MALANG POST – Tanamkan budaya damai dan psikologi anak sejak dini, Mahasiswa KKN 186 UMM gelar Seminar “Sekolah Damai” serta bagikan modul pengasuhan di 6 PAUD Desa Sukolilo.
Perilaku anak usia dini kerap disalahpahami sebagai bentuk kenakalan. Padahal, sejumlah perilaku tersebut merupakan bagian dari proses tumbuh kembang yang perlu dipahami secara tepat oleh orang tua dan pendidik.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak 186 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, menghadirkan program edukasi bertajuk “Sekolah Damai” di enam sekolah PAUD/TK di wilayah setempat.
Program ini tidak hanya berfokus pada pemahaman psikologi dan perilaku anak, melainkan juga membawa pesan mendasar tentang pentingnya menanamkan budaya damai sejak usia dini.
Di tengah situasi geopolitik global yang diwarnai ketegangan—termasuk konflik bersenjata yang menimbulkan korban dan ketegangan berkepanjangan—pendidikan perdamaian menjadi semakin relevan.

Perdamaian tidak cukup hanya dibicarakan di tingkat diplomasi negara, melainkan perlu dibangun dari lingkungan terkecil melalui pembiasaan menghargai orang lain, mengelola emosi, berdialog, dan menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan.
Rangkaian seminar Sekolah Damai sukses dilaksanakan di enam sekolah, yakni TK Dharma Wanita dan RA Bahrul Ulum pada 7 Agustus, RA Mamba’ul Ulum pada 8 Agustus, TK Shirottul Jannah pada 10 Agustus, RA Miftahul Ulum pada 13 Agustus, serta RA An-Nashr pada Rabu (19/8/2026). Pemateri utama kegiatan ini adalah Muhammad Athiansyah Zaki Fadillah, mahasiswa Psikologi UMM angkatan 2024.
Program tersebut menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa sekaligus upaya membekali guru dan orang tua dengan pemahaman mengenai karakteristik anak usia dini agar lingkungan belajar menjadi lebih aman, hangat, dan ramah anak.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Berdampak 186 UMM Drs. Ir. Moh. Jufri, S.T., M.T. menegaskan bahwa pendidikan perdamaian merupakan investasi jangka panjang yang perlu ditanamkan sejak dini.
“Melalui Sekolah Damai, desa, pemuda, guru, orang tua, dan mahasiswa KKN bersinergi membiasakan anak-anak menghargai perbedaan, menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan, dan menjadi generasi pembawa perdamaian. KKN tidak sekadar menghadirkan kegiatan sesaat, tetapi meninggalkan gagasan dan gerakan berkelanjutan yang dapat diteruskan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, nilai-nilai seperti empati, komunikasi, penghormatan terhadap perbedaan, serta penyelesaian konflik secara damai perlu diperkenalkan sejak anak berada pada fase awal perkembangan (golden age).
Dalam pemaparannya, Zaki menjelaskan bahwa usia 4–6 tahun merupakan fase yang sangat vital (golden age). Pada fase perkembangan pra-operasional ini, anak mulai aktif menggunakan simbol, gambar, dan bahasa untuk mengekspresikan diri. Namun, mereka masih memiliki kecenderungan egosentris sehingga belum sepenuhnya mampu memahami sudut pandang orang lain.
Ia memaparkan empat pola perkembangan yang umum terjadi pada anak, yakni perkembangan emosional, sosial, perilaku, serta imajinasi dan bermain.
“Setiap anak memiliki kebutuhan, kesempatan, dan cara belajar yang berbeda-beda. Kita tidak bisa menyamaratakan seluruh anak. Potensi mereka sangat beragam, ada yang menonjol di bidang akademik, olahraga, sains, maupun kesenian,” jelas Zaki di hadapan para wali murid dan pendidik.
Ia menekankan bahwa kesehatan mental merupakan bagian mendasar dari perkembangan sosio-emosional anak. Mengacu pada teori Santrock dan Willis (2000), keterampilan berkomunikasi, kemampuan beradaptasi, dan pembentukan karakter anak sangat dipengaruhi oleh perkembangan emosi dan perilaku pada masa kanak-kanak.
Sebagai bagian dari pendidikan perdamaian, orang tua dan guru diajak menerapkan lima strategi praktis: mendengarkan perasaan anak, memberikan teladan yang baik, memberikan apresiasi terhadap perilaku positif, menetapkan aturan secara konsisten, serta membangun komunikasi efektif antara rumah dan sekolah.
Sebagai tindak lanjut, Tim KKN Berdampak 186 Desa Sukolilo menyusun modul cetak berjudul “Sinergi Guru dan Orang Tua dalam Mengembangkan Perilaku Positif Anak Usia 4–10 Tahun”. Modul tersebut menjadi panduan praktis guru dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Modul diperkuat dengan pendampingan langsung pada 10–15 Agustus di TK Shirottul Jannah, TK Dharma Wanita, RA Mamba’ul Ulum, dan RA Bahrul Ulum. Terhitung sebanyak 180 wali murid berpartisipasi aktif dalam rangkaian pendampingan dan pengisian lembar survei pemetaan perilaku anak tersebut.
Kepala Sekolah TK Dharma Wanita Ida Apriyanti menyampaikan apresiasi tingginya atas inisiatif mahasiswa UMM ini.
“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada mahasiswa KKN Berdampak 186 UMM. Arahan yang diberikan sangat membantu menambah pemahaman kami mengenai psikologi anak serta cara menghadapi dan mendampingi anak secara tepat,” tutur Ida.
Melalui sinergi guru, orang tua, dan mahasiswa, Desa Sukolilo diharapkan mampu menjadi laboratorium sosial dalam mencetak generasi pembawa perdamaian yang sehat secara emosional dan menghargai kebhinekaan dari akar rumput. (*/M. Abd. Rachman Rozzi)




