Penandatanganan berita acara Grand launching kasegher. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Tim PPK Ormawa Himatekpa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), merealisasikan program transformasi Kawasan Kasegher di Desa Sukolelo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, menjadi destinasi eduwisata terpadu berbasis Smart BioDome dan Kampung Herbal yang resmi diluncurkan pada grand launching setempat.
Kawasan Kasegher di Desa Sukolelo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, resmi bertransformasi menjadi destinasi eduwisata terpadu. Pengembangan ini tidak dimulai dari pembangunan fasilitas besar, melainkan dari penguatan aset lokal yang dikemas melalui kolaborasi lintas sektor.
Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himatekpa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi motor penggerak di balik perubahan tersebut, dengan dukungan penuh dari pemerintah desa, pengelola wisata, dan masyarakat setempat.
Sebanyak 15 mahasiswa tergabung dalam tim yang diketuai Mohammad Azizan Al-Ghifari, di bawah bimbingan langsung Dosen Pembimbing Lapangan, Dahlia Elianarni, S.TP., M.Sc. Pendampingan juga diawasi langsung oleh Ir. Ary Bakhtiar, S.P., M.Si., IPM., ASEAN Eng., selaku Penanggung Jawab PPK Ormawa UMM.
Menurut Azizan, transformasi Kasegher dirancang dengan pendekatan see, try, and learn. Sehingga pengunjung tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar yang menyeluruh.

Peresmian pembukaan PPK Ormawa Himatekpa di Balai desa Sukolelo. (Foto: Istimewa)
“Kami ingin membuktikan bahwa desa tidak membutuhkan gedung megah untuk menjadi destinasi edukasi. Yang diperlukan adalah kemauan untuk mengelola potensi lokal secara kreatif dan terstruktur,” ungkap Azizan saat ditemui di sela kegiatan.
Kawasan eduwisata Kasegher dibangun di atas tiga pilar atraksi utama yang saling melengkapi:
Pilar pertama adalah Kampung Herbal yang berfokus pada edukasi dan pemanfaatan alam. Di area ini, setiap komoditas tanaman herbal dilengkapi papan informasi edukatif berisi nama dan fungsinya, sehingga wisatawan dapat belajar secara langsung. Selain itu, terdapat demonstrasi pengolahan bahan lokal menjadi produk inovatif, baik pangan seperti minuman bunga telang, gummy kunyit jahe, dan es krim kunyit asam, maupun non-pangan seperti spray anti-nyamuk berbahan sereh dan lulur herbal.
Pilar kedua menghadirkan Smart BioDome, sebuah rumah tanaman yang mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT). Sistem pemantauan otomatis di dalamnya menggunakan sensor tanah untuk penyiraman otomatis, sensor cahaya untuk lampu UV, serta sensor kelembapan udara yang menggerakkan kipas sirkulasi. Fasilitas ini memiliki tiga mode operasional, yaitu manual, terprogram, dan otomatis, yang memperkenalkan konsep digitalisasi pertanian kepada generasi muda.
Pilar ketiga adalah Sumber Segaran, sebuah ruang kreatif hasil alih fungsi eks-kandang kambing menjadi gazebo multifungsi. Area ini menjadi tempat lokakarya (workshop) melukis celengan, memberikan wadah ekspresi seni bagi pengunjung untuk melengkapi pengalaman alam dan teknologi yang telah mereka dapatkan sebelumnya.

Penyuluhan pengelolaan wisata, Hospitality dan budidaya herbal berbasis IoT. (Foto: Istimewa)
Dahlia Elianarni selaku dosen pembimbing menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak terlepas dari sinergi yang solid antara seluruh elemen. Tim PPK Ormawa Himatekpa UMM ini berperan dalam pemetaan potensi, desain kawasan, penerapan teknologi IoT, dan transfer pengetahuan produk.
Sementara itu, masyarakat bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mendampingi tata kelola atraksi dan operasional sarana, serta menggerakkan ekonomi lokal. Pelaku UMKM dan perajin turut berkontribusi dalam pengembangan komoditas herbal dan pendampingan pembuatan produk turunan.
“Momen grand launching Kasegher ini bukanlah akhir, melainkan awal dari kemandirian pengelolaan oleh warga Desa Sukolelo. Fokus utama kami adalah penguatan kapasitas pengelola agar mampu merawat sistem IoT dan memproduksi inovasi herbal secara berkelanjutan,” jelas Dahlia.
Ke depan, strategi keberlanjutan kawasan diarahkan pada pembentukan paket wisata terpadu yang siap dipasarkan ke institusi pendidikan maupun wisatawan umum. Evaluasi berkala juga akan dilakukan untuk memastikan seluruh fasilitas terawat dan terus memberikan dampak positif bagi perekonomian desa.
Kasegher menjadi bukti nyata bahwa potensi lokal yang dikemas secara terintegrasi mampu mengubah aset sederhana menjadi pengalaman eduwisata yang bernilai tinggi. (M. Abd. Rachman. Rozzi – Januar Triwahyudi)




