MALANG POST – Pelaksanaan Pendataan Lapangan Sensus Ekonomi (SE) 2026 di Kota Batu menunjukkan tren positif. Hingga Rabu (22/7/2026) malam, capaian pendataan telah menembus angka 56,32 persen dari total target prelist. Dari tiga kecamatan yang ada, Kecamatan Bumiaji mencatatkan progres tertinggi dibandingkan wilayah perkotaan lainnya.
Pendataan Lapangan Sensus Ekonomi (SE) 2026 di Kota Batu terus bergerak cepat. Hingga Rabu (22/7/2026) pukul 18.00 WIB, capaian pendataan lapangan telah mencapai 56,32 persen. Artinya, lebih dari separuh bangunan yang menjadi sasaran sensus telah selesai didatangi oleh petugas Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu.
Petugas Pendataan Lapangan (PPL) saat ini masih intensif menyisir bangunan demi bangunan untuk memastikan tidak ada objek yang terlewat. Penelusuran tidak hanya menyasar tempat usaha, tetapi juga hunian warga, fasilitas umum, gedung publik, hingga bangunan kosong.
Kepala BPS Kota Batu, Herlina Prasetyowati Sambodo, menjelaskan bahwa angka 56,32 persen tersebut mencerminkan persentase keluarga dan unit usaha yang berhasil didata dibandingkan dengan daftar awal (prelist) yang disusun BPS.
”Target kami selesai 100 persen pada 31 Agustus mendatang. Ada tahapan target yang harus dipenuhi, yakni per 15 Juli ditargetkan 40 persen, akhir Juli mencapai 60 persen, dan seluruhnya tuntas pada 31 Agustus 2026,” ujar Herlina, Kamis (23/7/2026).
Dengan capaian saat ini, progres pendataan tinggal menyisakan kurang dari empat persen untuk memenuhi target antara pada akhir Juli. Herlina optimistis target tersebut terpenuhi mengingat ritme pendataan lapangan di semua wilayah terus meningkat.

BERI KETERANGAN: Wali Kota Batu Nurochman saat memberikan keterangan kepada petugas Sensus Ekonomi yang datang ke rumah dinasnya beberapa waktu lalu, kini progreanya sudah tembus 56,32 persen. (Foto: Ananto Wibowo / Malang Post)
Ia menegaskan, prinsip utama pelaksanaan Sensus Ekonomi adalah zero omission atau tidak boleh ada satu pun bangunan yang terlewatkan. Oleh karena itu, setiap petugas dibekali peta lokasi dan daftar bangunan yang wajib dikunjungi.
”Petugas menyisir dari bangunan ke bangunan. Apa pun kondisinya tetap kami data. Baik yang ada aktivitas usaha, pemukiman keluarga, fasilitas umum, fasilitas publik, bahkan bangunan kosong sekalipun tetap dicatat,” tegasnya.
Dari tiga kecamatan di Kota Batu, Kecamatan Bumiaji mencatatkan progres pendataan paling tinggi, yakni mencapai 60,97 persen. Karakteristik masyarakat yang didominasi petani menjadi salah satu faktor pendukung kelancaran pengumpulan data.
Menurut Herlina, warga Bumiaji cenderung lebih terbuka menerima kedatangan petugas sensus. Meski pada pagi hingga siang hari warga berada di kebun, petugas menerapkan strategi fleksibel dengan melakukan kunjungan ulang pada sore hingga malam hari.
”Tipikal masyarakatnya adalah petani. Karena pagi hari biasanya tidak berada di rumah, petugas melakukan penyesuaian dengan datang kembali pada sore hingga malam hari. Cara ini terbukti sangat efektif,” terangnya.
Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Junrejo dengan capaian 58,99 persen. Meski jumlah unit usahanya relatif lebih banyak, laju pendataan di wilayah tersebut berjalan cukup cepat dan mendekati target bulanan.

Sementara itu, Kecamatan Batu masih menjadi wilayah dengan progres terendah, yakni 52,18 persen. Kondisi ini dipengaruhi oleh karakteristik kawasan perkotaan yang memiliki kerapatan usaha lebih tinggi, mobilitas warga yang dinamis, serta tingkat resistensi penghuni perumahan yang relatif lebih besar.
Guna mengatasi kendala tersebut, BPS mengedepankan pendekatan persuasif. Selain kunjungan langsung, petugas berkoordinasi aktif dengan ketua RT dan pengurus lingkungan setempat untuk membantu menjadwalkan ulang pendataan saat warga berada di rumah.
”Alhamdulillah, melalui pendekatan persuasif tersebut sebagian besar masyarakat akhirnya bersedia memberikan data. Memang masih ada sebagian kecil yang menolak, tetapi jumlahnya sangat sedikit,” ungkap Herlina.
Ia menambahkan bahwa Sensus Ekonomi 2026 memiliki cakupan variabel yang lebih komprehensif dibandingkan periode sebelumnya. Jika sensus terdahulu menitikberatkan pada pelaku usaha terdaftar, kali ini pendataan turut memotret aktivitas ekonomi sektor pertanian rumah tangga hingga karakteristik bangunan tempat usaha.
BPS berharap hasil sensus kali ini mampu menghasilkan data kearsipan ekonomi yang lengkap, akurat, dan mendekati kondisi riil di lapangan. Data ini kelak menjadi pijakan krusial bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan dan program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
”Harapannya, kita memperoleh basis data yang komprehensif sehingga benar-benar menggambarkan potret ekonomi Kota Batu saat ini. Dengan demikian, kebijakan pembangunan daerah yang disusun kelak bisa lebih tepat sasaran,” pungkasnya. (Ananto Wibowo / Ra Indrata)




