MALANG POST – Selain menyimpan jejak sejarah akulturasi budaya Portugis sejak abad silam, gado-gado kini tetap menjadi favorit warga Kota Malang, dengan hadirnya warung legendaris seperti Gado-Gado Bu Endang, di Jalan Bunga Kumis Kucing yang menawarkan porsi jumbo seharga Rp12 ribu.
Di atas piring, sayuran dan bumbu kacang itu menyatu sempurna. Tapi gado-gado bukan sekadar piring berisi sayur rebus dan lontong. Ada Jejak sejarah panjang di baliknya.
Bagi pencinta kuliner Nusantara, sajian segar ini adalah ikon legendaris khas Betawi. Di balik kesederhanaannya, gado-gado menyimpan cerita akulturasi budaya yang unik.
Banyak orang mengira gado-gado sekadar salad versi lokal. Padahal, jejak kulinernya membentang hingga ke Kampung Tugu, Jakarta Utara—kawasan bersejarah yang dihuni keturunan Portugis.
Bahkan, nama “gado-gado” diduga kuat diserap dari bahasa Portugis: gadu. Artinya sederhana: campur-campur atau bermacam-macam.
Sesuai namanya, komposisi hidangan ini memang meriah.
Satu porsinya merangkum harmoni rasa: kangkung, kacang panjang, taoge, dan kol rebus yang disandingkan dengan tahu, tempe, telur, serta potongan kentang. Lontong atau ketupat hadir sebagai penyempurna rasa kenyang.

Namun jiwa sejati dari gado-gado ada pada siraman bumbu kacangnya. Kental, gurih, manis, dengan jejak asam yang samar namun pas di lidah.
Warisan kuliner ini melintasi jaman. Dari muasal Portugis hingga merambah meja makan di seluruh pelosok negeri, termasuk di Kota Malang.
Di Kota Apel ini, mencari gado-gado yang nikmat bukanlah perkara sulit. Penjualnya bertebaran di sudut-sudut kota, dari yang legendaris hingga warung rumahan.
Salah satu yang kerap jadi buruan adalah Gado-Gado Bu Endang.
Warungnya terselip tenang di Jalan Bunga Kumis Kucing, RT 04 RW 02, kawasan Tembalangan. Di sini, gado-gado disajikan tanpa Basa-basi: porsinya melimpah, topping-nya royal, dan rasanya mantap.
Setiap suapan menghadirkan kepuasan yang pas. Cocok bagi pencari makan siang yang mengincar rasa lezat sekaligus kenyang.
Menariknya lagi, urusan harga sangat bersahabat. Cukup merogoh kocek mulai Rp12.000 saja, seporsi gado-gado jumbo sudah bisa dinikmati.
Di tengah naiknya harga bahan pokok, Gado-Gado Bu Endang membuktikan bahwa kuliner bernilai sejarah tinggi tak harus ditebus dengan harga mahal. Pilihan yang tepat untuk memanjakan lidah sekaligus menyelamatkan dompet. (M. Abd. Rachman Rozzi)




