MALANG POST – Pemerintah Kota Batu mempresentasikan proposal nominasi bidang Gastronomi “From Mountain Agriculture to Global Gastronomy”, dalam Seleksi Nasional UCCN 2027 di Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta, guna memperkuat posisi daerah menuju Jejaring Kota Kreatif UNESCO, melalui penguatan ekosistem pertanian pegunungan dan pariwisata berkelanjutan.
Kota Batu selangkah lebih dekat menuju UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027 setelah Pemkot Batu mempresentasikan proposal nominasi bidang Gastronomi dalam Seleksi Nasional Tahap II di hadapan sembilan anggota Panitia Seleksi Nasional (Panselnas), kemarin.
Presentasi berlangsung di Ruang Kompeten, Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Kota Batu menjadi daerah pertama yang melakukan presentasi setelah dinyatakan lolos Seleksi Nasional Tahap I. Tahapan tersebut menjadi salah satu penentu daerah yang akan dipilih mewakili Indonesia dalam proses nominasi UCCN ke UNESCO.
Delegasi Kota Batu dipimpin langsung oleh Wali Kota Batu, Nurochman. Turut mendampingi, Kepala Bappelitbangda Bangun Yulianto, Ketua BPC PHRI Kota Batu Sujud Hariadi, serta Koordinator Tim Dossier UCCN Alan W. Hafiluddin.
Dalam waktu 40 menit, tim Kota Batu mendapat kesempatan 10 menit untuk memaparkan dossier dan dilanjutkan dengan 30 menit sesi tanya jawab bersama Panselnas.
Mengusung tema “From Mountain Agriculture to Global Gastronomy”, Kota Batu menawarkan konsep gastronomi yang tidak berhenti pada makanan. Gastronomi ditempatkan sebagai ekosistem yang menghubungkan pertanian dataran tinggi, warisan budaya pangan, kreativitas masyarakat, hingga sektor pariwisata.
“Bagi Kota Batu, gastronomi bukan hanya tentang apa yang kita makan, melainkan juga siklus kehidupan, sumber penghidupan, serta tradisi yang tumbuh dari tanah hingga diwariskan antargenerasi,” ujar Nurochman.

PRESTASI: Wali Kota Batu Nurochman bersama tim Kota Batu saat mempresentasikan proposal Kota Batu dihadapan anggota Panselnas Kementerian Ekonomi Kreatif menuju UCCN 2027. (Foto: Istimewa)
Konsep tersebut diperkuat oleh lima kekuatan utama, yakni mountain agriculture, living food heritage, community-based food system, tourism as a market, dan farm-to-experience.
Kelima unsur itu tercermin dari berbagai komoditas unggulan Kota Batu, mulai dari apel, jeruk, stroberi, sayuran, kopi, hingga susu. Komoditas tersebut memiliki rantai ekosistem yang terhubung dengan petani, UMKM, hotel, restoran, hingga desa wisata.
Potensi pasar juga terbilang besar. Sepanjang tahun 2025, Kota Batu mencatat sekitar 9,7 juta kunjungan wisatawan. Di sisi lain, kota wisata ini memiliki 24 desa wisata yang dapat menjadi ruang pengembangan pengalaman gastronomi berbasis pertanian dan budaya.
Jejak kerja sama internasional juga menjadi salah satu modal yang dibawa dalam proposal, di antaranya kerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA), Kota Fukushima, Shimonoseki City University, serta Westland, Belanda.
Salah satu perhatian Panselnas dalam sesi tanya jawab adalah alasan Kota Batu memilih Gastronomi sebagai bidang yang diusulkan dalam UCCN.
Pemkot Batu menilai gastronomi memiliki keterkaitan kuat dengan karakter Kota Batu. Pertanian pegunungan tidak hanya menghasilkan komoditas pangan, melainkan juga melahirkan tradisi, budaya, aktivitas ekonomi kreatif, dan pengalaman wisata.
Gagasan tersebut dirumuskan dalam dossier “Batu Agrokreatif – From Mountain Agriculture to Global Gastronomy” dengan konsep Living Mountain Gastronomy Ecosystem.
Dalam konsep tersebut, gastronomi dipandang sebagai warisan budaya hidup yang mempertemukan pertanian pegunungan, tradisi agraris, petani, UMKM pangan, hingga pengalaman wisata berkelanjutan.
Pemkot Batu sebelumnya juga telah menggelar pembekalan (briefing) strategis yang melibatkan unsur heksaheliks (hexahelix), mulai dari Bappelitbangda, Dinas Pariwisata, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Diskumdag, Diskominfo, Bagian Perekonomian dan SDA, Komite Ekonomi Kreatif, PHRI, hingga komunitas industri kreatif.

Kolaborasi tersebut menjadi upaya menyatukan berbagai sektor yang selama ini menjadi kekuatan Kota Batu, mulai dari pertanian, kebudayaan, pariwisata, perdagangan, ekonomi kreatif, hingga komunikasi publik.
Cak Nur menegaskan, keikutsertaan dalam UCCN merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi Kota Batu sebagai pusat Agrokreatif Gastronomi Indonesia.
“From Mountain Agriculture to Global Gastronomy bukan sekadar slogan, melainkan visi Kota Batu untuk menjadikan kekayaan pertanian, budaya, dan kreativitas sebagai kontribusi Indonesia bagi Jejaring Kota Kreatif UNESCO,” tegasnya.
Seleksi Nasional UCCN 2026 diikuti oleh empat daerah. Selain Kota Batu dan Kota Padang yang sama-sama mengusulkan bidang Gastronomi, Kabupaten Bantul mengusulkan bidang Craft & Folk Art, sementara Kabupaten Sleman mengusulkan bidang Film & Animation.
Selanjutnya, hasil seleksi akan diumumkan melalui surat resmi Kementerian Ekonomi Kreatif. Surat tersebut akan menjadi dasar penetapan daerah yang mewakili Indonesia dalam tahapan nominasi UNESCO.
Pemkot Batu optimistis kolaborasi heksaheliks yang dibangun mampu memperkuat proposal sekaligus membawa model pembangunan berbasis pertanian pegunungan Kota Batu ke panggung global. (Ananto Wibowo)




