MALANG POST – Amukan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang menerpa kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) semakin mengkhawatirkan. Hingga Rabu (12/8/2026) hari ini, data Korem 083/Baladhika Jaya mencatat total area lahan yang hangus dilalap si jago merah, telah membengkak hingga mencapai 921,42 hektare.
Sengkarut pemadaman di medan ekstrem, keterbatasan sumber air, ancaman keanekaragaman hayati, hingga kesiapsiagaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dibedah tuntas dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM.
Danrem 083/Baladhika Jaya sekaligus Dansektor Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj, Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, mengungkapkan bahwa pertempuran melawan api di lereng-lereng terjal masih terus berlanjut. Pemadaman dilakukan secara intensif lewat jalur darat dan udara (water bombing) yang menginduk di Lanud Abdulrachman Saleh Malang.
“Luas terdampak sudah mencapai 921,42 hektare. Tiga unit helikopter pengebom air telah dikerahkan oleh BNPB, didukung operasi darat gabungan TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, TNBTS, dan relawan.”
“Kendala utama di lapangan adalah medan lereng yang sangat curam seperti di Pusung Wonokitri Pasuruan dan Penanjakan, keterbatasan sumber air, angin kencang, serta serbuan kabut pekat saat siang hari yang membatasi jarak pandang helikopter,” jelas Kolonel Wahyu.
Ia mendesak warga lokal dan wisatawan mengaktifkan sistem pengamanan swakarsa. Pasalnya, dalam patroli darat, petugas masih menemukan tungku perapian liar yang ditinggalkan dalam kondisi menyala.
Teror Angin Monsun Australia dan Kesiapan Hujan Buatan
Ganasnya kobaran api tak lepas dari faktor cuaca ekstrem. Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Ahmad Luthfi, memaparkan bahwa Agustus hingga September merupakan puncak musim kemarau di mana vegetasi dalam kondisi sangat meranggas dan mudah terbakar.
“Daya dorong penyebaran api diperparah oleh hembusan angin kuat dari arah timur hingga tenggara akibat pengaruh Monsun Australia yang membawa karakter udara sangat kering. BMKG bersama tim Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kini dalam posisi siaga penuh untuk menyemai awan buatan jika kondisi atmosfer di atas Bromo memungkinkan,” terang Luthfi.
Puluhan Tahun untuk Pulihkan Ekosistem Bromo
Dari perspektif akademis, Kepala Pusat Studi Kebumian dan Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya, Prof. Adi Susilo, menyebut musibah ini sebagai pukulan telak bagi ekosistem TNBTS. Selain mengancam keselamatan satwa liar yang terkepung api, kerusakan vegetasi memerlukan waktu recovery yang sangat lama.
“Kalau rumput savana mungkin bisa tumbuh cepat saat hujan turun. Tapi untuk pohon-pohon besar dan tanaman tahunan yang hangus, butuh waktu puluhan tahun untuk kembali seperti semula. Ingat, satu puntung rokok yang dibuang kendor di atas rumput kering sudah cukup untuk memusnahkan hutan ratusan hektare,” tegas Prof. Adi.
Lautan pasir dan savana indah Bromo kini berubah menjadi hamparan jelaga hitam akibat kecerobohan manusia dan cuaca ekstrem. Tiga helikopter terus meliuk memuntahkan air dari udara, ratusan personel bertaruh nyawa di lereng curam, dan sinyal hujan buatan bersiap disemprotkan. Bromo butuh kedisiplinan penuh dari kita semua agar apinya benar-benar padam total. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




