinsi Jawa Timur.
Dalam pembukaannya, pesan mengenai pentingnya membangun kesadaran perlindungan anak menjadi bagian utama kegiatan. Pencegahan kekerasan tidak cukup hanya dilakukan setelah sebuah peristiwa terjadi, melainkan perlu dimulai melalui pengetahuan, komunikasi, keberanian mengenali situasi berisiko, dan kemampuan mencari pertolongan.
CSE Bukan Sekadar Membahas Seksualitas
Materi utama disampaikan oleh Sri Sudarwati, M.M., Wakil Ketua Forum PUSPA Kendedes Kota Malang, yang juga merupakan pelatih dan pembimbing (trainer & coach) bersertifikasi serta Direktur Utama PT Citra Prestasi Gemilang.

Siswa Smanesi melakukan pertanyaan di acara edukasi tentang kekerasan terhadap anak, Kamis (10/9/2026). (Foto: Istimewa)
Comprehensive Sexuality Education dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan remaja. Pembahasan tidak berhenti pada aspek biologis, melainkan diarahkan pada pemahaman mengenai tubuh, batasan diri, relasi yang sehat, penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain, pengambilan keputusan, serta keberanian untuk mengatakan tidak terhadap situasi yang tidak aman.
Pesan utama yang menjadi benang merah kegiatan tersebut adalah:
- “Kamu Berharga.”
- “Kamu Terlindungi.”
- “Kamu Bisa.”
Tiga kalimat sederhana tersebut menjadi penguat bahwa setiap anak memiliki nilai, berhak mendapatkan perlindungan, serta memiliki kemampuan untuk mengambil langkah ketika menghadapi situasi yang berpotensi membahayakan dirinya.
Empat Pesan Penting untuk Remaja
Dalam kegiatan tersebut, CSE diarahkan pada empat kemampuan utama:
- Mengenali Siswa diajak mengenali berbagai bentuk pengaruh, tekanan, perilaku, maupun situasi yang berisiko terhadap dirinya. Kemampuan mengenali sejak dini menjadi langkah pertama dalam membangun perlindungan diri.
- Melindungi Remaja didorong untuk memiliki kemampuan menetapkan batasan pribadi (personal boundaries), menjaga dirinya, serta membuat pilihan yang lebih aman dan bertanggung jawab.
- Membangun Lingkungan Positif Perlindungan anak membutuhkan lingkungan yang mendukung. Oleh karena itu, siswa diajak membangun pertemanan, keluarga, dan lingkungan sekolah yang sehat, aman, saling menghargai, serta bebas dari perilaku merendahkan maupun kekerasan.
- Berani Bicara Salah satu pesan terpenting adalah jangan diam ketika menghadapi situasi yang tidak aman. Siswa didorong untuk berani berbicara, mencari bantuan, dan menghubungi orang dewasa atau pihak yang dipercaya ketika membutuhkan pertolongan.
Dikemas Interaktif, Siswa Aktif Berdiskusi
Berbeda dengan penyampaian materi yang bersifat satu arah, kegiatan dikemas secara komunikatif melalui interaksi dengan peserta. Siswa diberikan ruang untuk merespons, bertanya, menyampaikan pandangan, dan mendiskusikan berbagai situasi yang dekat dengan kehidupan mereka.
Sesi tanya jawab (Q&A) menjadi salah satu bagian yang mendapat respons positif. Antusiasme siswa menunjukkan bahwa isu mengenai keamanan diri, relasi sehat, batasan pribadi, dan pencegahan kekerasan merupakan topik yang perlu terus dibicarakan secara terbuka, edukatif, serta sesuai dengan usia perkembangan anak.
Pendekatan semacam ini penting karena remaja tidak hanya perlu diberi tahu, melainkan juga perlu didengar.
Sekolah sebagai Ruang Aman
Kegiatan di SMAN 1 Singosari juga menegaskan pentingnya sekolah sebagai salah satu ruang strategis dalam pencegahan kekerasan pada anak.
Sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan akademik, melainkan juga ruang bagi siswa untuk belajar membangun relasi, memahami keberagaman, mengembangkan kepercayaan diri, serta mengenali perilaku yang sehat dan tidak sehat.
Oleh karena itu, menciptakan sekolah yang aman membutuhkan keterlibatan bersama antara siswa, guru, tenaga kependidikan, orang tua, pemerintah, dan masyarakat.
Pencegahan kekerasan akan lebih kuat apabila anak mengetahui bahwa ketika mereka berbicara, ada orang dewasa yang bersedia mendengarkan, memercayai, mendampingi, dan membantu mencari solusi.
Dari Pengetahuan Menuju Keberanian Bertindak
Comprehensive Sexuality Education pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak informasi yang diterima oleh siswa. Lebih jauh, pendidikan ini diharapkan mampu membangun keterampilan hidup (life skills)—kemampuan yang dapat digunakan remaja dalam kehidupan sehari-hari.
Sesi pertanyaan dan diskusi berlangsung dinamis. Beberapa siswa mengutarakan kesulitan melepas ketergantungan pada gawai (gadget), isu pernikahan dini, hingga pertemanan di lingkungan LGBT. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari proses membangun kesadaran dan keberanian mengambil keputusan.
Kegiatan di SMAN 1 Singosari menjadi bagian dari upaya memperkuat edukasi pencegahan kekerasan terhadap anak di Jawa Timur. Kehadiran DP3AK Provinsi Jawa Timur bersama sekolah dan narasumber menunjukkan bahwa perlindungan anak membutuhkan kolaborasi lintas pihak serta pendekatan yang berkelanjutan.
Bagi Sri Sudarwati, edukasi kepada remaja harus mampu meninggalkan lebih dari sekadar pengetahuan.
“Anak dan remaja perlu tahu bahwa dirinya berharga, tubuhnya harus dihormati, batasannya harus dihargai, dan ketika menghadapi situasi yang tidak aman, mereka tidak harus menghadapinya sendirian,” ungkapnya.
Ungkapan tersebut menjadi penting di tengah tantangan kehidupan remaja yang semakin kompleks. Literasi tentang tubuh, relasi sehat, batasan diri, komunikasi, dan keberanian mencari bantuan merupakan bagian dari investasi untuk membangun generasi yang sehat, percaya diri, bertanggung jawab, serta mampu menghargai dirinya maupun orang lain.
Pada akhirnya, pencegahan kekerasan bukan hanya tentang menghentikan kekerasan setelah terjadi, melainkan tentang menciptakan budaya yang sejak awal menumbuhkan rasa aman, kepedulian, penghormatan, dan keberanian untuk berbicara.
“Kamu Berharga. Kamu Terlindungi. Kamu Bisa. Tiga pesan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, didengar, dihargai, dan mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara optimal,” tegasnya.
“Sebab, melindungi anak bukan hanya tugas satu pihak. Melindungi anak adalah tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya. (Bagus Yudhis/Sugeng Irawan)




